KPU Bali Undur Penyelesaian Kisruh Surat Suara
Previous
RANDOM
Penyampaian Visi Misi Awali Masa Kampanye Pilakad Bali
Next
Lokal Bali

Ini Keputusan KPU Pusat Terhadap Kisruh Surat Suara Pilkada Bali

by Gusti PutraApril 26, 2013

Keputusan Final KPU Pusat Terkait Kisruh Surat Suara Pilkada Bali

Informasi dari mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum republik Indonesia, I Gusti Putu Artha, KPU pusat telah menghasilkan keputusan final sehubungan dengan kisruh surat suara Pilkada Bali. Katanya, informasi itu ia peroleh dari sumber yang bisa dipercaya.

 

Keputusan Final KPU Pusat

Dalam lini masa Facebooknya Putu Artha, Jumat (26/4/2013) malam, tertulis:

“Info gres baru saya terima dari sumber akurat.”

Dia menyebutkan, sejak Jumat (26/4/2013) siang hingga petang, Bawaslu dan KPU RI serius membahas kisruh surat suara Pilkada Bali lantaran ada logo partai pada foto pasangan calon Puspayoga-Sukrawan yang kemudian dipertanyakan oleh tim pemenangan pasangan calon Mangku Pastika-Sudikerta.

Posisi (hasil pembicaraan final) nya, Putu Artha, melanjutkan:

“Bawaslu RI tetap menilai surat suara itu melanggar. Namun KPU RI dapat memahami permasalahan yang terjadi dan meminta tahapan dilanjutkan dengan memakai surat suara yang sama.”

Jika itu instruksi yang dikirimkan ke Bali, dan semua pihak bisa menerima dalam rapat pleno yang kemungkinan digelar Sabtu (26/4/2013), maka bisa dipastikan KPU Bali tidak perlu mencetak ulang surat suara—meskipun melanggar aturan—dan tidak perlu ada penundaan jadwal pilkada.

Namun demikian, status FB nya Putu Artha menyebutkan lebih lanjut:

“Bawaslu RI bersikeras tak mau disalahkan jika kelak ada persoalan hukum.”

Dengan hasil final itu, maka:

“KPU RI segera memberikan surat ke KPU Bali.”

 

Pastikerta Sebaiknya Legowo

Dalam status yang sama, Putu Artha berharap semua pihak bisa ‘legowo’ menerima keputusan KPU Pusat itu dengan lapang dada. Ia menghimbau:

“Pihak Pastikerta mesti berjiwa besar menerima keputusan itu, demi kepentingan rakyat Bali, tetapi tetap kukuh tidak menerima kesalahan yang dilakukan KPU Bali.”

Pun demikian, Putu Artha mengingatkan:

“Kelak, jika ada persoalan hukum, tak berarti pihak Pastikerta lantas bisa dipersalahkan. Tetap KPU Bali mesti bertanggung jawab.”

Menurutnya, semuanya demi kedamaian rakyat Bali dan tahapan agar sesuai dengan rencana. Ia menambahkan:

“Sebab jika tidak akan merugikan Pastikerta karena tidak ikut tahapan selanjutnya seperti kampanye dan akan membuat situasi lebih kisruh.”

Mengenai kesalahan yang dilakukan oleh pihak KPU Bali, menurutnya:

“Yang bersalah tetap harus diusut.”

 

Preseden Buruk

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, menilai, pemasangan logo PDIP pada surat suara Pemilihan Gubernur Bali akan menimbulkan preseden buruk bagi pemilihan kepala daerah lainnya di tanah air.

Pasalnya, kata Titi pada jumat (26/4/2013), pasangan calon di provinsi atau daerah lain juga akan mencantumkan logo parpol-parpol pengusung. Ia memaparkan:

“Persoalannya itu bisa menjadi preseden bagi pasangan calon pemilukada di daerah lain. Ke depan bisa jadi akhirnya di surat suara juga paslon akan meletakkan foto logo parpol-parpol pengusungnya. Kebetulan saja di Bali partai pengusung hanya satu, kalau lebih dari satu kan ini masalah.”

Jika logo PDIP bisa tercantum dalam surat suara Pilgub Bali, dikhawatirkan hal tersebut juga akan dilakukan pada Pilgub Jawa Tengah. Apalagi, bila pemasangan logo parpol dianggap sebagai harga mati dan tidak berkoalisi dengan parpol lain untuk mengusung pasangan calon. Ia mengimbuhi:

“Kalau satu minta maka yang lain juga meminta. Kalau satu gambar dibolehkan, apa alasan dua atau tiga gambar dilarang? Itulah yang akan jadi pembenaran para calon.”

Ia menegaskan, peserta pemilu dalam pemilukada adalah pasangan calon, bukan partai politik sehingga foto yang ada dalam surat suara adalah foto pasangan calon.

“Peserta pemilukada adalah pasangan calon, artinya yang dipasang di surat suara adalah foto pasangan calon, bukan logo partai. Kalau pun ada logo partai menjadi bagian dari aksesoris pasangan calon.”

Pencantuman logo PDIP di tengah pasangan Puspayoga-Sukrawan dalam surat suara Pilkada Bali itu, juga dinilai sebagai strategi untuk mendulang suara. Pasalnya, menurut Titi, dua pasangan calon yang diusung partai banteng moncong putih itu gagal meraih kursi gubernur di Jawa Barat dan Sumatera Utara. (Keterangan Gambar: Papan Nama KPU Republik Indonesia di Jakarta, Foto: pedomannews.com)

Share yang bermanfaat
Reaksi anda?
Bagus Banget!
0%
Keren!
0%
Wiih!
0%
Prihatin!
0%
Menjengkelkan!
0%
Membosankan!
0%
Lucu!
0%
Bingung!
0%
Gusti Putra
Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudukan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya. Dalam banyak kesempatan mungkin begitu ngotot dalam mengadvokasi Bali, namun di kesempatan lain ia juga kerap mengkritisi dengan sentilan-sentilan halusnya. Follow Gusti Putra di:

Komentar via FB

1 Comments
Leave a response
  • Budi
    April 29, 2013 at 8:29 am

    Selesai PILKADA masalah ini harus tetap diPROSES!! menang maupun kalah pasangan lawan!karna rakyat ingin belajar politik yg santun dancerdas!

Leave a Response

SINDIKASI & REPUBLIKASI: Hanya diijinkan bila (1) untuk non-profit (2) mencantumkan popbali.com sebagai sumber disertai link. Selain cara ini tidak diijinkan.