Hai Orang Bali, Jangan Bilang Semua Agama Sama!


Semua Agama Sama

Jika anda seperti saya, suka ngintip diskusi lintas-agama di forum-forum dan media sosial, pasti pernah menemukan semeton Bali yang dengan bijak mengatakan “semua agama sama.”

Mungkin maksudnya untuk menjadi penengah sekaligus mencegah agar diskusi tidak berkembang menjadi aksi saling-hujat.

Sayangnya, niat baik tidak selalu ditanggapi baik. Yang lebih sering terjadi, ungkapan “semua agama sama” dari umat Hindu justru menjadi sasaran hujat tambahan. Pasalnya, ada saja pihak yang sangat keberatan agamanya dipersamakan dengan agama lain.

“Woi! Jangan bilang semua agama sama!” ujar mereka yang kemudian disusul dengan argument blah blah blah blah… lalu berlanjut menjadi bantah-membantah, hujat-menghujat, olok-olok, bahkan caci-maki.

Tidak usah anak remaja, anak TK juga tahu agama non-Hindu tidak sama dengan Hindu, nama agamanya saja sudah jelas-jelas beda koq. Ungkapan “semua agama sama” dalam konteks ini maksudnya semua agama sama-sama mengajarkan tentang: kebajikan, mengasihi mahluk ciptaan Tuhan lainnya, dan berbhakti kepada Tuhan.

Namun yang terungkap dalam berbagai diskusi terbuka, biasanya, jarang ada pihak non-Hindu yang sepaham dengan pandangan tersebut. Itu sebabnya mengapa kebanyakan diskusi lintas agama di forum-forum terbuka cenderung berubah menjadi debat-kusir yang tak berkesudahan.

Ya, begitulah. Debat topik agama memang tak ada habisnya. Tulisan ini—susah payah saya buat—tidak untuk mendebat siapapun. Melainkan sekedar sharing pandangan diantara sesama semeton Bali penganut Hindu saja (sekalilagi untuk sesama semeton Bali penganut Hindu saja), mengenai: Masihkah kita (penganut Hindu di Bali) perlu mengatakan “semua agama sama”?

Memang agak sensitive. Namun, saya pikir, mungkin ada baiknya diketahui oleh semeton sedharma. Nanti akan saya sampaikan lebih detail. Sebelum itu ada satu pertanyaan yang penting untuk dijawab.

Semua agama sama?

 

Apakah Semua Agama Sama?

Di masa sekolah dahulu, sayapun memperoleh pemahaman bahwa “semua agama sama,” setidaknya sama-sama mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan, sama-sama mengajarkan kebajikan, dan sama-sama mengajarkan untuk saling mengasihi diantara sesama manusia. Sebab kita (manusia), terlepas dari apapun ras, suku, bangsa dan agama kita masing-masing, berasal dari sumber yang sama dan akan kembali pada sumber yang sama juga. Dalam Bhagawad Gita disebutkan:

“Jalan manapun yang engkau tempuh, akan sampai kepadaku”

Itu sebabnya saya tak pernah kaget ketika aktivis kemanusiaan Barat memunculkan gerakan yang mereka sebut “oness” di era modern ini. Weda sudah mengajarkan oness kepada para pengikutnya sejak ribuan tahun silam.

Yang agak naif, mungkin, pada masa-masa sekolah saya mengira semua agama berprinsip seperti demikian. Setelah tinggal di Jawa dan banyak berinteraksi dengan umat agama lain saya baru ‘ngeh’ ternyata perkiraan saya itu samasekali keliru.

“Enak saja bilang agama kami sama dengan agama kalian para penyembah patung. Agama kami diturunkan langsung oleh Tuhan, sedangkan agama kalian hanya buatan manusia” ungkap mereka. Katanya, inilah alasan mengapa agama mereka disebut (oleh mereka sendiri) sebagai “agama langit” sementara Hindu “agama Bumi.”

“Agama kami adalah satu-satunya yang benar dan sempurna thus penganutnya dijamin masuk surga. Barang siapa yang tidak percaya (dengan hal ini), maka dipastikan akan masuk neraka yang kekal“ ujar yang lainnya, di kesempatan berbeda.

Lebih ekstrimnya lagi, bahkan, mereka mengklaim hanya Tuhan mereka yang asli.

Selama tinggal di luar Bali, saya banyak bergaul dan berinteraksi dengan berbagai macam orang dari latar belakang suku dan agama berbeda-beda. Yang agak mengagetkan sekaligus membuat saya merasa sendirian, setidaknya dalam pemikiran, setidaknya saat tinggal di perantauan, ternyata mereka yang menganut agama berbeda-beda itu memiliki kesamaan pola pikir, yakni: “Hanya tuhan kami yang asli, hanya ajaran agama kami yang benar, dan hanya kami yang akan masuk surga.”

Jika browsing di website-website tertentu, termasuk group-group media sosial, semeton Bali masih bisa menemukan ungkapan-ungkapan seperti itu hingga sekarang. Tentu saja tetap begitu dan akan terus begitu. Sebab, katanya, apa yang mereka sampaikan adalah perintah tuhan melalui kitab suci agama yang mereka anut.

Saya tidak tahu apakah benar agama mereka mengajarkan hal-hal seperti itu. Jika benar, maka jelas sudah bagi saya, bahwa:

  • Hanya Hindu yang memandang “semua agama sama bagusnya”—setidaknya sama-sama mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan dan menyayangi sesama manusia terlepas dari apapun latar bekalang suku, ras, bangsa dan agamanya.
  • Hanya Hindu yang mengajarkan “semua manusia bersumber dari yang sama dan akan kembali ke sumber tersebut.”
  • Hanya Hindu yang mengajarkan “semua manusia (terlepas dari apapun ras, suku, bangsa dan agamanya) menyembah Tuhan yang sama.”

Nah dengan kenyataan ini, apakah kita masih perlu ngotot mengatakan “semua agama sama”?

 

Apakah Masih Perlu Mengatakan Semua Agama Sama?

OK. Kita tahu bahwa Weda, Baghawad Gita dan sastra Hindu lainnya jelas-jelas mengajarkan untuk berbhakti kepada Tuhan, mengasihi ciptaan Tuhan lainnya (terlebih manusia) dan semua manusia sama di hadapan Tuhan—yang membedakan hanya ‘karma’ (=perbuatan) kita masing-masing.

Adalah tidak mungkin bagi kita (Orang Bali pemeluk Hindu)—yang diajarkan untuk selalu jujur—menyampaikan hal yang berbeda dengan apa yang diajarkan oleh agama kita. Bahwa non-Hindu memiliki pandangan yang berbeda, itu urusan mereka—yang tentu saja akan menjadi karma mereka sendiri. “Ala ulah nia ala tinemu, ayu kang kinardi ayu pinanggih.”

Ketika ada pihak lain yang merendahkan atau bahkan menghina kita, kemudian kita membalasnya dengan cara merendahkan atau menghina mereka, lalu apa bedanya kita dengan mereka.

YES or NO?

Mungkin anda menjawab “YES” atau “NO” atau “maybe YES maybe NO.” Saya tidak tahu.

Yang jelas saya pribadi YES 100%. Tetapi, sudah sejak lama saya memutuskan untuk BERHENTI mengatakan “semua agama sama.”

Mengapa?

Sebab:

Pertama, saya tidak ingin ada yang MENGIRA ajaran Weda lebih buruk dibandingkan ajaran agama lain dan ungkapan “semua agama sama” dari saya diartikan sebagai upaya untuk mengangkat derajat ajaran Weda agar bisa sejajar dengan ajaran agama lain. NO! Saya tidak mau itu. Sebab, pada kenyataannya, ajaran Weda sudah ‘beyond’ thus tidak perlu diangkat-angkat oleh siapapun (terlebih oleh saya yang bukan siapa-siapa) dan ajaran Weda terlalu agung untuk disandingkan dengan ajaran agama manapun.

Kedua, saya tidak mau membohongi diri sendiri dengan berpura-pura menganggap perilaku semua pemeluk agama lain baik, padahal kenyataannya tidak. Saya tidak mau menjalankan prinsip “toleransi” dengan cara mentolerir sikap “tidak toleran” dari pihak lain.

Sekarang, tolong jangan salah paham. Jangan dikira saya begitu repot mengurusi isi kepala orang lain. NO!

Saya tidak peduli dengan apa yang pihak luar pikirkan tentang ajaran Weda atau Hindu. Saya tidak peduli dengan pendapat mereka mengenai sistim kepercayaan yang saya anut dan jalan hidup yang saya tempuh. Pikiran-pikiran mereka, ucapan-ucapan mereka, hidup-hidup mereka, ngapain saya yang repot?

Saya yakin sebagian dari anda juga berpikir begitu.

Yang berbahaya—thus harus kita cegah—adalah, ketika di satu sisi kita selalu mengatakan “semua agama sama bagusnya” terutama kepada generasi muda kita sendiri, sementara di sisi lainnya kita tidak (atau belum) pernah mengajari mereka tentang Tattwa/Filsafat Weda dan Chandogya Upanishad secara mendalam—yang kita ajari hanya kulit-kulitnya seperti yadnya, upakara, upacara, perayaan-perayaan, festival-festival, kesenian, budaya, tradisi, dlsb—hanya karena takut membuat ajaran agama lain terlihat kerdil lalu menyinggung persaan umatnya.

Apa yang terjadi bila itu yang kita lakukan?

Akan semakin banyak generasi muda kita yang berperilaku “ngutang kandik nuduk jaum”—mengadopsi nilai-nilai luar yang mereka pikir sesuatu yang baru dan lebih baik dibandingkan ajaran Weda padahal sesungguhnya semuanya sudah ada dalam Weda dan sastra Hindu lainnya. Tanpa kita sadari kita telah menggiring generasi muda kita untuk ‘nyemplung’ ke dalam lubang sempit yang akan memenjarakan intelektualitas dan spiritualitas mereka.

Tidak tahu dengan anda. Saya pribadi tidak mau itu terjadi. Saya merasa punya kewajiban (skala dan nisakala) untuk memastikan generasi penerus saya akan memperoleh ruang yang cukup dalam mengembangkan kecerdasan intelektual dan spiritual mereka di masa depan.

Oleh sebab itu saya tidak akan pernah mengatakan “semua agama sama (bagusnya)” sampai mendapat keyakinan:

  • Semua umat beragama memiliki pandangan yang sama mengenai hal ini; ATAU
  • Generasi muda saya sudah memahami ajaran Weda dan sastra Hindu secara mendalam (tidak sebatas kulit-kulit.)

Dan, jika diberi kesempatan dan kesehatan, maka lewat popbali.com (dan facebook pagenya) saya akan terus mengungkapkan hal-hal yang selama ini terkesan tabu untuk dibicarakan oleh lembaga resmi Hindu di Indonesia.

 

Hindu: Peragu atau Penakut?

Tentu saja saya menyadari sepenuhnya bahwa, KITA—para penempuh jalan dharma yang tak lain adalah keturunan Adi Sanatana—telah ditakdirkan untuk (secara mentalitas) selalu diombang-ambing oleh keraguan antara menegakkan dharma secara tegas ATAU membiarkan adharma merajalela. Sama seperti Arjuna dan keempat saudaranya yang juga keturunan Adi Sanatana dan selalu dilanda kebimbangan setiap kali menghadapi perilaku adharma para Khurawa.

Diantara keturunan Adi Sanatana, ada yang berwatak jujur dan bijak seperti Yudhistira yang selalu diambil untung oleh kelicikan Shakuni. Ada yang berwatak keras dan perkasa seperti Bhima namun selalu terpaksa mengalah kepada Duryodhana yang tak pernah ragu untuk menghabisinya, demi menghormati prinsip yang dianut oleh Kakak tertuanya (Yudhistira). Ada yang cerdas dan pemberani seperti Arjuna namun selalu terpaksa menahan diri demi rasa cintanya kepada Kakek Bishma, Paman Widura, Paman Destarastra, bahkan para sepupu yang tak pernah segan untuk menyingkirkan dirinya dengan cara apapun.

Untung ada Basudewa Krishna, representasi dari keperibadian Yang Maha Sempurna, yang—dengan Kemahakuasaannya—berhasil membawa Arjuna bersama keempat saudaranya keluar dari gelombang samudera kebimbangan tak bertepi, thus dharma menjadi tegak kembali.

Pertanyaannya: Di era modern seperti sekarang, kemanakah kita—para keturunan Adi Sanatana yang peragu ini—mencari sosok Basudewa Krishna guna memohon petunjuk? Kita yang sudah berumur mungkin sudah tak punya energi yang cukup untuk mencari ke sana kemari. Bagaimana dengan generasi muda? Bagaimana jika mereka keluyuran mencari di luar sana padahal yang dicari-cari sudah ada di dalam? Apa tidak kasihan?

Your reaction?
omg omg
0
omg
haha haha
1
haha
grrr grrr
2
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
0
wtf
suka suka
1
suka
hmm hmm
0
hmm
ngeri ngeri
1
ngeri
huek huek
0
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Hai Orang Bali, Jangan Bilang Semua Agama Sama!

0

Comments 24

  1. Om Swastyastu. Menarik dan tidak ada habisnya memang membahas tentang Ketuhanan dan agama. Karena Tuhan adalah pribadi yang gaib dan tak terpikirkan. Menurut pendapat tyang, agama adalah buatan manusia. Sumber ajarannyalah yg berasal dari Tuhan. Ajaran kebenaran akan Tuhan dan semesta semestinya satu. Tetapi ketika ajaran tersebut turun ke dunia disampaiikan dari para Nabi ke generasi manusia selanjutnya dan seterusnya sepanjang zaman, terjadilah salah penafsiran, pengurangan atau penambahan. Akhirnya kita sekarang mendapat kemasan yg disebut sebagai agama.
    Kata Hindu (Hinduism) sendiri tidak terdapat dalam Veda, tetapi merupakan istilah yg diberikan orang Inggris ketika pertama kali melihat aktivitas spiritual masyarakat India (berlatar belakang sungai Indus). Ajaran Veda demokratis, memberi kebebasan untuk memuja Tuhan melalui manifestasi dewa atau manifestasi suci Tuhan lainnya yg dikehendaki. Munculah pemuja Siwa, Wisnu, Ganesha kemudian Budha. Dalam Veda sendiri, bahkan terdapat 33.000 dewa dan dewi dan 3 dewa yg utama (paling banyak dipuja). Ketika orang Barat memperkenalkan konsep one God, penganut ajaran Veda menjadi kebingungan. Mungkin banyak orang Hindu percaya mereka adalah penganut polytheism (banyak Tuhan) padahal jelas di dalam Veda dan Gita bahwa tidak masalah toh juga fokus semuanya adalah Tuhan Yang Esa. Eko narayana na dwityo sti kascit. Demikian juga jalan mendekatkan diri kepada Tuhan yg diajarkan dalam Veda untuk mencapai kesadaran diri. Umat Hindu bisa memilih jalan Bhakti Marga (memberi yadnya, persembahan dll penuh kasih), Yoga, Karma dan Jnana. Sederhananya, jika ada banyak jalan mengapa harus fanatik dengan 1 jalan.
    Semua agama memiliki penganut yg fundamentalist (fanatik garis keras). Sebaiknya sikap kita adalah tidak ambil pusing selama orang2 tsb tidak mengganggu keharmonisan dalam masyarakat. Agama semestinya membantu umatnya mencapai kesadaran bahwa semua mahkluk adalah sama, semua layak dikasihi.
    Semoga damai selalu.
    Shanti, shanti, shanti Om,

  2. Om swastyastu,,,betul,,nke semua tiang salut dgn tulisan anda,,,dgn penuh kebimbangan. Ada yg jdi pertanyaan saya utk mendidik anak yg menjadi sujud bakti pada leluhur,,,bangga menjadi Hindu Bali,,,menjaga tanah di pijak utk hidup d gumi Bali,,,bagaimana teknik yg ampuh trsebut,,matur sukseme,,om santhi om

  3. Komentar:i love hindu bali.. biarkan merrka berkata apa yg penting kita akan tetap menjaga nama hindu baik.. selllu ajeg.. semngtttttt . tiang bngga lahir hindu.. smngt.

  4. sblmnya sy mnta maaf kl terkesan slh alamat krn sy bkn umat hindu. sy sndri beragama katolik. seaungguhnya ubgkapan semua agama sama itu jg yg kami yakini dan kami pelajari baik d sekolah maupun gereja. tak satupun guru/romo/suster dan pengajar katolik manapun yg berkata sebaliknya. atau mengungkapkan agama kami paling benar. hukum utama d agama kami adlh hukum cinta kasih. saat kita mencintai Tuhan kita pasti jg mencintai semua sesama kita tanpa kecuali bhkan kpda org yg berbuat buruk pd kita,kita diharapkan mampu mengampuninya. tdk ad satu pun ajaran utk membenci/menghina org lain apa pun latar blkgnya. kl sy jelaskan dg detail mgkin akan trllu pjg. tdk tau dg umat katolik lain/umat agama lain bgmn bersikap. tp bg sy dan keluarga,km sllu berusaha menerapkan hukum cinta kasih itu sebaik mgkin meski tak sempurna. pun saat kami dihina,km jg hnya tersenyum selama iman kami msh kuat.
    mgkin ini lah yg terjadi.. (ini pendapat pribadi saya dan mohon koreksi jk sy slh)
    bahwa tak ada 1 agama pun yg mengajarkan keburukan pd umatnya. bahwa tak ada 1 agama pun mengajarkan umatnya utk slg menghina dg alasan apapun tmsuk keyakinan dan agamanya. bahwa semua agama mmg sama. sama2 mengajarkan keEsaan Tuhan. mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. hanya bgmn setiap individu memahami,mendalami dan mengamalkannya lah yg berbeda. inilah yg membuat org2 skrg ini sdh tak peduli lg,sdh tdk merasa ragu/sungkan utk saling menghina & menghujat tanpa mengindahkan cinta dan kedamaian lg.
    sekian kiranya spya bs jd tmbhn pengetahuan scra umum. apabila ada salah mohon berkenan memaafkan sy yg msh awam soal agama. terimakasih

  5. sblmnya sy mnta maaf kl terkesan slh alamat krn sy bkn umat hindu. sy sndri beragama katolik. sesungguhnya ungkapan semua agama sama itu jg yg kami yakini dan kami pelajari baik d sekolah maupun gereja. tak satupun guru/romo/suster dan pengajar katolik manapun yg berkata sebaliknya. atau mengungkapkan agama kami paling benar. hukum utama d agama kami adlh hukum cinta kasih. saat kita mencintai Tuhan kita pasti jg mencintai semua sesama kita tanpa kecuali bhkan kpda org yg berbuat buruk pd kita,kita diharapkan mampu mengampuninya. tdk ad satu pun ajaran utk membenci/menghina org lain apa pun latar blkgnya. kl sy jelaskan dg detail mgkin akan trllu pjg. tdk tau dg umat katolik lain/umat agama lain bgmn bersikap terutama kpd anda. tp bg sy dan keluarga,km sllu berusaha menerapkan hukum cinta kasih itu sebaik mgkin meski tak sempurna. pun saat kami dihina,km jg hnya tersenyum selama iman kami msh kuat.
    mgkin ini lah yg terjadi.. (ini pendapat pribadi saya dan mohon koreksi jk sy slh)
    bahwa tak ada 1 agama pun yg mengajarkan keburukan pd umatnya. bahwa tak ada 1 agama pun mengajarkan umatnya utk slg menghina dg alasan apapun tmsuk keyakinan dan agamanya. bahwa semua agama mmg sama. sama2 mengajarkan keEsaan Tuhan. mengajarkan kebaikan dan cinta kasih. hanya bgmn setiap individu memahami,mendalami dan mengamalkannya lah yg berbeda. inilah yg membuat org2 skrg ini sdh tak peduli lg,sdh tdk merasa ragu/sungkan utk saling menghina & menghujat tanpa mengindahkan cinta dan kedamaian lg. jd bukan salah agamanya. tp lbh kpda sifat dan tabiat msg2 individu.
    sekian kiranya spya bs jd tmbhn pengetahuan scra umum. apabila ada salah mohon berkenan memaafkan sy yg msh awam soal agama. terimakasih

  6. Mantabs…..tyang spendapat dgn ulasan ini, beruntung dan bangga menjadi Hindu, tpi yg terpenting adalah kesadaran diri kita, krna yg kita lihat banyak orang yg pintar tpi kurang mampu memahami kesadaran diri.

  7. Komentar: Benar sekali! Saya setuju dengan tulisan ini͵ saya seorang muslim lahir dan dibesarkan di bali dan selama dibali saya mikir bahwa semua agama itu sama saking banyak temen2 sekolah yg berbeda agama͵ tapi semenjak saya kuliah di jogja dan memperdalam agama saya (islam)͵ dosen saya bilang bahwa semua agama itu berbeda͵ kalo sama udah pasti pahala saya banyak͵ shalat 5 waktu͵ jumatan͵ minggunya ke gereja͵ puja trisandya͵ pasang canang depan rumah dan terkesan sangat tidak konsisten dalam ibadah. Kalo soal yang mana yang benar͵ semua penganut agama pasti menganggap agama yang dianutnya itu benar͵ kalo tidak sudah pasti tidak dianut/diyakini. Matur suksma bli tulisannya kalo boleh request͵ saya minta pendapat bli gusti tentang sebagian kecil orang bali yang sering menyebut orang non-bali sebutan ‘nak jawa‘ yg terkesan sedikit primordial͵ karena seperti kita tau tidak semua non-bali adalah orang jawa͵ tapi ada sumatra͵ sulawesi͵ kalimantan dan papua. Terima Kasih

  8. Maaf mari melihat untuk apa bahas perbedaan keyakinan saling menjatuhkan saling membenarkan apa yg kalian percaya
    Biar lah sekelompok orang menyatakan bahwa keyakinani mereka yg paling benar
    Ketahuilah dosa intelektual yg paling kuno adalah merasa diri paling benar hanyalah Agama yg mereka anut paling joss . Tipuan tipuan iblis yg ada di kepala mereka yg mendorong mereka berkata demikian..
    Tuhan mengampuni kita semua
    Kalau karena Agama kita saling ngejek dan membunuh Rasanya lebih baik manusia bumi tidak beragama tapi menjalankan hukum Negara masing2..Mungkin ini jadikan dunia lebih tentram dan aman

  9. Artikel yang sangat bagus, tapi kalau agama kita dibilang agama bumi ciptaan manusia itu salah sebab kita tau ajaran weda diterima oleh para rsi yang disebut sapta rsi, LOVE HINDU

  10. Saya setuju dg pernyataan ini krn sampai kpnpun ajaran kepercayaan terhadap agama hindu dan weda tidak boleh disamakan dg agama lainnya…kita harus tetap pd pendirian dan kepercayaan kita dg agama hindu walaupum bgm perkembangan abad ini… Yg perlu kita ingat” AGAMA KITA BUKAN AGAMA BUDAYA”

  11. Buat anggie febrian : konsep penamaan nak jawa adalah konsep leluhur, jawa diartian jauhwe jauh = joh dan we, yang konitasinya orang dari jauh, pulau bali dikelilingi laut dan selama itu melintasi laut, maka disebut orang dari jauh atau dipanggil nak jawe, biar dari kalimantan, irian, jawa, sumatera semua dipanggil nak jawe, kecuali dari pulau nusa penida, dipanggil nak nusa, mungkin itu bisa dipakai tambahan masukan… bangga jadi nakbali dan pemuda hindu, suksma

  12. saya ragu apa saya orang hindu bali di luar dan dalam . Tapi mungkin saya hanya agnostik. Bukan karana benci agama tapi melihat berbagai agama

  13. Setahu saya orang bali adalah suku jawa juga.Mengenai agama memang tidak perlu sama, karena diyakini dari sejarah yang beda dan selalu berkembang. Yang penting para individu tidak perlu berdebat tentang kebenaran agamanya masing-masing, kecuali di forum ilmiah yang bebas dari nafsu, emosi, prasangka dan merendahkan lawan bicara. Agama harus melahirkan kebaikan bukan kejahatan, baik untuk manusia maupun alam sekitarnya, bahkan mungkin untuk yang nampak maupun yang gaib, tidak nampak. Yang demikian saya yakin menjadi sumber kebahagiaan bagi dirinya..

  14. Terima kasih kpd penulis yang sudah susah payah membuat web ini, walaupun (sepertinya) bukan pekerjaan utama penulis, hal yang sama sekali tidak mudah dilakukan. Web ini benar-benar berisi muatan yang bagus, kadang kontroversial tapi sebenarnya sangat perlu untuk dibahas. Benar sekali, sebagai generasi muda bali, saya merasa kurang sekali pemahaman filsafat hindu, sementara generasi tua (setidaknya di lingkungan saya) sangat terpaku pada upacara/upakaranya saja. Bahkan saya baru menyadari kalau ajaran hindu tidak serta merta meng-eksklusif kan penganutnya sebagai satu-satunya umat yg benar di dunia, satu hal yang sangat saya setujui. Oh iya bagaimana dengan Budha, setahu saya atau setidaknya yang pernah saya dengar, mereka juga kurang lebih beranggapan segala pemujaan yg bertujuan untuk kebaikan adalah baik (cmiiw). Keep up the great work, ditunggu artikel selanjutnya.

  15. Jangan diurusin yang penting Yakinkan diri kita kalau Tuhan yang kita sembah itu ada dan benar2 Tuhan. Bukan hantu.

  16. semua yang komentar disini ternyata tidak tahu TUHAN, dinegara ini, yang disebut TUHAN adalah UANG, coba lihat, para pejabat pemerintahan kita yang saleh itu satu persatu bergiliran masuk penjara karena korup, apapun agamanya

  17. Terimakasih untuk tetap mengagungkan Hindu karena memang selayaknyalah, segala darma dan tuntunan hidup dapat saya temukan dalam Hindu

    Am Proud Of Hindu

  18. Saya sangat gembira karena telah menemukan web POP BALI yang tulisannya benar-benar sesuai dengan hati nurani saya semoga dapat menginpirasi banyak orang untut sadar dan dan berbenah betapa agama dan budaya bali adalah suatu anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sangat menakjukkan dan tiada duanya , sehingga Bali terkenal di seluruh dunia. Dan saya rasa konsef budaya dan agama Hindu di bali merupakan konsef abadi yang akan selalu di rindukan dan dicari manusia modern untuk di jadikan sandaran dikala mereka sudah merasa lelah dalam menjalani hidup modern .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz