Motivasi di Balik Penolakan Miss World di Indonesia

Inikah Motivasi di Balik Penolakan Miss World di Indonesia?

Meski kelompok penolak Miss World menggunakan dalil-dalil agama sebagai alasan, mengumbar aurat misalnya, beberapa pihak melihat ada motivasi lain di balik penolakan yang sengaja dibuat seolah-olah bernuansa agama ini

Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie M Massardi, misalnya, menilai acara Miss World 2013 sebenarnya bahkan tidak ada masalah.

”Sebenarnya penyelenggaraan ini tidak masalah. Namun, ada beberapa kelompok yang digunakan sebagai alasan agar penyelenggaraan tidak dilakukan di Jakarta,” katanya, seperti di kutip oleh okezone.

Oleh karena itu, katanya, pemerintah seharusnya tetap memberi izin pelaksanaan malam puncak Miss World dilaksanakan di Sentul Convention Center, bukan malah memindahkannya ke Bali.

Menurut Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sikap pemerintah yang tiba-tiba meminta pemindahan acara malam puncak Miss World 2013 dari Jawa Barat ke Bali hanya karena tekanan kelompok tertentu, bukan karena masalah yang prinsipiil.

Adhie mengungkapkan lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di balik perubahan sikap pemerintah tersebut.

”Ini saya lihat ada persaingan bisnis dan persaingan politik. Begitu ini (isu persaingan bisnis dan politik) meluas, kemudian ada pihak-pihak tertentu yang tidak suka penyelenggaraan ini (Miss World 2013 di Indonesia),” katanya.

Ia juga melihat penyelenggaraan ajang internasional ini telah menimbulkan berbagai kecemburuan politik di sejumlah kalangan di Tanah Air. Penentangnya begitu kuat karena selain terjadi persaingan secara ekonomi atau bisnis, juga ada persaingan politik.

”Jadi gabungan keduanya. Lebih tepatnya juga persaingan menuju Pemilu 2014,” terangnya.

”Sementara misalnya Partai Demokrat menyelenggarakan konvensi (calon presiden), ternyata tidak mendapat perhatian publik,” imbuhnya.

Kaitannya dengan perhelatan politik, masih menurut Adhie, penyelenggaraan Miss World 2013 memiliki pengaruh yang besar, sehingga ada indikasi suatu kepentingan politik kelompok tertentu menggunakan kelompok yang anti terhadap penyelenggaraan Miss World di Indonesia.

”Karena toh ini (pro-kontra Miss World) bukan persoalan kaidah. Karena mereka hanya mendapat informasi tentang Miss World secara sepihak,” katanya.

Hal senada, sebelumnya, juga disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR Eva Kusuma Sundari, yang menilai bahwa pagelaran Miss World 2013 ini hanya ajang promosi pariwisata yang samasekali lepas dari eksklusivisme sektarian seperti agama, suku, ras, atau simbol-simbol primordialisme yang lain. Sehingga, menurut Eva, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melarang malam final Miss World di Jawa Barat.

Eva juga mengkritisi sikap pemerintah yang diskriminatif, karena di saat Miss World di larang di Jawa Barat, pemerintah juga memberikan ijin untuk penyelanggaraan World Muslimah 2013, tanpa dipermaslahkan samasekali. Bahkan, mereka boleh menggelar puncaknya di Jakarta pada 18 September mendatang.

Menurut politisi PDIP ini, kalau memang keindahan fisik juga menjadi pertimbangan semua kontestan Miss World, banyak ajang serupa termasuk Abang-None Jakarta, Gus-Yuk Jember, Ning-Cak Surabaya, dan sebagainya juga menggunakan kriteria tersebut.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq melihat penolakan Miss World terjadi karena program yang diusung MNC tersebut tidak menggunakan “label Islam”, seperti World Muslimah 2013—yang saat ini karantina di Jawa Barat dengan malam final direncanakan di Jakarta.

”Yang saya tahu, menurut PBNU kalau World Muslimah itu tidak masalah, karena tidak mengeksploitasi perempuan, malah kemuslimahannya lah yang ditonjolkan,” ujar Fajar.

Lebih jauh Fajar melihat, penilaian yang disampaikan sejumlah kelompok terhadap persoalan tersebut tidak fair, karena meletakkan perempuan sebagai pusat dari pertentangan.

Fajar tidak menemukan adanya perbedaan di antara Miss World dan World Muslimah. Terlebih beberapa kategori yang dipersoalkan, seperti kontes bikini, juga sudah dihilangkan dari ajang Miss World, sebaliknya lebih menonjolkan nilai keindonesiaan.

Sehingga Fajar pun menduga ada motif tertentu—di luar urusan kebuadayaan, moral dan agama—di balik penolakan terhadap Miss World yang berlangsung saat ini. Namun demikian, dia tidak mau mercinci apakah motif tertentu yang dimaksudkan adalah bisnis atau politik atau gabungan keduanya seperti yang diungkapkan oleh Adhie.

Komentar via FB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>