Dilema Guide di Bali, Lebih Penting Bahasa, Budaya atau Ijin?
Previous
RANDOM
Bali Mendapat Kunjungan Miss Universe 2012 Olivia Culpo
Next
Pilihan
BEST!

6 Anggapan Keliru Tentang Orang Bali Yang Bikin Dahi Berkerut

by Gusti PutraFebruary 6, 2013
BEST!

Anggapan, lebih sering keliru ketimbang benarnya, termasuk anggapan (mungkin lebih tepat jika disebut ‘stereotype’) orang luar mengenai orang Bali.  Beberapa dari anggapan tersebut cukup membuat dahi berkerut, terutama ketika mendengar untuk pertamakalinya.

Membuat dahi berkerut karena anggapan-anggapan itu cenderung miring, mengagetkan sekaligus mengherankan; mengapa bisa ada anggapan seperti itu, atau apa yang membuat anggapan seperti itu ada?

Semeton Bali yang tinggal di Bali, mungkin tak pernah mendengar langsung. Tetapi yang tinggal atau banyak bergaul dengan orang luar Bali yang tak pernah ke Bali, sesekali pasti pernah mendengar pendapat mereka tentang orang Bali.

Saya pribadi pernah berada di luar Bali, di pulau Jawa persisnya—terutama di seputaran Jawa Tengah, Yogyakarta, Tangerang (Banten) dan Jakarta—meskipun tak terlalu lama. Selama bergaul disana (waktu itu saya masih di usia 20-an), cukup sering mendengar pendapat mereka tentang orang Bali, yang terusterang saja lumayan bikin ‘jengah.’

 

Tidak Bisa Bilang T? Jangan Minder, Pertahankan Ciri Khas KeBalianMu

Mengenai orang Bali yang tidak bisa mengucapkan “T” (baca: te) dengan ujung lidah menyentuh pangkal gigi depan, sesungguhnya bukan anggapan, tetapi fakta, mayoritas orang Bali memang demikian. Meskipun begitu, tetap saja mengagetkan ketika baru menyadari untuk pertamakalinya, bahwa itu adalah ‘sesuatu’ bagi mereka.

Pertama memperkenalkan diri di depan kelas Bahasa Inggris, begitu saya menyebutkan daerah asal “Bali”, guru saya bertanya, “benarkah di Bali banyak orang jual patung-patung?” Dengan polos saya bilang “iya”. Seketika itu juga seisi kelas tertawa ger-ger-an.

Parahnya saya tidak ‘ngeh’ mengapa mereka begitu geli, yang ada saya malah ikutan senyum-senyum tak jelas. Sampai guru saya bertanya lagi, “kalau hari Sabtu, penjual patung buka nggak?”

Belum sempat saya menjawab, guru Bahasa Inggris yang botak di bagian belakang itu sudah menyambar lagi dengan mengatakan, “Kalau di sini, toko sepatu Bata hari Sabtu tutup, tapi tukang tahu tempe tetap buka,” tentu dengan pengucapan “t” khas orang Bali. Sudah pasti seisi kelas tertawa lagi sekeras-kerasnya. Mereka yang kantung kemihnya agak ‘nenggel’ mungkin sampai terkencing-kencing saking gelinya.

Sudah seekstrim itu saya baru ngeh. Dan sejak saat itu, saya sudah tidak kaget lagi, bisa dibilang sudah kebal. Bagaimana tidak, mau di ruang kelas, di kantin, di halte bis, di atas angkot, bahkan sampai di tempat kerja, kawan karib hampir selalu meledek dengan meniru-niru logat saya yang waktu itu memang belum fasih mengucapkan huruf “t”, seperti logat mereka.

Yang sedikit agak menjengkelkan, kalau boleh disebut demikian, setelah disana betahun-tahun, bahkan sampai saya pindah ke Tangerang—untuk bekerja—dan sudah fasih mengucapkan huruf T ala orang sana, bisa berbahasa Jawa atau menggunakan logat Jakarta dengan sangat baik, entah mengapa masih saja diledekin oleh teman kerja di sana, seolah-olah pengucapan huruf T saya masih asli Bali.

Sakit hati? Terusterang, waktu itu, IYA.

Tetapi karena sudah agak dewasa (sekitar usia 23-24 tahun), saya mulai sadar dan bertanya pada diri sendiri:

  • Mengapa saya perlu berusaha keras untuk melafalkan huruf T ala mereka? Bukankah saya memang orang Bali?
  • Mengapa harus mengubah ciri khas saya sebagi orang Bali? Apakah merasa malu menjadi orang Bali?

Pada dasarnya saya bukan orang yang fanatik mengenai kesukuan dan agama. Sampai saat ini, setelah bertahun-tahun pulang ke Bali, saya masih sering menggunakan bahasa Jawa atau Sunda atau logat Jakarta—terutama ketika berkomunikasi dengan kawan-kawan yang ada di sana. Dan itu, samasekali bukan persoalan; hanya kulit luar; no big deal.

Kalau punya tambahan waktu, saya ingin mengajak semeton Bali, terutama yang banyak bergaul di luar Bali, untuk melihat satu perbandingan yang menurut saya cukup menarik—mungkin ada hal yang bisa dipetik:

Orang India, yang kebetulan pengucapan huruf T-nya mirip dengan kita di Bali, banyak yang bermigrasi ke negara-negara lain. Diantara mereka banyak yang lulusan PhD atau MBA dari 10 Universitas ternama di Dunia (Harvard, Princeton, Stanford, Northwestern, MIT, dan seterusnya). Tak sedikit juga yang menjadi professor/dosen di universitas-universitas tersebut, bahkan ada yang sampai menjadi Dean.

Amit Singhal

Amit Singhal, Senior Vice President, Google Inc.

Jika mau mendata mereka satu persatu, kita bisa menemukan minimal satu orang India yang duduk di kursi eksekutif perusahaan-perusahaan yang masuk kelompok ‘Fortune 100” di AS sana. Diantara mereka banyak juga yang menduduki posisi puncak macam Chief Executive Officer (CEO) dan Vice President.

Dan, rata-rata, mereka sudah beranak-pinak di perantuan—yang paling banyak mungkin di Inggris, Canada dan Amerika Serikat.

Apa yang menarik dari mereka? Mayoritas masih mengucapan T dengan logat India kental—mirip cara orang Bali mengucapkan T.

Hubungannya dengan orang Bali? Mungkin tidak ada. Satu hal yang jelas; logat pengucapan T dalam bahasa Inggris yang jauh dari native-nya, samasekali tak menghalangi mereka untuk bersaing di lingkungan global.

Pertanyaan berikutnya mungkin, apa hubungan antara mempertahankan ciri khas ke-India-an dengan kesuksesan mereka? Entahlah. Di lain kesempatan, mungkin perlu dicari tahu; apa hubungan antara memiliki akar yang jelas, rasa percaya diri/daerah/suku/ras, dan kesuksesan.

Setidak-tidaknya, mungkin kita bisa belajar dari mereka, orang India, yang tak pernah minder menggunakan logat aslinya di kancah global.

Sehingga, menurut saya pribadi, kiranya tak perlu melakukan koreksi apapun terhadap anggapan bahwa “orang Bali tak bisa mengucapkan huruf T”, bagaimanapun juga itu fakta, tak ada yang salah dengan itu, dan bukan sesuatu yang perlu membuat merasa malu apalagi minder. Justru pertahankan, karena itu mungkin menunjukan bahwa kita punya akar yang jelas, tidak mudah tercerabut—oleh karenanya pantas untuk dihargai.

Yang mungkin perlu dikoreksi adalah anggapan-anggapan, persepsi-persepsi, seterotype-stereotype, yang keliru tentang orang Bali. Tentu tidak dalam bentuk ucapan saja, melainkan koreksi dalam bentuk tindakan; buktikan bahwa anggapan-anggapan itu adalah keliru.

Dari pengalaman bergaul dengan orang di luar Bali, POPBALI menemukan setidaknya 6 anggapan keliru tentang orang Bali yang membuat dahi berkerut—terutama ketika mendengar untuk pertamakalinya, sebagai berikut:

 

1. Orang Bali Itu Santai

Terutama kaum prianya, dipersepsikan sebagai “santai”. Sepintas lalu, anggapan ini nampak seperti sanjungan; orang Bali bisa hidup makmur meskipun kerjanya santai. Siapa yang tidak ingin kaya tanpa kerja keras?

Tetapi, menjadi anggapan ‘miring’  ketika itu kemudian dikaitkan dengan perempuan Bali yang mandiri; seolah-olah, pria Bali itu santai-santai, sementara perempuannya kerja keras. Bahasa vulgarnya, “Pria Bali itu pemalas”.

Mereka yang sudah dewasa di tahun 90-an, sering disuguhi acaran televisi—terutama di hari Kartini (21 April)—mengenai kemandirian perempuan Bali, lengkap dengan tayangan klip beberapa perempuan Bali yang sedang ‘nyuwun’ (menjunjung) bawaan berat-berat, beternak, atau bekerja di sawah/ladang.

Orang Bali Pemalas

 

Menggunakan fenomena itu sebagai basis, mereka berkesimpulan bahwa perempuan Bali menjadi begitu mandiri karena PRIA BALI RATA-RATA PEMALAS; pekerjaannya hanya ‘mecik siap’ (pegang ayam jago aduan), metajen (judi sabung ayam) atau jadi mangku (pengantar doa), paling banter jadi pekerja seni yang hasilnya tak seberapa atau nongkrong-nongkrong di Kuta.

Stereotype ini tidak main-main, kawan saya yang berkuliah di UGM, bahkan konon memang diajari (oleh dosen)—dalam mata kuliah tentang etnik Bali—bahwa begitulah karakter orang Bali; Prianya pemalas, oleh karenanya para wanita Bali terpaksa harus bekerja keras.

Saya percaya pengajaran mata kuliah Antropologi di kampus, terlebih-lebih sekaliber UGM, sudah menggunakan kajian ilmiah, menggunakan basis data, bukan asumsi-asumsi. Namun penilitian ilmiah—yang menggunakan uji statistikal matematis sekalipun—tidak jaminan pasti menghasilkan simpulan yang valid, terutama jika sejak hipotesa awal sudah subyektif; ini akan diikuti dengan pemilihan data yang mengalami subyektif-selektif, lalu diuji dengan alat uji yang disesuaikan dengan karakter data—yang sejak diproses pengumpulan sudah terkontaminasi oleh ‘evidence-error.’

Dalam hal ini saya tidak ingin menyampaikan bantahan; saya hanya ingin menyuguhkan beberapa fakta yang jika ditambahkan kedalam study-study yang telah ada, mungkin bisa memperkaya:

  • Bahwa ada pria Bali yang hobi ‘mecik siap’ (pegang ayam jago) sepanjang hari, IYA, bahkan ada yang sampai punya kurangan dengan jumlah ayam jago yang mencapai ratusan ekor.
  • Bahwa ada pria Bali yang jadi pemangku (pengantar doa), IYA (ini profesi mulia, bukan tercela.)
  • Bahwa ada pria Bali yang menjadi pekerja seni—mungkin dengan hasil tak seberapa, IYA juga.

Mecik Siap

 

Fakta lainnya (yang tak boleh diabaikan begitu saja): Ekonomi Bali cukup maju, jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain; ada ribuan usaha dalam berbagai bidang—mulai dari pariwisata hingga agro bisnis, mulai dari usaha kerajinan sampe dealerships, forwarding company, textile, property, agencies dlsb. Di Bali juga ada kebun dan sawah—meskipun belakangan ini kian berkurang.

Nah, siapa yang menggarap itu semua? Siapa yang memadati jalanan kota Denpasar hingga macet setiap pagi dan sore hari? Apakah pria non-Bali semua? Berapa persentase jumlah pria non-Bali yang ada di Bali?

 

2. Orang Bali Penindas Perempuan

Masih menggunakan basis yang pertama di atas—dimana kaum perempuan di Bali rata-rata menjadi begitu mandiri, sementara prianya santai-santai. Ini dianggap bentuk penindasan, tidak melindungi kaum perempuan.

Disamping itu, anggapan yang sama juga lahir dari pengalaman mereka menikahi perempuan Bali dan tidak mendapat warisan. Berbeda dengan sistim kekerabatan di daerah lain dimana anak perempuan juga mendapat warisan—meskipun dalam porsi yang lebih kecil jika dibandingkan anak laki-laki.

Orang Bali Penindas Perempuan

 

Yang inipun saya tak ingin bantah, yang namanya anggapan ya boleh-boleh saja. Saya hanya ingin menyuguhkan fakta yang mungkin bisa menjadi bahan pembanding:

Bahwa pria Bali membiarkan kaum perempuannya bekerja dan menjadi mandiri, IYA. Tapi bukan karena mereka malas. Pria Bali juga bekerja seperti pria di daerah lain. Bedanya, di Bali, tidak ada prinsip:

“Istri cukup di rumah, momong anak, urus dapur, menunggu suami pulang kerja dan melayaninya.”

Tidak ada.  Orang Bali berprinsip,  semua gender (laki maupun perempuan) sama-sama berhak untuk berkarya, mengkatualisasikan diri, dan mengambil pernanan dalam mensejahterakan keluarga. Ini bentuk EQUALITY = KESETARAAN, tentu substansinya jauh berbeda jika dibandingkan dengan bentuk penindasan. Jangankan menindas, mengekangpun tidak.

Konsep kesetaraan pria-dan-wanita di Bali, juga bisa dilihat dari pertunjukan ‘Arja’ dan ‘Sendratari’ (seni teater tradisional Bali) dimana antara wanita dan pria sering bertukar peran. Misalnya: Karakter Arjuna (pria) diperankan oleh pemain wanita, di sisi lainnya karakter Galuh Liku (wanita) diperankan oleh pemain pria.

Bahwa anak gadis (perempuan) di Bali tidak mendapat warisan secara resmi, juga IYA. Tetapi sebelum menganggap itu bentuk penindasan, kiranya perlu diketahui bagaimana sistim pembagian waris di Bali, yang saya yakin tak banyak diketahui oleh orang dari luar Bali.

Hal pokok yang perlu diketahui bahwa, HAK atas warisan di Bali disertai oleh KEWAJIBAN menjalankan fungsi-fungsi sehubungan dengan tanah warisan tersebut (istilah balinya “negen” atau memikul tanggungjawab). Setiap bidang tanah warisan di ‘empu’ (empon) oleh Pura, setidaknya pura keluarga yang disebut “pemerajan”. Pura-pura dan Pemerajan perlu diupacarai, di’odalin’, secara berkala. Proses penyelenggaraan upacara/odalan memakan biaya yang kadang-kadang tidak sedikit. Dari mana dapat uang/barang untuk itu? Dari hasil mengolah tanah warisan.

Perempuan Bali yang menikah, otomatis memasuki sebuah keluarga baru yaitu keluarga suaminya. Saat itu, kewajibannya untuk menyelenggarakan upcara dan odalan di rumah asalnya, dihapus, di satu sisinya. Di sisi lainnya, dia memeproleh hak sekaligus kewajiban baru di keluarga suaminya, termasuk hak atas harta sang suami (secara bersama-sama) dan kewajiban untuk menyelenggarakan odalan dan upacara juga secara bersama-sama.

Sehingga, bisa dibilang, kaum perempuan Bali memang kehilangan ‘HAK’ sekaligus kehilangan ‘KEWAJIBAN’ ditempat asalnya—ketika menikah, tetapi mendapat ‘HAK’  dan ‘KEWAJIBAN’ di tempatnya yang baru dimana dia diambil anak oleh keluarga pria yang menikahi. Apakah itu tidak cukup adil?

 

3. Orang Bali Itu Bodoh

Anggapan ini khususnya ditujukan pada perempuan Bali. Dianggap bodoh karena 2 alasan.

Alasan pertama, mau saja disuruh kerja keras sementara laki-lakinya pada santai. Ini jelas masih menggunakan basis pertama. Ini dianggap suatu kebodohan mungkin, sekalilagi mungkin, karena perempuan non-Bali jauh lebih santai dibandingkan perempuan Bali; Kalau ini dianggap suatu keberuntungan, MUNGKIN. Tapi kalau suatu bentuk kecerdasan, rasanya masih perlu dipertimbangkan lagi.

Alasan kedua, ini agak personal. Saat di Jakarta saya berkenalan dan berkawan akrab dengan gadis asal Bali tetapi lahir dan besar di Jakarta, kebetulan dia masih beragama Hindu, sehingga sering ngobrol di Pura (Rawamangun). Suatu ketika dia bercerita tentang bagaimana Mamahnya (yang kebetulan non-Bali) menasehati dirinya. Isi nasehatnya, kurang lebih seperti ini:

“Kamu memang orang Bali [dari darah bapak], tetapi kelak kalau sudah menikah, mama nggak mau kamu seperti perempuan Bali yang tak peduli menjaga penampilan di depan suami. Suami pulang kerja harus disambut dengan penampilan yang bersih dan menarik, supaya suamimu tidak main-main di luar”.

Ingin rasanya tergelak mendengar cerita kawan saya itu. Tetapi tak seberapa lama tiba-tiba saja terbayang wajah Ibu saya di desa (di Bali) yang seingat-ingat saya tak pernah berdandan dengan bedak tebal, alis dicukur plontos lalu diganti dengan pensil alis supaya nyeririt—‘medon intaran’ dan gigi pakai behel dengan gincu tebal di bibir—supaya ‘ngembang rijasa’. Tak pernah sekalipun.

Orang Bali Itu Bodoh dan Bebal

 

Ayah saya meninggalkan ibu dan kami sekeluarga, selamanya, sejak saya masih duduk di bangku kelas I SMA. Praktis sejak saat itu hingga hari ini (2013) beliaulah yang menjadi tulangpunggung sekaligus pancer keluarga kecil kami. Beliau (Ibu saya) mampu membesarkan dan mendidik kami (anak-anaknya) hingga dewasa, seorang diri, tentu bukan karena sesuatu yang bersifat instant, melainkan karena sejak muda hingga menikah sudah terbiasa menjadi wanita mandiri, ikut mengerahkan pikiran dan tenaga dalam menjaga kelangsungan hidup keluarga yang kebetulan dari golongan kurang mampu.

Apakah saat itu saya merasa beruntung bisa duduk berdampingan dengan seorang gadis Bali modern kelahiran Jakarta yang pintar menjaga penampilan supaya selalu menarik—yang menurut pandangan orang luar sana mungkin dianggap lebih cerdas?

Entahlah, tak ingat persis. Mungkin hanya badan yang ada di sana, sementara pikiran saya melayang jauh ke sebuah desa di ujung Utara pulau Dewata. Saya merasa beruntung memiliki Ibu (seorang perempuan Bali) yang, mungkin karena kekurangcerdasannya, lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dibandingkan berdandan, meskipun kami anak-anaknya tak pernah menuntut beliau seperti itu. Jika tidak, saya tak tahu nasib seperti apa yang kami anak-anaknya harus terima saat ini.

Egois? Bisa jadi.

Tapi saya, sekalilagi, bangga telah terlahir dari seorang Ibu—perempuan Bali—yang mungkin tidak bisa disebut cerdas, namun tahu keadaan, tahu menempatkan prioritas; memilih bekerja keras dibandingkan berdandan untuk menarik perhatian duda yang bisa mengambil-alih tugasnya—mungkin tidak cerdas, tetapi tahu caranya menjadi Ibu yang bisa dibanggakan oleh anak-anaknya.

 

4. Orang Bali Doyan Judi

 

Orang Bali itu Penjudi

Khususnya pria Bali. Anggapan ini bersumber dari pengetahuan umum (literature ke-etnik-an, media cetak dan televisi) tentang pria Bali yang memiliki kebiasaan ‘metajen’ (judi sabung ayam) yang konon—menurut sumber-sumber tersebut—tak bisa dilepaskan dari adat dan tradisi Bali.

Betul. Salahsatu adat Bali—yang hingga kini masih lestari—adalah adat ‘Tabuh Rah’ yang lumrah dilaksanakan pada upacara tertentu sebagai bagian dari pelaksanaan ‘Butha Yadnya’ (=pengorbanan suci bagi para Butha, agar mereka tidak menganggu keharmonisan alam sekala dan niskala – alam material dan immaterial).

Dalam tradisi Tabuh Rah, ayam jago di adu, TETAPI tanpa judi. Bahwa kemudian berkembang menjadi perjudian, tentu itu lain cerita. Sabung ayam, seperti di daerah lain (silahkan baca cerita rakyat luar Bali yaitu “Cindelaras”), adalah salahsatu bentuk perjudian yang sudah ada sejak jaman dahulu kala.

Mereka yang ingin study tentang judi dalam omset besar, saya pikir, perlu menggunakan Jakarta, Medan dan Surabaya sebagai sample data yang lebih valid—tentu akan menghasilkan simpulan yang lebih valid juga.

 

5. Orang Bali Doyan Mabuk

 

Orang Bali Doyan Mabuk

Sama seperti judi yang diakitkan dengan tradisi ‘Tabuh Rah’, stereotype bahwa orang Bali doyan mabuk, juga, konon menurut mereka, tak bisa lepas dari tradisi orang Bali yang menggunakan alkohol (tuak, arak, berem) dalam berbagai upacara keagamaan).

Itu betul. Tetapi penggunaan alkohol dalam persembahyangan dan upacara-upacara keagamaan—misalnya: menuangkan arak tabuh ke tanah sebelum mulai ‘muspa’ (berdoa)—adalah bagian dari ‘Butha Yadnya’ yaitu: pengorbanan suci kepada para Butha agar tidak mengganggu jalannya upacara/persembahyangan, BUKAN untuk diminum atau mabuk-mabukan.

Bahwa ada orang yang doyan minum alkohol, IYA, tentu saja orang Bali tak ada bedanya dengan orang daerah lain, ada juga yang seperti itu. Tetapi bukan berarti mereka semua doyan mabuk. Bayangkan, tidak usah semua, kalau mayoritas orang Bali saja doyan mabuk, apa yang terjadi? Tentu tidak akan ada pembangunan dan kemajuan ekonomi seperti sekarang, bukan?

 

6. Orang Bali Penganut Seks Bebas (Free-sex)

Seks bebas (free-sex), dalam hal ini, adalah melakukan hubungan badan sebelum terikat dalam perkawinan (menikah). Anggapan ini berangkat dari 2 kondisi, di Bali, yang kemudian dijadikan stereotype, yaitu:

Orang Bali cenderung premisif—tidak tegas-tegas menolak atau melarang—terhadap keberadaan perempuan atau laki-laki yang menggunakan pakaian terbuka (istilah mereka “pamer aurat”). Yang banyak disoroti dalam konteks ini adalah para turis yang begitu bebasnya menggunakan bikini atau celana pendek di tempat-tempat umum seperti pantai atau jalanan di sepanjang Kuta dan legian, tanpa pernah ditegur.

Orang Bali Penganut Seks Bebas

Orang Bali juga cenderung premisif terhadap keberadaan segelintir orang yang menjalankan kehidupan secara ‘samen-leven’ (hubungan tanpa status, kumpul kebo) di tempat-tempat kost atau rumah-rumah kontrakan.

Bahwa pemerintah Bali tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi tentang keduanya, IYA. Bahwa masyarakat Bali nyaris tak pernah melakukan razia-razia dengan inisiatif sendiri untuk menolak keberadaan perilaku itu—seperti yang dilakukan oleh FPI—juga, IYA.

Ada 2 pertanyaan penting, dalam konteks ini, yang perlu dijawab:

  • Apakah karakter yang cenderung premisif itu dapat, dengan serta-merta, diartikan sebagai penganut seks bebas?
  • Seberapa efektif pernyataan yang tegas-tegas menolak keberadaan suatu perilaku menyimpang dalam masyarakat? Seberapa efektif razia-razia frontal—seperti yang dilakukan di luar Bali—dalam menekan praktek perilaku menyimpang seperti itu?

Untuk mengukur efektifitas, tentu harus melihat outputnya. Coba kita lihat kasus anak tanpa orang tua. Dimana kasus pembuangan bayi yang lebih banyak terjadi antara di Bali dan luar-Bali; di panti asuhan mana lebih banyak terdapat anak tanpa orang tua antara di Bali dan luar-Bali. Sebelum ada komparasi data semacam ini, stereotype ini kiranya terlalu mengada-ada.

Bagaimana dengan hubungan seks di luar nikah yang tak menghasilkan anak, atau diikuti dengan proses pernikahan setelah hamil? Mengukur ini di Bali sama sulitnya dengan mengukur hal yang sama di luar-Bali.

Meskipun mungkin bikin dahi berkerut, agak kaget, campur heran, yang namanya anggapan ya tetap anggapan, stereotype tetap stereotype; sebagiannya—dan sampai pada derajat tertentu—mungkin benar, sementara sebagiannya lagi mungkin tidak benar dan cenderung tak berdasar.

Meskipun kitalah seharusnya yang paling tahu tentang siapa dan bagaimana kita yang sesungguhnya, mengabaikan penilaian orang lain mungkin bukan langkah yang bijak. Jika mau mengambil sisi positifnya, ‘pandangan miring’ bisa dijadikan bahan instrospeksi diri, untuk perbaikan-perbaikan kedepannya. Kita di Bali berprinsip, “depang anake ngadanin”, biarlah orang lain yang menilai, menganggap, mempersepsikan atau bahkan men-stereotype-kan. Orang Bali tetaplah orang Bali, orang Bali yang punya akar dan karakter jelas.

Share yang bermanfaat
Reaksi anda?
Bagus Banget!
79%
Keren!
7%
Wiih!
7%
Prihatin!
0%
Menjengkelkan!
0%
Membosankan!
7%
Lucu!
0%
Bingung!
0%
Gusti Putra
Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudukan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya. Dalam banyak kesempatan mungkin begitu ngotot dalam mengadvokasi Bali, namun di kesempatan lain ia juga kerap mengkritisi dengan sentilan-sentilan halusnya. Follow Gusti Putra di:

Komentar via FB

31 Comments
Leave a response
  • fitri
    February 7, 2013 at 2:42 am

    Hmm..dapat pengetahuan lengkap deh, jd terinpirasi juga pengen nulis soal logat padang y sll jd olok2 ketika berbicara oleh orang2 luar padang…

  • byan
    February 17, 2013 at 3:24 am

    ya kalau mendengar seperti memang salah besar,,ya kita sebagai orang bali hanya berbekal positive saja dan inget jengah itu saja

  • tut pande
    March 10, 2013 at 8:55 pm

    Membuat pagi ini terasa hangat,, suksma bli

  • dimas
    March 12, 2013 at 10:06 am

    Saya secara personal merasa terbantu dengan informasi yang di berikan Gek Putra tsb, salam dan smg dapat terus memberikan informasi berkaitan.

  • Rama
    March 22, 2013 at 1:44 pm

    Kalimat “…sesungguhnya, mengabaikan penilaian orang lain mungkin bukan langkah yang bijak. Jika mau mengambil sisi positifnya, ‘pandangan miring’ bisa dijadikan bahan introspeksi diri, untuk perbaikan-perbaikan kedepannya.” sangat saya sukai. Memang benar penilaian adalah bahan introspeksi diri.

  • suksma
    April 3, 2013 at 6:52 am

    saya non bali yg sangat suka dengan bali, beberapa statement bisa dimasukkan kategori anggapan dan bisa ditolerir tetapi kalo untuk point ketiga itu jelas jelas salah,..kalo ada yg ngomong gitu tonjok aja bli
    satu lagi anggapan yg sekarang banyak beredar dan mohon maaf saya juga sedikit banyak ikut mengamini, di denpasar kurang tertib berlalu lintas, padahal denpasar tidak cuma salah satu kota besar di indonesia tetapi juga termasuk kota internasional

  • dino
    April 5, 2013 at 5:36 pm

    beberapa point menarik yang dibahas di atas seperti problematika dialek, kesetaraan gender, budaya ke”Barat-baratan”, hingga judi dan mabuk-mabukan sebenarnya masalah general yang juga dihadapi banyak daerah di Indonesia, tidak hanya di Bali. Saya sendiri, seorang non-Bali yang telah lama tinggal di Bali (kurang lebih 18 tahun) tidak pernah menganggap hal-hal tersebut sebagai stereotip yang melekat pada warga Bali. Ketika saya memutuskan untuk pindah dari Bali & berinteraksi dengan masyarakat di luar Bali – baik yang mengenal pulau tsb dngan ala kadarnya hingga mengenal budayanya – tidak pernah ada yang menyinggung masalah2 yang disebutkan diatas, kecuali untuk masalah kasta yang memang berimbas pada isu bias gender (sering menjadi cth kasus dalam kuliah antropologi & kajian perempuan). Selain itu, tidak ada yang menggoda saya yang mengucap “T” dengan sangat kental. Yang ingin saya katakan disini, jangan smpai masyarakat Bali terlalu sensitif & insecure terhadap kebiasaan2 kecil tsb, masih banyak isu-isu makro yang harusnya mendapat ruang perhatian lebih mendalam. Lihatlah dunia & berpikir secara global. suksma.

  • nym_artopraph
    April 8, 2013 at 7:40 am

    Artikel yang cerdas dan sangat menarik. Semoga ini bisa menjadi bahan refleksi buat kita orang bali agar bisa lebih baik dan bisa menghilangkan stigma negatif yang selama ini sudah menjadi sebuah stereotype orang luar bali

  • i gede kertiyasa
    April 8, 2013 at 11:06 am

    tetap semangat menyongsong hangatnya sinar pagi untuk bekal hari berkarya..bali.bali.bali

  • I Gede Puja A.
    April 8, 2013 at 5:59 pm

    Saya sendiri sebagai orang Bali yg sekarang sedang menempuh pendidikan di luar Bali, beberapa kali mengalami “olok2an” seperti pengucapan “T” di atas…tapi saya merasa, ah biar saja lah, itulah ciri khas orang Bali (saya setuju dgn pendapat di artikel di atas)..dan saya sangat bangga menjadi orang Bali…

  • putu yudi
    April 9, 2013 at 8:34 am

    Pertahankan penerapan catur varna dan catur asrama dharma dengan benar, then we live forever

  • komangsa
    April 26, 2013 at 12:20 am

    kalo tentang cercaan dan makian tak usah terlalu ditanggapi, bikin habis energi aja, tapi kita tunjukan dengan karya, aku juga orang Bali pengembara, ..bahkan istri juga non Bali… tetapi dari keluarga istri bilang ” Lebih Baik tak se Iman tapi berhati Malikat dari pada se Iman berhati Iblis” ….salam buat semuanya.

  • Arie Lestari
    April 26, 2013 at 2:06 pm

    Bali bagiku indah..hampir 3thn di Buleleng (yang kata orang kebanyakan termasuk daerah Bali yang wataknya sangat keras menurut teman2ku di Buleleng sendiri) banyak yang aku dapatkan di sini..ya budaya..adat istiadat..gotong royongnya..ketaatan mereka melakukan persembahyangan..toleransinya..alangkah membuat saya merasa nyaman tinggal di sini..mereka dengan sabar menjelaskan adat mereka bila saya tanya..mengapa begini..mengapa begitu..kenapa harus meletakkan canang sari setiap pagi dan sore di setiap plangkiran juga sanggah..betara surya dan penunggu karang..kenapa kita ngejot setelah kita masak untuk makan sehari2..kenapa setiap bulan buat canang raka di setiap purnama dan tilem..mengapa ada upacara lain selain galungan dan kuningan..di sini aku mengenal pagerwesi,saraswati tumpak landep,tumpak kandang,siwalatri,bahkan nyepi pun ada nyepi nasional dan nyepi banyuning..begitu banyak hari raya (rainan),odalan,otonan,dan upacara2 lainnya..yang pernah saya tanyakan biayanya tidak sedikit..tapi mereka mampu melakukannya..demi ketaatan mereka pada apa yang mereka yakini..dan itu berarti masyarakat Bali amat kaya..dari informasi yang saya dapatkan dari teman2..hampir 265 hari dalam setahun mereka melakukan persembahyangan..saya sangat menghormati saudara2ku di tempatku berada saat ini..dan saya bahagia menjadi bagian dari mereka..* maaf bila ada kata-kataku yang salah bagi pembaca dari masyarakat Bali,tiada maksud,mungkin karena saya belum belajar banyak dari kebudayaan anda*

  • suf
    April 29, 2013 at 4:40 pm

    bli, saya non bali tpi saya suka banget ama bali dan smua yang berhubungan dengan bali,,,,,
    jadi sayang banget klo bli, minder cma gara-gara logat huruf ‘t”.
    justru logat bali itu punya nilai ples di mata saya, dan logat bali tu keren banget lo bli,,,,,,,

  • awe ng
    June 15, 2013 at 8:38 am

    Behh siapa yang Nulis dan berpendapat seperti itu???.
    Itu hanya perasaanmu saja. aku dah hampir 40th di Luar Bali, dapat istri luar bali, dan berkarier di jauh dari lingkungan orang bali. aku ketemu Nyame Bali jika Sembahyang ke Pure saja.

    Sebagai marketing aku sering ngobrol dari berbagai lapisan masyarakat luar Bali. Sebetulnya pandangan mereka terhadap orang bali cukup bik seperti:
    Orang Bali itu Jujur – kareana mengenal Karma
    Orang Bali itu setia terhadap pasangan – menurut mereka jarang di temukan keluarga orang Bali ada masalah
    Orang bali itu pemberani kalau benar.
    Semoga pandangan orang spt inii menjadi pemacu bagi oarang bali untuk memperbaiki diri dalam bermasyarakat di luar Bali khususnya di Jakarta.
    Gak tau kalo orang Bali di Bali sendiri kan Penelitian bilang 40% orang Bali di Bali sakit Jiwa

    Salam

  • Kokobob
    July 12, 2013 at 1:01 am

    Soal diketawain gara2 aksen, saya jadi ingat hari pertama saya P4 di USAKTI Jakarta, baru ngomong 1 kalimat memperkenalkan diri aja langsung diketawain orang sekelas karena “medok”. Imut juga memang orang2 Jakarta yg suka bilang “lu dari Jawa ye?”, kayak lupa kalau Jakarta itu masih terletak di pulau yg sama.

  • hery
    July 17, 2013 at 12:23 pm

    baru singgah di website ini, saya walaupun punya darah jawa tapi sdh sejak kakek moyang lahir, besar dan menetap di bali, ketika daulu masih kuliah dan kerja di surabaya dan jogja, saya jg tidak jarang di guyonin dengan kata2 “beli patung” itu dengan logat “T” yg khas bali, awal2 sih risih jg, tapi lama2 biasa aja, anggap sebagai ciri khas pribadi aja, sama juga dengan teman2 dari daerah lain yang gak bisa bilang “M” sehingga ITB itu berubah jadi ITM Institut Teknologi Mbandung,pergi ke Bali jd pergi ke Mbali, atau ada yg gak bisa bilang “F” sehinga Pitnah lebih keji dari…. ya biasa aja gak usah minder, toh jg keragaman budaya indonesia

  • rofiqul
    July 25, 2013 at 11:42 pm

    kalo di jawa itu juga ada logat yg sering dipuja (baca: ditertawakan) orang jawa kebanyakan, yakni logat jawa ngapak , logat orang tegal, slawi dan sekitarnya. yah, mungkin dianggap lucu karna berada di luar tempatnya. so what geetoo loh? itu malah unik. apapun logatmu pd aja kalik. menambah khazanah budaya nusantara. itu bukti kalo kita emang kaya budaya kan. kalo diertawakan, tertawakan balik ajah. bahkan logat anak anak gaol jakarta pun lucu lho kalo berada di makassar (he3, mereka diketawain habis2an). yah, namanya beda logat ,diluar tempatnya pasti menarik dong. kalo stereotip ttg orang bali yg di atas, ehm… menurutku nggak deh. q mikirnya positif aja.
    jgn sampe perbedaan membuat kita tdk rukun bersatu kawan!

  • Wayan Bagus
    July 26, 2013 at 7:32 am

    Tiang nak Bali, saya setuju dengan stereotif orang Bali suka judi dan mabuk dan juga sex bebas. Paling tidak begitu yang saya lihat. Dalam setiap kesempatan selalu ada saja celah untuk berjudi. Terutama saat2 ada acara adat. Seperti ngaben dan lain2. Malam harinya mereka pasti maceki.

    Generasi Bali kebanyakan suka matuakan dan minum arak. mereka lebih suka mabuk dan berjudi.

    Kalau anda tinggal di denpasar dan sekitarnya pasti taulah bagaimana orang2 diasana kumpul kebo. Bahkan sudah menjadi fenomeman dimana orang menikah setelah hamil. Mungkin ini terjadi ditempat lain diluar Bali juga tapi orang2 tuan Bali begitu permisif sehingga hal seperti ini dibiarkan begitu saja.

    Kembali ke matajen…apa anda tidak pernah mendengar sebuah pura mengadakan tajen untuk membiayai pembanguna pura itu? Apa anda tidak berpikir kalau orang Bali membangun pura dari hasil judi?

    Itu semua masa lalu tapi kita sebagai generasi mudah hendaknya meninggalkan tradisi seperti itu. Saya tidak bilang kalau moralnya rendah sebaliknya saya bangga terlahir sebagai orang Bali. Kita boleh memilah dan menyaring adat istiadat mana yang kita rasa bagus dan yang jelek dibuang saja.

    • De Bara Polos
      July 26, 2013 at 2:52 pm

      To: Wayan Bagus
      Siapa ja bisa ngaku-ngaku orang bali. Bisa bilang tiang nak bali bukan berarti orang langsung percaya kamu orang bali. Bisa bahasa bali bukan berarti org langsung percaya kamu itu nak bali. Siapa yang nggak tahu perangai kalian yg seperti musang berbulu ayam, di depan bungkuk-bungkuk dibelakang menghujat kita? Di depan kita kalian ngaku-ngaku orang bali, mencintai bali, peduli terhadap bali. Tapi di belakang kita kalian ingin menguasai bali, mengubah wajah bali seperti yang kalian mau.

      Dulu orang bali memang polos-polos sehingga mudah dikelabui oleh orang-orang palsu dan munafik seperti kalian. Era sekarang ini semua orang tahu kepalsuan dan kemunafikan kalian yg jadi parasit di pulau kami. Untung bali ini masih di wilayah indonesia, jadi kalian masih dibiarkan numpang di bali.

      Kamu itu ngerti nggak apa arti kata stereotype? Aku kasih tahu ya, komentarmu itulah yang disebut stereotype, anggapan dan generalisasi tanpa bukti.

      Kamu bilang sebagian besar anak muda bali suka “matuakan”. Dari kata matuakan yang kamu pakai aku langsung tahu kamu itu non-bali yang ngaku-ngaku bali. Mungkin kamu lahir atau lama tinggal di bali, tapi bukan berarti kamu suku bali. Orang bali asli nggak bilang “matuakan”, tapi metuakan.

      Pertanyaanku sekarang, berapa persen pemuda bali yang suka minum tuak/mabuk? Kamu bilang sebagian besar artinya sekitar 60 persen ke atas, 6 dari 10 pemuda bali pasti doyan mabuk. Apakah kamu sudah melakukan penelitian? Jika sudah dimana hasil penelitianmu dipublikasikan? Palingan bual, typikal asli kalian yang memang rata2 pembual.

      Pembangunan Pura dibiayai dengan tajen? Bisa sebutkan pura mana? Berapa rupiah biaya pembangunan puranya? Lalu berapa rupiah hasil dari tajen yang digunakan utk membangun pura? Apakah ucapanmu bisa dipertanggungjawabkan? Sebab ini mengarah ke fitnah, sudah masuk ranah kriminal.

      Kalau cuma asumsi dan anggapan, nggak usah diomongin di sini. Kalian ada di luar lingkaran kami, sama ssekali tak tahu yang ada di dalam. Kalian memang typikal pembual, bicara tanpa fakta. Cari makan di bali pun kalian hanya bermodal bungkuk-bungkuk dan bualan.

      Terus kamu bilang banyak yang kumpul kebo. Seperti sudah disebutkan di artikel ini, memang ada ulah segelintir orang seperti itu di rumah-rumah kontrakan di perkotaan. Terus apakah itu yang kamu jadikan dasar penilaian bahwa bahwa orang bali itu penganut sex bebas? Jangan2 yg melakukan ini rata2 pendatang/orang kost seperti kalian yg di kampung halamannya sok suci, tapi ketika tinggal di bali kumpul kebo? ha?. Stereotype org2 palsu spt kamu inilah yang sangat keji dan menyakitkan bagi kami orang bali.

      Kamu bilang mereka hanya menikah kalau sudah hamil. Ini bukti lainnya yg menunjukkan kalau kamu itu bukan orang bali, tapi non-bali yg ngaku-ngaku orang bali, orang di luar lingkaran orang bali tapi ngaku-ngaku tahu. Orang bali jarang pakai istilah menikah. Kata menikah itu typikal bahasa kalian yang sok suci, sementara banyak kaum perempuan kalian yg tidak hanya hamil di luar nikah, melainkan jadi pelacur abadi di sepanjang jalan pantura, dolly, dll. Orang bali biasanya bilang perkawinan bukan pernikahan.

      Dan pernyataanmu yg mengklaim banyak pemuda/pemudi bali yang baru menikah setelah hamil, itu juga bual, generalisasi. Memangnya berapa banyak yg seperti itu? Sudah kamu riset? Berapa persen kejadian spt itu? Dimana hasil risetmu dipublikasikan? Hati-hati beropini bung, jangan main fitnah.

      • Gusti Putra
        July 26, 2013 at 5:30 pm

        Bli @De Bara. Mohon tidak pakai emosi, “depang anake ngadanin.” Yang penting Bli @De tidak seperti itu. Bahwa Bli @Wayan Bagus membenarkan stereotype2 tsb, tenu itu hak nya, bisa jadi karena yang bersangkutan sendiri pernah ada dalam kondisi seperti itu atau setidak-tidaknya pernah berada di dalam lingkaran yang seperti itu.

        Masing-masing dari kita otentik/unik.

        Kita ambil himbuan positifnya (di paragraf terakhir) saja. Sama seperti tulisan ini, silahkan ambil positive-nya dan buang negativenya.

        Suksma

      • adri
        September 30, 2014 at 7:11 pm

        Bli @ de bara good job, ampunang icen anak sekadi nike menginjak bali…. tiang senang sareng paparan balik bli de bara buat wayan bagus

  • I Wayan Murdana
    August 3, 2013 at 8:10 am

    Sebagai orang yang berdarah Bali, yang tumbuh besar di luar Bali. Sangat Bangga Jadi ORANG BALI. Mari kita tingkatkan nilai-nilai positif orang Bali dan minimaze hal-hal negatif tentang orang Bali.

  • nova
    September 15, 2013 at 7:52 am

    saya bangga menjadi orang bali

  • Komang
    September 17, 2013 at 12:28 am

    Di sekolah saya malah orang Bali di junjung karena terkenal pintar, cerdas dan tekun. Walaupun tetap ada sindiran-sindiran seperti itu
    Yah terima dan nikmati saja, prinsip “Depang anak ne ngadanin” itu dipegang teguh
    Tetap bangga menjadi orang Bali

  • agus
    November 18, 2013 at 10:59 pm

    Saya sering melihat para mahasiswi bali univ Udayana di kos-kos an seolah tanpa malu ke tetangga kamar dia mengajak nginep cowoknya di kamarnya dan ini gonta-ganti cowok! Hal itu juga kadang dibiarkan saja oleh tuan rumah kosnya?? Ini bukan hanya satu mahasiswi saja lho..
    Bisa minta pencerahan?? apakah ini tentang moral atau yg lainnya??
    Tolong jawaban positif,kalo menyinggung maaf gak usah emosi :-)

  • deni
    December 13, 2013 at 3:35 pm

    Bali? Apa itu bali? Bali maju juga karena pendatang, mana ada perusahaan” besar yg bercokol di bali punya org bali.. Hadeh.. Lepas aja dah itu bali dari Indo, paling” dijajah Aussie or Amrik, trus penduduk lokalnya dijadiin babu”nya.. Indo masih punya NTT NTB yg lebih cantik pariwisatanya

  • deni
    December 13, 2013 at 3:44 pm

    Untuk urusan lonte di bali memang banyak dari kalangan pendatang, itu karena mayoritas.. Sama aja kyk di india, lonte paling banyak disana ya org india.. Bodoh yg ngomong mslh lonte, dmn” itu tergantung dari mayoritas

  • dani bandung
    February 15, 2014 at 5:44 pm

    Bali? saya mencintai bali sejak saya menikahi istri saya yang asal bali (asli apa tidak saya gk bgitu peduli tapi kawitanya blahbatu karangbuncing) maaf harus saya diktekan karena sedikit terpancing omonganya si de bara polos yang sok bali asli…anyway, bali merupakan tempat yang sempurna bagi siapapun akan tetapi kalau bukan kita (ASLI BALI ATAU PENDATANG ATAU BAHKAN MAHLUK ALIEN) yang tinggal di bali, wajib hukumnya ikut menjaga dan melestarikan ke ajegan bali.

  • Aan
    February 27, 2014 at 1:14 am

    Terima kasih. Uraian yang bagus dan cukup lengkap. Sangat perlu dibaca untuk introspeksi diri sebagai orang Bali. Karena pandangan atau penilaian orang luar Bali / asing, ada benarnya, walaupun relatif / dengan membandingkan. Namun ada banyak positifnya. Itulah orang Bali, yang terbentuk dari alamnya dan budayanya. Pertanahankan yang baik dan sesuaikan yang kurang baik dengan jaman.

  • Wulandari
    April 14, 2014 at 11:42 pm

    buseettt daaahhhhhh rammee niiyhhh hehehe….. maav sodare-sodare yang banyak beargumentasi tentang BALI,ane orang Jakarte yang beloman pernah ke BALI (kasiyan yee…) ane punya pendapat LOGAT bahasa adalah Kekayaan Budaya yang menjadi ciri khas dari daerah mana kita berasal harus di lestarikan,karna mungkin masing” orang beda suku dan tdk setiap hari dari org”tsb mendengar LOGAT bahasa yang biasa di gunakan jd menganggap aneh hal itu,CUEKIN aje !!! di Jakarta bnyk ko org” perantauan yg bicaranya sesuai logat daerah masing” tp bagi saya itu adalah suatu Keindahan Budaya Indonesia. dan utk masalah stereotype di ambil hikmah positivenya saja :)) sekian pendapat saya,maav dan terima kasih.

Leave a Response

SINDIKASI & REPUBLIKASI: Hanya diijinkan bila (1) untuk non-profit (2) mencantumkan popbali.com sebagai sumber disertai link. Selain cara ini tidak diijinkan.