Memahami Karakter Orang Bali Part-1: Buleleng, Tabanan, Jembrana


Menilai orang lain, dilihat dari sudut pandang norma dan etika, mungkin kurang baik. Salah-salah bisa dibilang usil, “jangan sok menilai orang lain, urus saja dirimu sendiri” nasehat orang tua kita dahulu.

Tetapi, kita juga menyadari bawa, masing-masing individu—dan kelompok secara kolektif—memiliki karakter berbeda. Untuk bisa membina hubungan yang baik, perlu saling memahami. Dan untuk bisa memahami perlu tahu karakter orang lain.

Ketika saya tinggal di Pulau Jawa misalnya. Untuk bisa membaur dan membina hubungan baik dengan masyarakat setempat maka mempelajari Bahasa Jawa saja tidaklah cukup, saya wajib memahami karakter Orang Jawa.

Hasilnya?

Tak hanya bisa ngebon di warung sotonya Mbak Sri, malahan saya sering diberi kelonggaran waktu dalam membayar uang kontrakan rumah.

Jika ada yang terlanjur menganggap “orang Bali bukan type perantau kecuali transmigran atau keluarga pejabat yang kebetulan bertugas di luar daerah,” setidaknya sampai dengan era 90-an, anggapan anda tidak keliru.

Tetapi, saya tergolong pengecualian. Saya tinggal di Jawa bukan karena punya ayah seorang Jaksa/Hakim/Polisi/Tentara/Pejabat/Dokter yang sedang bertugas di sana. Juga bukan anak seorang juragan yang punya uang banyak untuk berkuliah di luar Bali. Samasekali bukan.

Sebaliknya, saya terpaksa merantau keluar Bali justeru karena tak punya seorang ayah, setelah beliau meninggal tahun 1987 silam, tak punya tanah untuk dijual, tak punya warisan untuk dikelola dan tak punya skill untuk diandalkan.

Bisa dibilang saya pergi “ngutang-ngutang iba” ke Jawa, setelah lulus SMA, hanya berbekal pakaian yang melekat di badan, tekad, dan pintar-pintar membawa diri—termasuk belajar memahami karater orang-orang dari suku lain, terutama Jawa.

Salah satu pelajaran yang saya peroleh ketika tinggal di sana, yaitu: karakter Orang Jawa ternyata berbeda-beda. Karakter Orang Jawa Timur berbeda dengan Jawa Tengah dan Barat. Lalu di Jawa Tengah sendiri, karakter Orang Solo berbeda dengan Orang Jogja, berbeda dengan Orang Magelang, berbeda dengan Orang Semarang, berbeda dengan Orang Temanggung, berbeda dengan Orang Boyolali, Kudus, Rembang, Pati, Juwana, Demak, Kendal, Pekalongan, Tegal, Brebes, Banyumas, Puwokerto, Purworejo, dlsb.

Ya, tidak usah beda provinsi atau kabupaten. Bahkan masing-masing individu pun memiliki karakter berbeda. Tetapi, tidak mungkin juga bagi kita untuk memahami karakter orang lain satu-per-satu, bukan?

Yang bisa dilakukan maksimal mencari kemiripan karakter masyarakat di suatu lingkungan, terutama yang paling menonjol. Kemiripan karakter paling menonjol inilah yang kemudian, biasanya, dianggap mewakili karakter masyarakat di suatu daerah. Misalnya: Karakter Orang Jawa, Orang Bali, Orang Batak, Orang Borneo, Sulawesi, Papua, dan seterusnya.

Demikian juga dengan di Bali sendiri. Ada karakter Orang Karangasem, Orang Denpasar, Orang Badung, Orang Buleleng, Orang Tabanan, Orang Jembrana, Orang Gianyar, Orang Kelungkung dan Orang Bangli.

Jika anda non-Bali yang baru pindah ke Bali dan ingin membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat, maka anda wajib memahami karakter Orang Bali. Apalagi jika ‘sukses-atau-gagalnya’ profesi yang anda jalankan banyak bergantung pada seberapa mampu anda membina hubungan baik dengan Orang Bali.

Jika anda semeton Bali dari Karangasem dan ingin berbisnis dengan semeton dari Badung, misalnya, maka sedikit-banyaknya anda juga perlu memahami karakter Orang Badung agar hubungan bisnisnya berjalan lancar.

Jika anda semeton Bali dari Buleleng dan akan diambil istri oleh semeton dari Denpasar, maka anda juga wajib memahami karakter Orang Denpasar agar bisa diterima sebagai menantu yang baik.

Pemahaman karakter dengan cara seperti ini memang berpotensi menjadi penyamarataan (stereotyping), istilah Balinya “caruk banyu” atau “aut kelor,” yang besar kemungkinannya tidak akurat. Namun, toh, stereotype sudah ada sejak dahulu, “a stereotype exists for reasons” kata rekan-rekan pramuwisata yang rata-rata jago berbahasa Inggris.

Yang akan saya sampaikan pun, sedikit-banyaknya, juga dipengaruhi oleh stereotype yang telah ada selama ini. Namun sebelum saya tulis, sudah saya ‘konfirmasi’ terlebih dahulu dengan pengalaman saya pribadi berinteraksi dengan orang dari berbagai daerah di Bali selama ini, penuturan teman/tetangga dan sumber lainnya.

Dan, sebelum berbicara tentang karakter Orang Bali berdasarkan daerah asalnya, lebih lanjut, ijinkan saya menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu:

  1. Sudah ada beberapa artikel (dan buku) lain yang membahas tentang karakter orang Bali, termasuk karakter orang Bali di kabupaten tertentu. Disamping sudut pandang berbeda, apa yang sudah terpublikasi selama ini saya lihat belum mewakili karakter orang Bali di semua kabupaten.
  2. Artikel ini saya buat untuk non-Bali yang ingin membina hubungan baik dengan orang Bali, dan semeton Bali yang ingin mengeratkan tali persaudaraan dengan semeton Bali dari kabupaten lain yang mungkin memiliki karakter berbeda.
  3. Di sini saya mengungkapkan karakter baik sekaligus kurang baiknya. Namun demikian, semuanya berangkat dari keinginan baik, yaitu: membangun kesalingpengertian dan kesalingpahaman yang lebih baik diantara sesama orang Indonesia dalam lingkup luas dan sesama Orang Bali dalam lingkup yang lebih sempit.
  4. Popbali bukan lembaga peneliti bukan pula lembaga pendidikan. Dan saya sendiri bukan seorang peniliti atau pendidik. Semua artikel yang saya tulis disini sudah pasti opini pribadi yang berangkat dari pengalaman dan pemikiran pribadi yang sedikit-banyaknya mengandung unsur subyektivitas. Mereka yang butuh hasil penelitian saya sarankan untuk membaca jurnal-jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh lembaga peneliti macam LIPI atau unversitas.
  5. Bukan karena merasa tahu sesuatu, saya menulis di sini semata-mata karena ingin menyampaikan sesuatu. Silahkan digunakan jika dirasa bermanfaat dan abaikan bila tidak.

Karena keterbatasan ruang dan waktu, tulisan ini saya sajikan secara berseri.

Dalam Part 1 ini khusus membahas Karakter Orang Buleleng, Tabanan dan Jembrana.

 

Karakter Menonjol Orang Buleleng

Beberapa karakter paling menonjol dari Orang Buleleng, setidaknya dalam pandangan saya pribadi, antara lain: egaliter, skeptik, open-minded dan hangat.

Egaliter dalam artian, semua orang dipandang dan diperlakukan sama/setara. Tidak ada istilah kelas. Dalam percakapan sehari-hari misalnya, mereka lebih banyak menggunakan Bahasa Bali lumrah cenderung kasar (kadang bercampur Bahasa Indonesia) dibandingkan tata bahasa Bali halus—terlepas dari siapapun lawan bicaranya. Cai, awake, nani, kola, siga, dst, adalah sebutan “kamu” dan “aku” yang lumrah digunakan sehari-hari. Bagi mereka ini tidak kasar, tapi “akrab” katanya. Ada juga sebutan “ana” (=saya) dan “ente” (=anda) yang hanya digunakan oleh orang Buleleng.

Jika anda ingin tahu dimana istilah ningrat dan non-ningrat paling banyak ditentang di Bali, jawabannya: di Buleleng. Ketika bertemu orang ningrat yang selalu berbahasa Bali halus—entah karena memang ingin menunjukkan keningratannya atau karena kebiasaan semata—akan diledek dengan “Tyang sampun ngajeng, I ratu sampun ngeleklek?” tentu saja sambil tertawa sinis.

Masih terkait dengan karakter egaliternya. Dalam menilai sesuatu yang sifatnya tidak terlalu prinsipiil, orang Buleleng lebih banyak menggunakan ‘common-sense’ dibandingkan pakem-pakem tertentu. Bagi mereka, sesuatu yang “masuk-akal” jauh lebih penting dibandingkan aspek lain—adat dan tradisi misalnya. Mereka tidak suka hal-hal ribet.

Entah karena tidak ada yang terlalu kaya atau karena sifat egaliternya, yang jelas batasan dikotomi “orang kaya” vs “orang miskin” juga relatif tipis di Buleleng. Upacara Ngaben misalnya, ya ngaben saja—tidak ada istilah “Pelebon Agung” atau “The Royal Ngaben.”

Bukan hanya terbuka dalam menyampaikan sesuatu. Orang Buleleng juga sangat terbuka terhadap nilai-nilai, konsep-konsep dan ide-ide baru—baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar. Bisa dibilang tidak ada yang “tenget” (=tabu) bagi mereka, asal masuk-akal. Bapak-bapak bertattoo atau berambut pirang atau mengenakan kalung rantai ala Harley Davidson’s riders, misalnya, bukan berarti mereka mantan preman atau anggota ormas tertentu. Itu hal biasa saja, bukan sesuatu yang luar biasa.

Mungkin karakter egaliter menonjol inilah yang membuat Orang Buleleng cenderung skeptik—istilahnya “meboya”—terhadap banyak hal terkait atribut. Mereka meboya terhadap hal-hal yang berbau feodal. Mereka meboya terhadap hal-hal yang ditabukan. Mereka meboya terhadap orang yang memposisikan dirinya lebih—entah entah itu dalam hal soroh/klan, strata ekonomi, strata pendidikan dan atribut-atribut sejenisnya. Terhadap perilaku yang dinilai sengaja memamerkan kelebihan atribut, Orang Buleleng katakan “Ake sing taen ngon!” (=aku tidak pernah silau.)

Dalam pergaulan Orang Buleleng tergolong hangat dan ‘easy going. Suka berkelakar, ceplas-ceplos dan tidak mudah tersinggung untuk hal-hal yang sifatnya tidak prinsipiil. Jika anda sedang bepergian sendiri dan butuh teman ngobrol, menemukan orang Buleleng mungkin suatu keberuntungan.

Kombinasi karakter menonjol inilah yang membuat orang Buleleng relative mudah bergaul dengan orang/kalangan manapun, termasuk dari etnis-ras-bangsa-dan-agama manapun.

Ingin gaul dengan Orang Bali tanpa mengkhawatirkan batasan-batasan dan aturan ini-itu selain common-sense? Coba gaul dengan Orang Buleleng.

Orang Buleleng playboy/playgirl?” mungkin ada yang berpikir begitu.

Ya, saya pernah dengar stigma “playboy/playgirl” disematkan pada Orang Buleleng.

Jika “playboy/playgirl” dalam hal ini maksudnya suka mempermainkan perasaan wanita/pria, saya pikir, relative. Maksud saya, seperti tindak kriminalitas terjadi bukan karena niat pelaku saja, tetapi juga tersedianya kesempatan. Dalam artian, bisa terjadi pada siapa saja (tidak pada orang Buleleng semata), hanya soal niat dan kesempatan saja.

Tetapi, jika “playboy/playgirl” yang dimaksud adalah mudah “move-on” (baca: berganti pacar) bisa jadi, IYA, jika merujuk karakter dasar Orang Buleleng yang lebih mengutamakan aspek “make-sense” ketimbang hal-hal lainnya. Ketika timbul ketidakcocokan di tengah jalan misalnya, bisa jadi Orang Buleleng lebih memilih untuk mengakhiri ketimbang mempertahankan hubungan yang pada akhirnya hanya akan saling menyakiti saja.

Tapi bukan berarti tidak ada down-side. DALAM KADAR BERLEBIH (sekali lagi dalam kadar berlebih), kombinasi karakter menonjol Orang Buleleng ini bisa jadi “menerabas batas” (crossing the lines) yang tentu saja tidak menarik bagi orang luar dan tidak sehat bagi Orang Buleleng sendiri. Misalnya:

Kesetaraan/ekualitas dalam pergaulan sosial, baik. Tetapi “meboya” terhadap kebiasaan berbahasa halus, samasekali tidak perlu. Kesetaraan tidak harus dicapai dengan cara menyamaratakan kebiasaan berbahasa kasar. Kesetaraan juga bisa dicapai dengan cara menyamaratakan kebiasaan berbahasa halus bagi semua kalangan. “Maaf, saya Orang Buleleng, tiada terbiasa berbahasa halus,” fine. Pertanyaannya: Jika kebiasaan berbahasa kasar sendiri minta dimaklumi oleh orang lain, mengapa kebiasaan orang lain berbahasa halus tidak bisa dimaklumi bahkan wajib dicibir?

Mengubah pakem kesenian Bondres lama menjadi Bondres kreatif, ala Dwi Mekar, bagus. Tetapi mengubah pakem “Tari Pergaulan Joged” menjadi “Pertunjukan Joged Buang/Porno” tanpa memandang usia penonton, samasekali tidak bagus.

Nonton Bola bareng, di Bale Bengong atau Bale Banjar, tak ada salahnya. Tetapi nonton film biru bareng sama tetangga, kakek-nenek dan anak-anak, salah. Sangat salah.

Terbuka terhadap hal-hal baru yang bermanfaat, seperti bekerja di kapal pesiar yang menulari generasi muda Buleleng beberapa tahun belakangan, sehat. Sayangnya ada juga pemuda Buleleng yang terbuka terhadap gaya hidup tak sehat seperti nongkrong di café remang-remang atau mengkonsumsi obat terlarang. Pertumbuhan café remang-remang dan pengguna narkotika di Buleleng, belakangan, sudah merambah sampai ke desa dan banjar-banjar terpencil. “Sudah sangat mengkhawatirkan,” kata kakak saya.

Skeptik terhadap hal-hal yang berpotensi merugikan (seperti tindak penipuan), perlu. Tetapi skeptik terhadap hal-hal positive (seperti kesuksesan/kecerdasan/kesantunan orang lain) yang bisa dijadikan inspirasi untuk memajukan diri sendiri, menurut saya, kontra-produktif.

Kelakar dan basa-basi sangat berguna untuk memecah kebekuan komunikasi atau obrolan ringan yang berkembang menjadi terlalu serius. Akan tetapi situasi seperti ini okasional sifatnya, jarang terjadi. Terutama di lingkungan kerja/bisnis, kelakar dan basa-basi lebih sering tidak sesuai ketimbang sesuai.

Sikap hangat dan mudah akrab, dalam batasan wajar, bagus. Namun dalam kadar berlebih bisa dipersepsikan sebagai sikap “SKSD” atau bahkan “murahan”—sekalilagi, dalam kadar berlebih.

 

Karakter Menonjol Orang Tabanan

Tiga karakter Orang Tabanan yang paling menonjol, dalam padangan saya, yaitu: Halus, sopan dan hati-hati.

Secara geografis, antara Buleleng dan Tabanan hanya dibatasi oleh Bukit Batu Karu. Tetapi, entah karena faktor geografis (udara yang lebih dingin dan curah hujan yang lebih banyak) atau karena faktor lain, karakter Orang Tabanan hampir berbanding terbalik jika dibandingkan dengan karakter Orang Buleleng.

Jika Orang Buleleng lebih sering menggunakan Bahasa Bali ‘kesamen’ (lumrah) yang cenderung kasar, Orang Tabanan justru lebih sering menggunakan Bahasa Bali yang cenderung halus tentu saja sesuai pakem ‘sor-singgih’ lawan bicara.

Jika Orang Buleleng sangat eksplisit dan ceplas-ceplos dalam menyampaikan sesuatu, Orang Tabanan sangat berhati-hati dan cenderung implisit, istilah Balinya “mekulit.” Jika ada yang dianggap tidak sesuai, Orang Tabanan lebih memilih diam ketimbang mengutarakannya. Jikapun diutarakan biasanya disampaikan secara implisit.

Jika Orang Buleleng mengabaikan (bahkan mencibir) perbedaan ningrat dan non-ningrat, Orang Tabanan masih sangat menghargai struktur seperti demikian. Secara umum, keberadaan orang ningrat (Tri Wangsa) di Tabanan masih sangat dihormati.

Jika Orang Buleleng cenderung menerabas pakem-pakem dan hal-hal yang ditabukan, Orang Tabanan justru masih sangat memegang hal-hal seperti itu. Nilai adat dan tradisi di Tabanan menjadi hal yang paling penting untuk diperhatikan. Apa-apa harus merujuk pada tradisi (kebiasaan turun-temurun) dan awig desa pekraman.

Orang Tabanan tidak mudah mengadopsi hal-hal baru terutama yang datangnya dari luar. Bisa dibilang, mereka sangat hati-hati. Jarang menemukan bapak-bapak di Tabanan yang tubuhnya dipenuhi oleh tattoo atau berambut pirang atau mengenakan kalung rantai berukuran besar. Kalaupun ada, hampir bisa dipastikan mereka adalah preman atau mantan preman atau anggota ormas tertentu.

Dalam pergaulan kawula muda, Orang Tabanan bukan type yang ‘easy-going’ seperti orang Buleleng. Mereka sangat hati-hati ketika bergaul dengan orang yang dianggap masih asing. Anda perlu kenal mereka tahunan jika ingin diperlakukan sebagai kawan-akrab.

Jika anda dalam perjalanan sendiri dan butuh teman mengobrol, ketemu Orang Tabanan mungkin kekurangberuntungan. Orang Tabanan minimalis dalam obrolan. Jika ingin mendapat respon agak panjang, anda perlu menyampaikan pertanyaan yang sifatnya ‘open-ended’ (jangan yang closed-ended), itupun jika anda cukup beruntung. Jangan lupa, seperti yang disarankan oleh Putu Wijaya (Orang Tabanan yang tinggal di Jakarta), “harus hati-hati sekali,” jangan sampai menimbulkan ketersinggungan.

Saya tidak bermaksud mengatakan Orang Tabanan sulit diterima dalam pergaulan. Melainkan mereka sendirilah yang sepertinya memang sengaja memilih untuk membatasi diri. Mereka hanya mudah akrab terhadap sesama Orang Tabanan atau orang luar yang sudah dikenal dengan sangat baik.

Seperti halnya karakter positive Orang Buleleng yang dalam kadar berlebih bisa berubah menjadi negative, karakter Orang Tabanan juga begitu. Misalnya:

Kecenderungan berperilaku sangat sopan dan halus sudah pasti juga mengharapkan imbal-balik yang minimal sama. Dalam batasan wajar, tentu sangat bagus. Namun dalam kadar berlebih bisa berubah menjadi ekstra-sensitive dan mudah tersinggungan, bahkan untuk sesuatu yang mungkin tidak disengaja oleh orang lain.

Batasan hati-hati dan tertutup sangat tipis. Dalam artian, sikap hati-hati dalam kadar berlebih bisa berubah menjadi perilaku menutup diri. Di era kesejagatan seperti sekarang, dimana batasan-batasan nyaris tak ada lagi, sikap hati-hati sangatlah penting, namun sikap terbuka—terutama dalam mengdopsi hal-hal baru yang sifatnya positive—tak kalah pentingnya.

Sedikit bicara dan meminimalkan basa-basi, bagus. Namun dalam kadar berlebih bisa berubah menjadi sikap ‘rigid’ alias dingin yang tentu saja kontra-produktif dalam pergaulan luas.

 

Karakter Menonjol Orang Jembrana

Karakter paling menonjol Orang Jembrana, dalam pandangan saya, open-minded seperti Orang Buleleng dan halus seperti Orang Tabanan.

Ya. Secara geografis sebagian wilayah Jembrana berbatasan dengan Buleleng (Melaya-Gerokgak), sebagiannya berbatasan dengan wilayah Tabanan (Pekutatan-Pupuan) dan sisanya berbatasan dengan Ketapang, Banyuwangi (Jawa Timur.) Saya menduga, banyak Orang Jembrana yang ‘uwed’ (leluhurnya) berasal dari Buleleng dan Tabanan.

Orang Jembrana yang tinggal di Kecamatan Melaya cenderung berkarakter open-minded seperti Orang Buleleng yang tinggal di Kecamatan Gerokgak. Gaya pergaulan generasi mudanya bisa dibilang sangat mirip (jika tidak sama persis) dengan gaya pergaulan generasi muda Buleleng pada umumnya. Terbuka, hangat, dan easy-going.

Kemudian Orang Jembrana yang tinggal di Kecamatan Pekutatan cenderung berkarakter hati-hati seperti Orang Tabanan yang tinggal di Kecamatan Pupuan. Mereka masih sangat memegang tradisi layaknya Orang Tabanan. Dan tidak mudah mengadopsi nilai-nilai baru terutama yang berasal dari luar lingkungan mereka. Gaya pergaulan generasi mudanya juga sangat mirip dengan gaya pergaulan pemuda Tabanan pada umumnya. Halus, sopan dan sangat berhati-hati.

Meskipun tidak seperti Orang Tabanan, penggunaan Bahasa Bali dalam percakapan sehari-hari Orang Jembrana pada umumnya masih lebih halus dibandingkan Orang Buleleng. Disamping dialeknya yang lebih mendekati Orang Tabanan, penggunaan ‘sor-singgih’ dalam percakapan mereka masih tergolong kental seperti Orang Tabanan.

Sementara itu kehadiran Orang Banyuwangi dan Orang Madura, di kabupaten ujung Barat Pulau Dewata ini, tentu saja menjadi corak tersendiri yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Jika anda memasuki Bali dari arah Barat (Gilimanuk), anda baru akan melihat suasana Bali setelah memasuki perbatasan Jembrana-Antosari (Tabanan). Sebelum itu, kecuali memperhatikan pintu gerbang bertulisakan “Gilimanuk,” mungkin anda pikir masih berada di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

Inilah yang menjadi corak khas Jembrana yang tidak mirip dengan Tabanan maupun Buleleng, yakni: terbuka dan sangat toleran terhadap pendatang. Meskipun Buleleng dan Tabanan juga sangat toleran, Jembrana mungkin yang paling toleran.

Untuk down-side nya Orang Jembrana, anda bisa mengkombinasikan down-sidenya Orang Buleleng dengan Orang Tabanan.

Secara keseluruhan itulah karakter Orang Buleleng, Tabanan dan Jembrana, dalam pandangan saya pribadi yang bisa jadi berbeda (atau sama) dengan pandangan orang lain.

Satu hal yang tidak boleh diabaikan dalam hal ini. Pergaulan, sehari-hari, sangat berpengaruh terhadap karakter masing-masing orang.

Karakter Orang Buleleng yang lahir dan besar di luar Buleleng misalnya, jelas tidak mewakili karakter Orang Buleleng pada umumnya. Karakter keluarganya Pasek Suardika (polisi Demokrat yang belakangan menjadi anggota DPD RI) atau keluarga besarnya Gede Ardika (mantan Menteri Pariwisata era Megawati) atau keluarga besar Panji Tisna yang tinggal di Eropa, meskipun semuanya asal Buleleng, sangat mungkin tidak mewakili karakter Orang Buleleng pada umumnya.

Demikian juga karakter Orang Tabanan yang banyak menghabiskan waktunya di luar Tabanan, seperti karakter leluarga Putu Wijaya (sineas nasional) atau keluarga Putu Setia (wartawan Tempo yang belakangan jadi Sulinggih) atau keluarga besar Ida bagus Putu Dunia (Mantan Kasau Era SBY), bisa jadi tidak mewakili karakter Orang Tabanan pada umumnya.

Oh iya, sebelum lupa, sebagai bentuk transparansi perlu saya sampaikan bahwa saya pribadi adalah Orang Bali yang lahir dan besar di Buleleng. Meskipun pernah di hidup di luar Bali dan banyak menghabiskan waktu di Denpasar, bisa diasumsikan karakter saya masih sangat kental beraroma “Bulelenge, es toke, peteke bulun matane.” Meskipun tak selalu anti-mainstream (ada banyak hal baik yang saya ‘prise’ dari mainstream), tentu saja kadang saya juga “meboya.”

Dan terhadap hal-hal tertentu saya masing sering “ngon” alias terkagum-kagum; tidak bisa lantang mengatakan “ake sing taen ngon!” seperti orang Buleleng pada umumnya. Karakter Orang Bali yang sulit dibedakan ketika sedang berdiskusi di media sosial terkait topik politik, misalnya.

Saya sering ‘ngon’ menemukan komentar pengguna FB asal Tabanan yang sangat kasar, kadang disertai caci-maki yang samasekali tak layak dibaca. Sebaliknya saya juga ‘ngon’ membaca komentar pengguna FB asal Buleleng yang tidak hanya halus, tapi juga terkesan cool. Keduanya tidak mewakili karakter masyarakat setempat pada umumnya.

Apakah ini “anomali” biasa? Atau fenomena “akun alter-ego” yang konon sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perilaku pengguna media sosial? Entahlah. Yang jelas sampai saat ini saya masih sering ‘ngon.’

Apapun itu, masing-masing memiliki sisi baik sekaligus sisi kurang baik.

Bagi non-Bali, karakter baik yang saya sampaikan di sini mungkin bisa dijadikan inspirasi, sedangkan yang kurang baik bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk “memaklumi” (bukan mencibiri atau membully) bila suatu ketika menyaksikan perilaku orang Bali yang kurang baik.

Sedangkan bagi semeton Bali, karakter baik yang saya sampaikan di sini mungkin bisa dipertahankan agar selalu baik dan yang kurang baik bisa dijadikan bahan introspeksi-sekaligus-koreksi diri sehingga menjadi lebih baik ke depannya.

Pada Part-2 dari seri “Memahami Karakter Orang Bali” ini akan saya sajikan karater Orang Karangasem, Kelungkung dan Bangli. Sedangkan karakter Orang Denpasar, Badung dan Gianyar yang mungkin paling anda tunggu-tunggu akan saya sajikan di bagian terakhir.

Untuk sementara, jika anda punya pandangan atau pengalaman berbeda ketika berinteraksi dengan Orang Buleleng, Tabanan atau Jembrana, silahkan disampaikan via ruang komentar di bawah.

Your reaction?
omg omg
4
omg
haha haha
1
haha
grrr grrr
5
grrr
hiks hiks
3
hiks
wtf wtf
0
wtf
suka suka
5
suka
hmm hmm
1
hmm
ngeri ngeri
1
ngeri
huek huek
5
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Memahami Karakter Orang Bali Part-1: Buleleng, Tabanan, Jembrana

0

Comments 14

  1. Yen nepuk driver pariwisata uling bleleng nak luung satuane, ade deen tutur tawah2 ne pesu. Yen jak driver uling tabanan bengong2 be ngudik hp ^.^

    1. Ije ente ngantre owk?? Asane sesai ngajak tamu oo?? Nyen nwang tepuk dijln pang melah ban nyapatin,
      Salam bulldog..

  2. Amon “gerit” sesai ngenah.
    Amon “Paedah” sing taen ngenah…….hehe
    Ya begitulah…..!!

  3. Sebagai keturunan Busungbiu-Buleleng yang lama merantau di Jakarta, karakter buleleng menjadikan kita berani dan survive di perantauan.

    Salam BULDOG

  4. Pertamakali tiang merantau ke badung, ngelah timpal anak ningrat, jeg meslimputan bibihe ngomong. Kayang ked jani. Asane caket layahe.
    Tiang ngantosang lanjutanne nggih?…
    Matur suksme….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz