Toleransi Antara Umat Beragama di Bali Tinggi

Inilah Kearifan Lokal Yang Buat Toleransi di Bali Selalu Tinggi

Ada nilai kearifan lokal dipegang oleh masyarakat Bali yang membuat toleransi antara umat beragama di Bali (khususnya Hindu-Islam) selalu tinggi. Perbedaan agama, suku, rasa dan latar-belakang lainnya, tidak pernah menjadi konflik, di Bali.

Hal itu terungkap dalam ujian promosi doktor di Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pascasarjana UGM yang dibawakan oleh dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Gede Suwindia.

Pada ujian tersebut I Gede Suwindia mengajukan desertasi berjudul “Relasi Islam dan Hindu, Studi Kasus Tiga Daerah, Denpasar, Karangasem dan Singaraja Perspektif Masyarakat Multikultur di Bali.”

Simpulan utama studi tersebut menunjukan bahwa, hubungan umat Hindu dan umat Islam di Bali terus menguat.

Terungkap disana bahwa masyarakat Bali memegang nilai kearifan lokal yang membuat hubungan Hindu dan Islam di pulau destinasi wisata dunia ini, selalu harmonis. Adapun nilai kearifan lokal Bali yang dimaksud, yakni:

1. Paras-paros – Masyarakat Bali senantiasa ‘paras-paros’ di setiap kesempatan. Paras-paros artinya merasa senasib dan sepenanggungan, saling bahu-membahu dalam memecahkan masalah dan tantangan hidup sehari-hari.

2. Menyamabraya – Masyarakat Bali, meskipun berasal dari latar-belakang yang berbeda-beda, selalu merasa bersaudara. Bagi orang Bali semua orang adalah ‘nyama’ (=saudara dekat). Sejauh-jauhnya mereka menggap orang lain itu sebagai ‘braya’ (=saudara jauh). Sehingga secara keseluruhan, bingkainya selalu persaudaraan.

3. Matilesang raga – Masyarakat Bali menjujung tinggi sebuah nilai yang disebut ‘metilesang raga’ yang artinya, kurang lebih: bisa menempatkan diri, sesuai dengan tempat, waktu, dan keadaan. Misalnya: ketika orang Hindu memiliki hajatan dan dikunjungi oleh warga Islam, mereka tahu harus menghidangkan makanan yang boleh dimakan oleh warga Islam.

4. Nawang lek – Nilai ‘nawang lek’ ini membuat masyarakat Bali cenderung tidak berperilaku yang aneh-aneh, tidak neko-neko. Mereka merasa malu kalau sampai bikin masalah, apalagi sampai ribut-ribut. Mereka malu mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mereka malu kalau tidak hadir ketika ada warga lain dalam kesusahan. Mereka malu kalau tidak membantu tetangga yang sedang punya hajatan, terlepas dari berbedaan latar belakang suku, agama, ras, dan yang lainnya.

Dalam ujian disertasi I Wayan Suwindia yang mengambil lokasi di tiga desa: Pemogan (Denpasar), Budakeling (Karangasem) dan Pegayaman (Singaraja), juga terungkap terungkap adanya faktor-faktor lain yang membuat hubungan Islam-Hindu selalu erat.

Salahsatu faktor itu adalah tingkat pendidikan. Semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat Bali membuat hubungan pemeluk Hindu dan Islam menjadi semakin baik.

Yang berikutnya adalah faktor historis. Sejak di masa lalu, ketika Bali masih berbentuk kerajaan, pendatang beragama Islam tidak sekedar diterima dengan tangan terbuka, melainkan juga dilindungi. Oleh raja-raja di Bali, bahkan para pendatang diberi hibah tanah untuk ditempati dan diolah.

Seiring berjalannya waktu, hubungan Hindu dan Islam menjadi semakin erat setelah asimilasi mulai terjadi dan terus berlangsung dari waktu-ke-waktu. Suwindia mengatakan:

“Di dalamnya terkait pula hubungan kekerabatan, perkawinan antar umat beragama dan payung budaya setempat yang memperkuat pergaulan antar umat.”

Komentar via FB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>