Apa itu Tax Amanesty, Apakah Saya Wajib Ikut dan Bagaimana Caranya?


Pengampunan Pajak Tax Amnesty

Program Pengampunan Pajak (tax amnesty) sebenarnya sudah ditawarkan sejak bulan lalu. Namun sampai saat ini masih menyisakan banyak pertanyaan dan kebingungan di dalam masyarakat, termasuk di kalangan semeton Bali. Apa itu tax amnesty? Apakah saya wajib (atau perlu) ikut? Bagaimana caranya? Bagaimana jika tidak ikut? Dan lain sebagainya.

Bahkan beberapa media merilis, katanya, program pemerintah ini sudah menimbulkan keresahan, saking minim dan simpang-siurnya informasi yang tersedia.

Pertanyaan yang paling sering disampaikan oleh publik adalah:

“Ada nggak penjelasan yang gamblang thus mudah dipahami?”

Saran saya, pertama dan yang paling utama: Datanglah ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dimana Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) semeton diterbitkan, temui account representative (AR)-nya di sana, dan konsultasi sepuasnya mengenai pengampunan pajak (tax amnesty.) Jika dirasa penting, saya pikir, tak ada salahnya meluangkan waktu khusus.

Tetapi saya paham jika tidak semua semeton punya waktu untuk datang dan bertanya langsung ke kantor pajak. Karena alasan inilah maka saya angkat topik ini, mudah-mudahan bisa menjelaskan tax amnesty dengan gamblang thus mudah dipahami.

Sebelum lebih lanjut, perlu saya sampaikan bahwa saya bukan pegawai pajak, juga bukan ahli di bidang ini. Tetapi, di masa lalu, saya pernah menjadi Financial Controller (FC) untuk beberapa perusahaan swasta. Salahsatu fungsi utama saya di posisi itu adalah mengelola risiko-risiko, diantaranya risiko bisnis, risiko operasional, risiko keuangan, dan risiko legal/litigasi. Perpajakan tergolong risiko keuangan sekaligus risiko legal/litigasi. Walaupun sudah lama undur-diri dari hirup-pikuk perusahaan (sejak 2010) dan memilih bekerja di rumah, saya masih mengikuti perkembangan perpajakan, termasuk perihal tax amnesty yang hangat belakangan ini.

Balik ke topik. Sebenarnya sudah cukup banyak informasi dan penjelasan yang tersedia secara online. Sayangnya, kebanyakan hanya menjelaskan dari sisi kepentingan pemerintah atau politik. Jikapun ada yang dari sisi kepentingan masyarakat selaku wajib pajak, terlalu teknis thus sulit dipahami oleh awam (non-akuntan.) Dan ada beberapa pertanyaan krusial yang mungkin masih menjadi ganjalan namun belum terjawab dengan jelas.

Dalam tulisan ini saya akan coba jelaskan dan jawab beberapa pertanyaan krusial, dengan bahasa sederhana. Mungkin tidak banyak membantu, tetapi saya berharap (mudah-mudahan) bisa menjadi awal pemahaman yang baik.

 

Apa itu Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)?

Seperti namanya, pengampunan pajak (tax amnesty), adalah cara atau prosedur yang bisa semeton tempuh untuk memperoleh pengampunan pajak.

“Pengampunan seperti apa? Bagaimana wujudnya? Apakah Dihapus?”

Ini kesalahpahaman yang paling banyak terjadi. Yang benar bukan dihapus sepenuhnya. melainkan fasilitas berupa:

* Kemudahan – Hitungan pajak secara umum rumit. Untuk usaha misalnya, harus hitung laba/rugi terlebih dahulu. Sedangkan non-usaha, harus hitung pendapatan tidak kena pajak. Dan seterusnya. Nah melalui tax amnesty, kewajiban pajak dihitung dengan formula yang sangat sederhana (saya jelaskan lebih rinci, nanti.)

* Kemurahan – Dengan perhitungan normal (diluar program tax manesty), kewajiban pajak yang tidak dilaksanakan dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan bunga dan denda yang total nilainya bisa jadi sangat besar, selain hutang pokok. Melalui tax amnesty bunga dan denda ini tidak diperhitungkan, sehingga menjadi lebih murah—terutama bagi wajib pajak yang memiliki aset bernilai tinggi. Disamping itu, jika ada bea-balik nama atau pajak jual-beli, juga akan dihapus sepenuhnya.

* Ketenangan – Bagi kebanyakan orang, pajak menjadi sesuatu yang memusingkan karena rumitnya prosedur penghitungan dan pelaporannya. Belum lagi dibayangi oleh pemeriksaan (audit), membayar bunga, denda, bahkan potensi Sandra badan (penjara) jika ditemukan unsur pidana di dalamnya. Semua ini bisa menjadi sumber kekhawatiran. Dengan mengikuti program tax amnesty kekhawatiran ini bisa dihilangkan untuk selamanya, sebab program ini disertai jaminan tidak akan diperiksa lagi di masa yang akan datang.

“Jika begitu, lalu mengapa pemerintah membuat program pengampunan pajak (tax amnesty)? Apakah pemerintah tidak rugi?”

Mungkin ada yang berpikir demikian.

Sederhananya, program tax amnesty ini adalah terobosan pemerintah untuk menaikan pendapatan pajak DALAM WAKTU SINGKAT. Melalui analisa tertentu (terlalu teknis untuk dijabarkan di sini), pemerintah mengetahui masih begitu banyak wajib pajak (utamanya skala besar) yang belum membayar pajak. Butuh waktu lama untuk memeriksa dan menagih pajak-pajak ini. Apalagi dana yang sudah “diparkir” di luar negeri, malah bisa jadi tak tertagih untuk selamanya. Daripada tidak tertagih, atau tertagih tetapi terlalu lama, lebih baik beri mereka keringanan (tidak rumit, lebih murah, dan tenang seperti yg saya jelaskan di atas).

Singkatnya: lebih baik kecil-kecil tapi cepat tertagih, daripada besar-besar tetapi butuh waktu lama untuk menagih atau bahkan tak tertagih samasekali.

 

Apakah Saya Perlu Ikut Program Tax Amnesty?

Hal berikutnya yang sering disalahpahami, thus menimbulkan keresahan yang tak perlu, adalah sifat dari tax amnesty ini yang dikira “memaksa.”

Yang benar adalah “tawaran” (tidak memaksa)—semeton ditawari program tax amnesty. Kalau merasa perlu thus mau ikut, silakan. Jika tidak juga tidak apa-apa, silakan timbang sendiri untung-ruginya.

“Apakah saya perlu ikut?”

Jawaban saya, bisa jadi PERLU bisa jadi TIDAK PERLU, Tergantung.

  • PERLU – Jika semeton MEMILIKI ASET bernilai besar (misal: tanah, rumah, mobil, ruko, dlsb) dan selama ini BELUM PERNAH bayar pajak, atau sudah bayar pajak tetapi TIDAK YAKIN benar dan akurat. Terlebih-lebih semeton memiliki penghasilan besar entah itu sebagai pengusaha atau professional di bidang tertentu (misal: dokter, akuntan, lawyer, arsitek, dlsb.)
  • TIDAK PERLU – Jika semeton TIDAK MEMILIKI ASET bernilai besar (misal: hanya punya 1 unit motor, ngekost, tv, kasur), atau memiliki aset bernilai besar tetapi YAKIN SUDAH PATUH membayar pajak dengan benar dan akurat.

Berikutnya:

“Saya memang punya mobil, tetapi kan sudah bayar pajak setiap kali samsat. Saya juga punya gedung (rumah/kantor/ruko/gudang/dll) dan sudah bayar PBB setiap tahun. Untuk membeli itu semua saya juga sudah bayar pajak jual-beli. Lalu mengapa saya disuruh bayar pajak lagi? Kalau begini caranya berarti saya bayar pajak dobel-dobel dong?”

Ini pertanyaan yang sangat bagus dan fundamental sifatnya. Sayangnya, tidak banyak yang bisa menjelaskan hal ini dengan tepat dan gamblang—jawabanya cenderung muter-muter tidak jelas.

Begini semeton Bali. Pajak itu banyak macamnya thus wajar jika membingungkan. Tetapi saya akan coba jelaskan, setidaknya jenis pajak terkait harta seperti disebutkan dalam pertanyaan di atas, sbb:

1. SAMSAT – Adalah pajak atas KEPEMILIKAN & PENGGUNAAN KENDARAAN. Dalam artian, uang yang semeton bayarkan itu, oleh pemerintah digunakan untuk membangun dan memelihara fasilitas publik terkait jalan, serta pemeliharaan lingkungan hidup, yang rusak akibat polusi dari kendaraan yang semeton gunakan sehari-hari.

2. PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) – Adalah pajak atas PENGGUNAAN TANAH & BANGUNAN. Dalam artian, uang yang semeton bayarkan itu, oleh pemerintah digunakan untuk memulihkan kondisi tanah dan lingkungan yang semeton banguni dan gunakan.

3. PPN (Pajak Pertambahan Nilai) – Terkait aset, oleh publik mungkin disebut “Pajak Jual Beli.”  Ini adalah pajak atas PERTAMBAHAN NILAI SUATU PRODUK/JASA yang semeton nikmati melalui proses pembelian. Dalam artian, semeton menikmati suatu “nilai tambah” dari setiap produk/jasa yang  semeton beli. Produk rumah misalnya, berasal dari bahan bangunan (pasir. batu, semen, besi, ubin, dll). Setelah melalui proses pembangunan bahan-bahan ini berubah bentuk menjadi bangunan dan memiliki fungsi sebagai tempat tinggal. Perubahan fungsi dari bahan bangunan menjadi rumah inilah disebut “mengalami penambahan nilai.” Begitu juga mobil, awalnya berupa kompenen-komponen yang kemudian dirakit menjadi mobil dan memiliki fungsi sebagai kendaraan. Perubahan fungsi dari komponen menjadi kendaraan ini disebut “memiliki nilai tambah.” Sebagai konsumen rumah dan kendaraan yang mengalami proses pertambahan nilai itu, semeton dikenakan “Pajak Pertambahan Nilai” alias “PPN.”

OK. Semeton sudah bayar SAMSAT, PBB, dan PPN. Pertanyaannya adalah: Darimana semeton dapat uang untuk membeli tanah, membeli/membangun rumah, dan membeli mobil itu? Darimana semeton mendapat uang untuk memiliki aset-aset tersebut?

Jawabannya: Pasti dari PENGHASILAN—entah itu dari menjalankan usaha, gaji, honor, fee, komisi, uang jasa, hadiah atau hibah. Penghasilan-penghasilan itu kemudian semeton UBAHBENTUK menjadi ASET berupa tanah, bangunan, kendaraan, peralatan, dll.

Nah, PENGHASILAN yang telah diubah bentuk itulah yang kemungkinan belum semeton bayar pajaknya, atau sudah dibayar tetapi belum benar atau belum terhitung secara akurat, thus masih harus semeton bayar, dan bisa melalui program pengampunan pajak (tax amnesty) yang ditawarkan oleh pemerintah saat ini.

Kekayaan atau aset yang semeton miliki—cepat atau lambat—suatu saat nanti akan diperiksa dan ditelusuri asal-usulnya oleh pihak Ditjen Pajak. Jika ditemukan penghasilan yang belum dibayar pajaknya pasti akan dikenakan pajak beserta bunga dan denda. Jika ditemukan unsur pidana (penghindaran pajak misalnya) tentu akan disertai hukuman pidana pula.

Sekarang, silakan semeton timbang sendiri; apakah merasa perlu memohon pengampunan melalui program tax amnesty ini atau tidak.

Katakanlah semeton memutuskan untuk ikut memohon pengampunan pajak (tax amnesty), pertanyaan selanjutnya adalah: berapa saya harus bayar?

 

Berapa Saya Dikenakan Pajak Jika Ikut Tax Amnesty?

Besaran pajak—disebut “UANG TEBUSAN”—yang akan semeton bayar tergantung besar aset yang semeton miliki dan laporkan. Yang jelas akan dihitung dengan cara mengalikan “Total Nilai Aset Bersih” dengan “tarif.” Jika diformulakan:

UANG TEBUSAN = NILAI ASET BERSIH x TARIF

Catatan:

*Nilai Aset Bersih, adalah “Total Nilai Aset Kotor” dikurangi “Utang” terkait aset yang dimiliki (Misal: semeton punya rumah senilai Rp 1 Milyar, tapi di sisi lainnya masih punya sisa cicilan atas rumah tersebut sebesar Rp 300 juta, maka nilai bersih aset rumah adalah Rp 700 juta.)

*Tarif, tergantung waktu keiikutsertaan, sbb:

  • Periode I (1 Juli s/d 30 September 2016): 2% untuk aset di dalam negeri dan 4% untuk aset di luar negeri.
  • Periode II (1 Oktober s/d 31 Desember 2016): 3% untuk aset di dalam negeri dan 6% untuk aset di luar negeri.
  • Periode III (1 Januari s/d 31 Maret 2017): 5% untuk aset di dalam negeri dan 10% untuk aset di luar negeri.
  • Khusus Usaha Kecil dan Menengah (UKM): 0.5% untuk aset bernilai tak lebih dari 10 Milyar dan 2% untuk di atas 10 Milyar.

 

Bagaimana Caranya Memohon Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)?

Sederhananya seperti ini:

  • Langkah-1: Datang ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dimana NPWP semeton diterbitkan. Jika belum punya NPWP maka mohon NPWP terlebih dahulu. Saat ini semua KPP telah menyediakan “Help Desk” dimana semeton bisa tanya-tanya dan konsultasi mengenai tax amnesty.
  • Langkah-2: Ambil formulir permohonan Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) jika semeton sudah memutuskan untuk ikutserta program ini.
  • Langkah-3: Isi formulir, lampirkan daftar aset/harta disertai surat pernyataan bahwa daftar harta yang disampaikan adalah benar dan lengkap.
  • Langkah-4: Hitung besarnya uang tebusan (lihat formula di atas)
  • Langkah-5: Bayar dengan eBilling (SSP Elektronik)
  • Langkah-6: Dalam jangka waktu 10 hari akan terbit Surat Keterangan Pengampunan Pajak (Tax Amnesty)

Untuk lebih lengkap dan rincinya, sekalilagi, silakan semeton datang dan tanya-tanya Help Desk khusus tax amnesty di KPP.

 

Lain-Lain

Kapan program tax amnesty ini berakhir?” Mungkin ini pertanyaan berikutnya.

Program pengampunan pajak ini ditawarkan hingga tanggal 31 Maret 2017.

Apa yang terjadi setelah 31 Maret 2017?” Pertanyaan berikutnya.

Ada 3 kemungkinan:

Kemungkinan-1: Jika semeton ikut program tax amnesty dan menyampaikan daftar harta atau aset dengan sejujur-jujurnya dan lengkap, sudah tentu semeton akan memperoleh pengampunan pajak seperti yang sudah saya sampaikan di atas (tidak kena bunga, tidak kena denda, tidak kena pidana, dan penghapusan bea balik nama dan atau pajak jual-beli) plus merasa lega/tenang.

Kemungkinan-2: Meskipun semeton sudah ikut program tax amnesty, tetapi jika dikemudian hari diketahui memiliki aset atau harta yang lebih besar dari yang dimohonkan maka akan dikenakan pajak penghasilan (PPh) sesuai ketentuan UU PPh ditambah denda 200%.

Kemungkinan-3: Jika semeton memiliki aset tetapi tidak ikut tax amnesty dan dikemudian hari diketahui oleh kantor pajak, maka akan diberlakukan UU Pajak sebagaimana biasanya: PPh (jika belum), PPN (jika belum), Bea Balik Nama (jika belum), pajak jual-beli (jika belum), beserta BUNGA + DENDA masing-masing yang bisa bisa berlipat-lipat ganda jika waktu kemepilikan aset sudah lama.

Catatan: Tolong jangan merasa kalau saya sedang menggiring semeton untuk ikut program pengampunan pajak (tax amnesty.) Saya tidak bermaksud begitu. Sekalilagi, saya bukan pegawai pajak juga bukan pegawai pemerintah, thus tidak punya kepentingan apapun selain mencoba memberi informasi yang (mudah-mudahan) membantu semeton Bali yang berkepentingan.

Bagaimana semeton? Mudah bukan? Atau ada yang belum dipahami? Silakan sampaikan via ruang komentar di ujung laman ini.

Your reaction?
omg omg
0
omg
haha haha
0
haha
grrr grrr
1
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
0
wtf
suka suka
1
suka
hmm hmm
0
hmm
ngeri ngeri
0
ngeri
huek huek
0
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Apa itu Tax Amanesty, Apakah Saya Wajib Ikut dan Bagaimana Caranya?

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz