Potensi Serangan ISIS Besar, BIN Minta Revisi UU Terorisme Segera Selesai


Potensi Serangan ISIS di Indonesia Besar

Potensi serangan oleh simpatisan ISIS di Indonesia, menurut Kepala BIN Sutiyoso, besar. Oleh karenanya ia meminta agar Revisi Undang Undang Terorisme segera selesai.

“Potensinya gede ya,” ungkap Sutiyoso di sela-sela acara silaturahmi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Senin (11/7.)

Ada beberapa faktor yang membuat potensi itu besar, menurut Sutiyoso, diantaranya:

Pertama, jumlah simpatisan ISIS dan mantan kombatan Suriah banyak.

Kedua, jumlah narapidana dan mantan narapidana terkait terorisme juga banyak.

Ketiga, seruan juru bicara ISIS kepada simpatisannya di seluruh dunia untuk melakukan aksi terorisme di negara masing-masing, termasuk Indonesia.

 

Sejumlah Masjid Telah Disusupi ISIS

Berdasarkan catatan kepolisian pada November 2015 lalu, terdapat 384 orang warga negara Indonesia yang sudah terkonfirmasi bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah. Sebanyak 46 di antaranya sudah kembali ke Indonesia. Mereka yang kembali ini kemungkinan menyebarkan sekaligus merekrut simpatisan ISIS di Indonesia.

Menurut guru besar sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN), Prof Doktor Bambang Pranowo dan peneliti radikalisme Doktor Najib Azca dari Universitas Gadjah Mada, sejumlah masjid di Indonesia telah disusupi oleh kelompok simpatisan ISIS sekaligus dijadikan sebagai tempat perekrutan.

“Mereka melakukan infiltrasi ke masjid yang pengurusnya lemah secara keagamaan,” ujar Bambang Pranowo seperti di Kutip oleh BBC.

Meski tidak banyak, menurut Doktor Najib Azca di Yogyakarta, ada masjid-masjid tertentu yang yang disusupi.

“Ada kantong-kantong masjid yang menyimpan dukungan kepada kelompok teroris seperti ISIS,” ungkapnya.

Sebuah laporan yang dipublikasikan oleh abc.net.au, Februari lalu menyebutkan, ada pertemuan tertutup yang digelar sekelompok orang pendukung ISIS di masjid As-Syuhada di kawasan Jakarta pusat. Dalam pertemuan tersebut, pemimpinnya mempropagandakan sistem kekhalifahan yang dipraktekkan oleh kelompok Negara Islam di Suriah dan Irak. Mereka juga mengkampanyekan agar peserta pertemuan itu bergabung dengan Negara Islam di Suriah.

Liputan itu juga menyebutkan sedikitnya ada lima masjid di Jakarta yang digunakan untuk mengkampanyekan dukungan kepada ISIS, termasuk masjid Al Fataa di kawasan Menteng, Jakarta.

Masjid Al Fataa terletak di belakang Kantor Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) di kawasan Menteng, Jakarta pusat. Seseorang yang mengaku sebagai salah-seorang pengurus masjid, Fahirin, membenarkan bahwa masjid tersebut digunakan oleh kelompok pendukung Negara Islam untuk merekrut anggotanya pada tahun 2015 lalu.

“Awalnya kegiatan mereka di sebuah masjid di Bekasi, tapi aktivitasnya kemudian dipindah ke sini (masjid Al Fataa),” kata Fahirin seperti dilansir oleh BBC Indonesia.

Menurutnya, kegiatan itu adalah semacam dukungan kepada pendirian Negara Islam, yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi, sebagai pengganti ISIS.

“Setelah deklarasi di Sukoharjo, ada deklarasi di masjid Al fataa. Ada sekitar 700 orang yang mendukung kekhalifahan al-baghdadi,” terangnya.

 

Urgensi Revisi UU Terorisme

Meski potensi serangan ISIS di Indonesia besar, pihak BIN telah memastikan bahwa potensi itu telah diperhitungkan. Menurut Sutiyoso, BIN telah mengawasi setiap aktivitas orang atau sekelompok orang yang dicurigai sebagai simpatisan ISIS dan berpotensi melakukan aksi teror di tanah air.

Hanya saja, menurutnya, akan lebih efektif bila BIN dan aparat keamanan lainnya bisa melakukan tindakan pencegahan dini. Agar hal ini bisa dilakukan maka revisi Undang-Undang Terorisme bisa segera diselesaikan.

“Karena itu, segera revisi UU Terorisme. Itu memberikan aparat untuk bertindak cepat. Deteksi dini menjadi semakin dikedepankan,” tandasnya.

Pihak Istana Negara telah menyerahkan draft revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang “Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.” Ada 7 point penting dari draft revisi ini, yaitu:

Pertama, perluasan definsi “terorisme dan kekerasan.” Draft revisi memperjelas batasan mengenai apa itu terorisme dan bentuk kekerasan.

Kedua, kewenangan polisi menangkap pelaku. Dalam draft revisi dijelaskan bahwa polisi sudah bisa menangkap orang yang terlibat dalam jaringan terorisme. Kriteria seseorang atau sekelompok orang bisa ditangkap dan dijerat dengan UU ini diantaranya adalah berkumpul atau melakukan pertemuan dengan membahas rencana aksi-aksi teror atau aksi kekerasan radikal.

Ketiga, kewenangan polisi menahan. Polisi bisa menahan mereka dengan maksimal masa tahanan 30 hari ditambah 120 masa penuntutan, sebelum perkara diputuskan.

Keempat, alat bukti. Polisi bisa menahan mereka hanya dengan dua alat bukti. Jika sebelumnya alat bukti harus berupa aksi dan bentuk ancaman, dengan revisi ini maka terduga pelaku terror sudah bisa ditangkap hanya berdasarkan bukti komunikasi via surat elektronik dan alat elektronik lainnya. Selain komunikasi, analisis transaksi keuangan juga bisa menjadi alat bukti menurut revisi ini.

Kelima, deradikalisasi. Jika selama ini aksi pencegahan dan deradikalisasi tidak masuk dalam UU Terorisme, dalam revisi ini dimasukkan.

Keenam, sel napi terorisme. Sebelumnya, pelaku terorisme bercampur. Dengan revisi ini ke depan masing-masing pelaku dipisahkan selnya; mana otak pelaku, mana yang jadi aktor lapangan, dan mana yang hanya ikut-ikutan.

Ketujuh, penambahan wewenang pada BIN. Tidak ada penambahan kewenangan pada Badan Intelijen Negara (BIN) atau TNI. Mereka tetap bekerja sesuai tupoksi masing-masing. Khusus TNI, hanya backup. Penindakan tetap dilakukan oleh Polri.

Draft Revisi UU Terorisme telah diserahkan dan saat ini sedang dalam pembahasan di DPR RI. Untuk mempercepat proses DPR RI telah membentuk Panitia Khusus (Pansus.) Ketua Pansus Muhammad Syafii komit untuk tepat waktu dalam menyelesaikan pembahasan revisi UU ini, namun juga tidak bisa buru-buru.

Your reaction?
omg omg
0
omg
haha haha
0
haha
grrr grrr
0
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
0
wtf
suka suka
0
suka
hmm hmm
0
hmm
ngeri ngeri
0
ngeri
huek huek
0
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Potensi Serangan ISIS Besar, BIN Minta Revisi UU Terorisme Segera Selesai

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz