Ketika Sembahyang Terasa Hanya Sebatas Rutinitas


Rutinitas Sembahyang

Tujuan sembahyang, secara umum, disamping untuk memuja kebesaran Tuhan juga untuk memperolehan kedamaian. Lalu, apa artinya ketika sembahyang yang dilaksanakan secara rutin justru terasa hambar, thus tidak memperoleh manfaat yang konkret?

Itulah yang dirasakan oleh seorang penanya (via inbox Facebok), sebut saja Bapak WK.

Saya rutin sembahyang baik secara harian maupun pada saat ‘rahinan’ (=hari suci tertentu.) Menghaturkan Canang, menyalakan dupa, Tri Sandhya, kadang disertai Panca Sembah kadang tidak, dan memanjatkan doa, BEGITU SAJA, rasanya hambar, tidak ada bedanya dengan aktivitas rutin lainnya (seperti gosok gigi, mandi, sarapan pagi, berangkat kerja, dst), tidak merasa ada yang istimewa. Adakah yang kurang dari tata cara saya sembahyang?” Tanya WK via inbox (FB.)

Ini topik menarik. Mungkin ada pembaca lain merasakan hal yang sama—persembahyangan terasa hanya sebatas rutinitas, sehingga terasa kurang mantap. Oleh sebab itu maka saya jawab melalui tulisan di popbali.com ini. Harapannya supaya bisa dibaca oleh lebih banyak orang—terutama yang memiliki pengalaman serupa.

Mengapa sembahyang terasa hambar—hanya sebagai rutinitas saja? Pertanyaan pertama.

Adakah tata cara sembahyang yang kurang lengkap? Pertanyaan kedua.

Jawaban yang paling lumrah atas pertanyaan ini adalah: Sraddha (dalam kepercayaan lain mungkin disebut “iman.”)

 

Sraddha dan Sembahyang

Sederhananya, Sraddha adalah: pikiran, ucapan dan tindakan tulus, yang dilakukan atas dasar keyakinan kuat akan keberadaan Tuhan dan kemahakuasaanNYA.

Nah, sembahyang kita lakukan karena yakin akan pentingnya menyembah Tuhan dan manifestasinya (dewa-dewi, bethara-bethari.) Kita yakin akan memperoleh kebahagiaan dan kedamaian—di masa kini dan masa depan—melalui sembahyang.

Sehingga, dengan mudah bisa kita nalar bahwa: sembahyang menjadi terasa hambar alias kurang mantap ketika dilakukan tanpa keyakinan yang cukup. Dengan kata lain, kegunaan sembahyang akan terasa hanya jika didasari oleh keyakinan (Sraddha.)

Logis?

Menurut saya sangat logis. Namun, di sisi lainnya saya juga yakin Pak WK (penanya) memiliki Sraddha yang cukup. Buktinya ia rutin sembahyang baik secara harian maupun pada rerainan tertentu. Andai tak yakin, tentu Pak WK takkan begitu rajin sembahyang.

Masalahnya, mungkin ada hal lain—di luar urusan Sraddha—yang membuat Pak WK (dan mungkin juga semeton lain) merasa tidak mantap dalam melakukan persembahyangan. Ada kesan seolah-olah, frekwensi bukan jaminan menghasilankan kualitas sembahyang seperti yang diharapkan.

Apa hal lain itu? Rutinitas.

Ya, rutinitas—secara umum—dapat menumpulkan kesadaran (consciousness.) Maksud saya, segala aktivitas yang berubah menjadi rutinitas akan berjalan begitu saja (unconsciusly), tanpa membutuhkan kendali pikiran sadar. Sementara, di sisi lainnya, kesadaran adalah SYARAT MUTLAK bagi kualitas sembahyang. .

Bagaimana mungkin rutin sembahyang justru menumpulkan kesadaran?” mungkin ada yang berpikir demikian. Kita pindah ke paragraf selanjutnya, saya akan elaborasi lebih jauh.

 

Rutin Sembahyang Tapi Tidak Sadar

Apapun yang dilakukan secara konstant, terus-menerus, berulang dari hari-ke-hari selama bertahun-tahun, akan berubah menjadi rutinitas. Termasuk sembahyang.

Rutin, apapun jenis aktivitasnya, ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, semakin rutin suatu aktivitas semakin mudah untuk dilakukan—dalam jangka panjang bahkan bisa sambil terpejam. Ini karena kendali aktivitas sudah terambilalih oleh pikiran bawah-sadar (sub-conscious mind) yang bekerja secara otomatis tanpa menunggu perintah pikiran—bahasa lumarhnya mungkin disebut “reflek.”

Pernah tidak, semeton, melakukan perjalanan agak jauh (dari rumah ke tempat kerja misalnya) dan di tengah jalan dikagetkan oleh bunyi klakson?

Kekagetan itu terjadi karena semeton berkendaraan dengan kesadaran yang tumpul. Dalam artian, aktivitas berkendaraan berjalan secara otomatis alias ‘auto-pilot’—di luar kendali pikiran sadar. Tangan secara otomatis membelokkan stir mobil begitu melewati jalan berkelok—tanpa menunggu perintah dari otak; jari otomatis memencet tombol lampu seins ketika akan menyalip kendaraan yang ada di depan, kaki secara otomatis menginjak pedal rem saat ada kendaraan menepi di depan. Semuanya semeton lakukan secara auto-pilot, di luar kendali pikiran sadar.

Nah, begitu ada sesuatu yang terjadi secara mendadak, suara klakson dari pengendara lain misalnya, atau kendaraan di depan mendadak menepi, pada saat itu semeton baru kembali ke alam sadar, lalu kaget. Andai tidak dikagetkan oleh suara klakson atau kendaraan yang mendadak menepi, mungkin semeton tiba begitu saja di kantor—masih dalam mode ‘auto pilot.’

Pernahkan semeton menyadari hal ini?

Coba kita test. Jika kemarin semeton ngantor, coba ingat-ingat kembali apa saja yang semeton lihat dan dengar (dengan jelas) di sepanjang perjalanan pulang dari kantor ke rumah? Ada ratusan (jika tidak ribuan) benda yang semeton lewati dan ribuan suara juga yang semeton dengar. Nah, dari ribuan benda dan suara itu, apa saja yang semeton bisa ingat?

Saya yakin tidak banyak. Mungkin tidak sampai puluhan. Ini artinya, semeton memang berkendaraan dengan mode auto-pilot, yang bekerja adalah alam bawah sadar (sub-conscious mind) alias TIDAK SADAR SEPENUHNYA.

Kabar baiknya, menurut berbagai penelitian di bidang neurologi dan psikologi (Soon et al. 2008 misalnya), sebagian besar dari kita menjalankan rutinitas secara auto-pilot (tidak dengan kesadaran penuh.) Mulai dari bangun pagi, pipis, BAB, gosok gigi, mandi, sarapan pagi, berangkat kerja, bekerja (kecuali pekerjaan yg sifatnya analitis), pulang kerja, mandi lagi, hingga tidur dan bangun kembali keesokan harinya (kecuali yang biasa merenung sebelum tidur), semuanya kita lakukan begitu saja secara otomatis tanpa banyak menggunakan pikiran sadar.

Ah.. apa iya kita bisa melakukan aktivitas yang begitu banyak dan kompleks sepanjang hari tanpa kendali alam sadar?” mungkin ada yang berpikir demikian.

Jawabannya: Mungkin tidak semua, tetapi sebagian besar aktivitas (berbagai penelitian menyebutkan angka 90 hingga 95%,) IYA, memang berjalan secara auto-pilot dengan hanya mengandalkan memory alam bawah-sadar atau sub-conscious mind (Voss and Paller, 2009.)

Waktu terasa berlalu lebih cepat ketika melakukan banyak aktivitas, sebab lebih banyak aktivitas yang kita lakukan secara auto-pilot, thus tidak semeton sadari, terselesaikan begitu saja, thus rasanya waktu berlalu begitu saja. Sebaliknya, waktu terasa melambat ketika agak senggang, sebab semeton punya ruang lebih banyak untuk berada di alam sadar.

Dalam jangka panjang, waktu juga terasa begitu cepat berlalu; tiba-tiba sudah jadi mahasiswa, tiba-tiba sudah bekerja, tiba-tiba sudah married, tiba-tiba sudah punya anak, dan setelah tidak produktif eh baru sadar ternyata sudah punya cucu. Sudah dipanggil pekak/nini. Inilah yang terjadi pada sebagian besar orang yang selalu sibuk dengan rutinitas tanpa diselingi oleh reakreasi atau sekedar merenung.

Lalu, apa hubungannya dengan sembahyang yang terasa hambar alias kurang mantap?

Hubungannya jelas; setiap aktivitas yang dilakukan secara rutin, selama bertahun-tahun, bisa dipastikan berjalan secara auto-pilot, tanpa kita sadari (unconsciously). Karena berjalan dengan kesadaran tumpul maka tidak meninggalkan kesan thus terasa hambar.

Sebaliknya, sesuatu yang dilakukan dengan sadar (consciously) akan terasa sampai ke sanubari atau jiwa yang paling dalam thus sangat BERKESAN.

Sembahyang, awalnya jelas dilakukan dengan penuh kesadaran, apalagi didasari oleh Sraddha (keyakinan penuh akan keberadaan Tuhan dan kemahakuasaannya.) Namun begitu berubah menjadi rutinitas, sembahyang mulai berjalan begitu saja tanpa diperintah oleh pikiran sadar, thus dalam jangka panjang bisa berjalan secara auto-pilot. Dalam kondisi seperti ini, jelas sembahyang akan terasa tak ada bedanya dengan rutinitas lainnya, berlangsung begitu saja, tanpa kesan.

Apakah saya sedang menganjurkan untuk jarang-jarang sembahyang, sehingga tidak berubah menjadi rutinitas?

TIDAK. Tapi untuk mengembalikan kesadaran yang mulai tumpul, coba hentikan aktivitas sembahyang barang satu hari saja, lalu perhatikan apa yang semeton rasakan.

Jangan khawatir. Jika selama ini memang rutin sembahyang, saya yakin semeton akan merasa gelisah tanpa alasan, setidak-tidaknya akan merasa ada yang kurang. Pada titik ini semeton sudah mendapatkan kembali fungsi pikiran sadar yang sempat terambilalih oleh alam bawah sadar. Selanjutnya tinggal mencari cara agar bisa sembahyang secara rutin dengan kesadaran yang tetap tajam, sehingga bisa lebih khusuk dan terasa lebih mantap. Caranya?

 

Sembahyang Rutin Dengan Kesadaran Pikiran

Pertama, harus didasari oleh Sraddha dan Bhakti; sembahyang dilaksanakan karena yakin akan keberadaan Brahman dan manifestasinya, yakin akan kemahakuasaanNYA, yakin sembahyang akan melahirkan kebahagiaan dan kedamaian di hati. Jika keyakinan ini tidak ada sejak di awal (sekedar ikut apa kata orang tua saja atau sekedar supaya terlihat normal di mata tetangga, misalnya), maka jelas sembahyang takkan banyak berguna.

Kedua, jaga selalu kesadaran (citta & budhi); jangan biarkan bawah-sadar mengambil-alih fungsi pikiran sadar. Terlebih saat sembahyang, ini penting.

Caranya?

Ini sekedar tips dari saya pribadi (mungkin semeton lain menggunakan cara berbeda):

  • Sebelum sembahyang, kecuali sangat tidak memungkinkan, usahakan untuk mandi dan keramas terlebih dahulu. Disamping membersihkan fisik, kepala yang diguyur air akan membuat pikiran sadar terbangun lalu menggantikan fungsi bawah-sadar yang sempat menguasai semeton sepanjang pagi hingga sore. Jangan lupa NIAT-kan mandi untuk membersihkan tubuh dan membangunkan pikiran sadar (karena sebentar lagi semeton akan menghaturkan bhakti kepada Tuhan.) Jika tidak memungkinkan untuk mandi dan keramas, setidaknya basuh wajah dan anggota tubuh lainnya. Fungsinya sama.
  • Setelah berpakaian bersih (minimal pakai senteng/selendang), mulailah sembahyang dengan urutan-urutan persembahyangan yang saya yakin semua semeton sudah tahu (asana, pranayama, karasodana, puja tri sandhya, panca sembah, berdoa, selesai).

Sebagai tambahan, ada beberapa hal (mungkin agak berbeda)—terkait sembahyang—yang ingin saya share pada kesempatan ini. Siapa tahu ada gunanya bagi semeton. Sekalilagi, ini pemahaman saya pribadi (gunakan jika dirasa baik, atau abaikan saja.)

Saya mulai dengan pertanyaan: Apa itu sembahyang?

SEMBAHYANG = SEmeton + MBAH + HYANG.

Lebih rincinya:

  • SEmeton – Sebelum mulai persembahyangan, panggil dan ajaklah semeton lainnya untuk ikut sembahyang. Dalam lingkup terkecil (diri sendiri), panggil dan ajaklah 4 saudara yang menyertai kita sejak lahir untuk ikut sembahyang. Dalam lingkup keluarga, ajaklah semua anggota keluarga untuk sembahyang bersama-sama, terutama untuk sembahyang sehari-hari di lingkungan keluarga. Jika ada anggota keluarga yang malas, berilah pengertian akan pentingnya sembahyang (ayo sama-sama memohon kebaikan dan kedamaian keluarga kita.) Dalam lingkup yang lebih luas, saat rerainan dan odalan misalnya, ajaklah kerabat, sahabat, tetangga, di lingkungan kita untuk sembahyang. Prasyarat untuk bisa melakukan ini tentunya harus mampu membina hubungan ‘pasemetonan’ yang baik terlebih dahulu. Disamping untuk sembahyang bersama, ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk membina hubungan yang lebih harmonis dengan semeton.
  • MBAH – Setelah 4 saudara yang menyertai kita sejak lahir dan semua anggota keluarga siap, ajaklah mereka untuk hormat dan berterimakasih kepada leluhur. Tujuannya adalah untuk memberi hormat sekaligus mohon doa restu kepada leluhur (pitara). Doakan juga agar mereka mendapat kemuliaan. Bagi saya ini penting sebab, saya meyakini sembah saya takkan diterima sebelum saya hormat kepada leluhur yang nyata-nyata dan jelas-jelas bisa saya rasakan jasa-jasanya (melalui merekalah orang tua saya terlahir, mereka juga lah yang membesarkan dan mendidik orang tua saya dahulu, kemudian dari orang tua lah saya lahir, merekalah yang membesarkan dan mendidik saya). Jika kepada mereka yang nyata peran-dan-jasanya saja saya tak mau hormat dan berterimakasih, bagaimana mungkin saya mampu untuk hormat dan bersukur kepada Tuhan yang tidak bisa saya pikirkan (acintya.) Saya merasa, sembah saya kepada Tuhan palsu adanya bila belum hormat dan berterimakasih kepada leluhur.
  • HYANG – Setelah hormat dan berterimakasih kepada leluhur, dilanjutkan dengan mengahturkan sembah bhakti kepada Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa) dan manifestasinya. Memuji kebesaranNYA. Memanjatkan sukur kepadaNYA atas anugerah hidup yang telah diterima. Memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan. Memohon anugerah kebaikan bagi diri sendiri, orang tua, saudara dan mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

 

Lakukan ketiga aktivitas persembahyangan ini dengan kesadaran penuh. Saya yakin semeton akan selalu merasa berkesan setiap kali sembahyang.

Disamping itu, agar kesadaran pikiran benar-benar terjaga selama melakukan persembahyangan, sebelum Puja Tri Sandhya, lakukanlah tahap ‘pranayama’ dengan benar. Ini penting.

Saya tahu guru agama kita di sekolah mengatakan ‘pranayama’ adalah mengatur (menarik-menahan-dan-menghembuskan) nafas. Tetapi, pernah tidak semeton bertanya mengapa perlu mengatur nafas? Apa tujuannya?

Sesungguhnya ini tidak sekedar mengatur nafas, melainkan untuk mengembalikan kesadaran pikiran sekaligus menyatukan tiga lapisan tubuh yang membentuk diri kita, yakni:

(1) Sthula Sarira, yakni badan kasar yang terdiri dari organ tubuh dan memiliki panca indra untuk berinteraksi dengan obyek-obyek di luar diri kita.

(2) Suksma Sarira, yakni badan halus yang pengatur kerja badan kasar di atas, konkretnya adalah otak (pusat kendali aktivitas tubuh sekaligus sebagai pemikir) yang oleh para ilmuan dibagi menjadi dua wilayah, yakni: pikiran sadar (conscious mind) dan pikiran bawah-sadar (sub-conscious mind.) Emosi, ambisi/keinginan, logika-logika dan perhitungan-perhitungan semuanya ada di sini. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, ketika dua wilayah ini bekerja sendiri-sendiri, terlebih bertentangan, maka terjadi konflik lalu kekacauan pikiran. Ketika kedua wilayah ini bersinergi secara harmonis, saling mengisi dan saling mendukung, maka timbul pikiran yang jernih, kerja yang efisien, dan tentunya hasil yang optimal. Konkretnya, ketika NIAT (pikiran sadar/conscious mind) didukung oleh UPAYA/KERJA (pikiran bawah-sadar/sub-conscious mind), maka akan terjadi kerja yang optimal thus menghasilkan sesuatu yang diinginkan secara optimal.

(3) Anta Karana Sarira, yakni Jiwa (atman).

Kita terdiri dari tiga lapis tersebut. Artinya, badan kasar (sthula sarira) dan badan halus (suksma sarira) tidak berfungsi alias mati bila tidak ada atman (anta karana sarira.) Sebaliknya, atman tidak bisa bergerak (tidak memiliki daya hidup) bila tidak memiliki badan kasar dan badan halus. Dengan kata lain, untuk dapat bergerak (menjalankan tugas-tugas kehidupan) atman diberi badan kasar dan badan halus.

Nah,’pranayama’ dalam persembahyangan kita lakukan untuk mengembalikan pikiran sadar yang mungkin sempat terambilalih oleh pikiran bawah-sadar, sekaligus membuat ketiga lapis diri kita menyatu, kokoh, dan mantap dalam melakukan sembah bhakti. Dengan pranayama, ‘pikiran (mind)+tubuh (body)+atman (soul)’ kita harmoniskan sehingga ketiga lapis tubuh kita benar-benar bisa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tidak terpecah-pecah.

Sekali lagi, pranayama adalah tahapan penting dalam persembahyangan. Lakukanlah dengan pelan-pelan. Jangan buru-buru. Terutama pada saat sembahyang bersama, pemandu puja kerap seperti dikejar-kejar debt-collector. “Pranayama…” belum sempat nahan nafas sudah langsung disusul dengan “karasodana..,” wah bagaimana mana mau mengembalikan pikiran sadar, bagaimana mau menyatukan diri, kalau diburu-buru begitu?

Kepada mangku atau siapa saja yang memandu puja, tolong jangan buru-buru. Berilah pemedek waktu yang cukup untuk melakukan pranayama dengan khusuk.

Setelah ketiga lapis tubuh menyatu, kokoh dan mantap, barulah puja/doa bisa dilaksanakan dengan baik.

Sekalilagi, ini hanya pemahaman saya pribadi. Terutama kepada bapak WK yang sudah bertanya via ibox di Facebook saya ucapkan terimakasih. Gunakan cara ini bila dirasa baik dan abaikan bila tidak.

Sebagai tambahan, saya juga ingin share pemikiran mengenai aplikasi sembahyang dan kesadaran pikiran dalam kehidupan sehari-hari.

 

Aplikasi Kesadaran Pikiran dan Sembahyang Dalam Kehidupan Sehari-hari

Entah orang lain. Saya pribadi meyakini bahwa saya memiliki hubungan timbal-balik dengan pihak lain. Hubugan timbal-balik ini ada yang horizontal dan vertikal.

Hubungan horizontal adalah hubungan dengan SEMETON (saudara) sesama manusia dalam lingkup yang paling luas—terlepas dari apapun latarbelakang suku, agama, ras, golongan dan bangsanya. Sedangkan hubungan vertikal adalah hubungan dengan MBAH (Orang Tua/Leluhur) dan HYANG (Tuhan dan manifestasinya.)

Untuk menjalankan tugas hidup (swadharmaning urip) dan mencapai tujuan hidup (moksartham jagadhita), maka yang pertama-tama harus kita lakukan adalah membina hubungan horizontal dengan sesama semeton umat manusia dengan sebaik-baiknya. Setelah hubungan horizontal terbina dengan baik maka hubungan vertikal kepada orang tua (leluhur) dan Tuhan akan lebuh mudah diwujudkan.

Dengan kata lain, kita tidak bisa mengabaikan hubungan horizontal untuk bisa menegakkan hubungan vertikal. Konkretnya:

  • Orang Tua dan Leluhur akan bangga memiliki anak keturunan yang berguna bagi lingkungan dan masyarakat luas. Sebaliknya, mereka akan malu (bahkan mungkin kecewa dan marah) bila kita menjadi perusak hubungan baik antar saudara sesama manusia.
  • Kita tidak merasa malu menyerahkan diri bersama karma kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (dengan manifestasinya). Beliau juga bangga dan puas menerima bhakti kita. Sebaliknya, beliau tidak akan berkenan (bahkan mungkin jijik) menerima persembahan diri kita yang dipenuhi oleh karma buruk terhadap sesama manusia dan mahluk ciptaanNYA yang lain.

Nah, hubungan vertikal dan horizontal yang baik itu tidak bisa diwujudkan bila kita—dalam kehidupan sehari-hari—lebih sering menggunakan pikiran bawah-sadar (unconscious mind) ketimbang pikiran sadar (conscious mind.)

Agar selalu dalam kondisi sadar, sering-seringlah melakukan ‘pranayama’ kapanpun dan dimanapun. Sebisa mungkin buatlah kondisi agar sthula sarira, suksma sarira dan anta karana sarira selalu bersinergi, bersatu, kokoh dan mantap. Setidak-tidaknya, upayakan agar pikiran sadar selalu dalam kondisi terjaga (bangun) sehingga tidak terambilalih oleh fungsi bawah-sadar.

Memang ada ‘harga’ yang harus dibayar ketika aktivitas dilaksanakan dengan kesadaran penuh, yaitu: aktivitas berjalan lambat bahkan mungkin jauh lebih lambat dibandingkan jika dilaksanakan dengan refleks bawah-sadar. Berkendaraan misalnya, ketika dilakukan dengan kesadaran penuh maka semeton menjadi pelan-pelan, sangat hati-hati.

Coba perhatikan bagaimana cara bicara orang-orang yang berkesadaran (spiritual) tinggi, pedanda atau bikkhu budha misalnya, bagaimana cara mereka berjalan, ini yang paling mudah kita lihat; sangat pelan. Bukan dibuat-buat supaya terkesan gimana gitu, melainkan karena mereka beraktivitas dengan kesadaran penuh, mereka selalu berusaha mengendalikan pikiran-ucapan-dan perbuatannya dengan kesadaran penuh. Beda dengan kita yang serba buru-buru, beda dengan kita yang lebih banyak dikendalikan oleh pikiran bawah-sadar ketimbang sadar.

Kita yang masih muda, yang masih banyak memiliki ambisi dan emosi, tentunya tidak mungkin untuk memiliki kesadaran tinggi seperti beliau-beliau yang sudah ‘meraga putus.’ Kita masih butuh pikiran-ucapan-dan tindakan yang serba cepat untuk mengekspresikan emosi dan mewujudkan ambisi kita. Namun, kiranya, bisa belajar sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah. Sebab, bagaimanapun juga, cepat atau lambat kita juga akan memasuki usia senja dan pada akhirnya harus meninggalkan badan untuk kemudian berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala perbuatan baik dan buruk kita, tanpa terkecuali.

Your reaction?
omg omg
0
omg
haha haha
0
haha
grrr grrr
0
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
0
wtf
suka suka
0
suka
hmm hmm
0
hmm
ngeri ngeri
0
ngeri
huek huek
0
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Ketika Sembahyang Terasa Hanya Sebatas Rutinitas

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz