Siapa Bilang Perempuan Bali Lemah dan Tak Berdaya? Bohong Besar!


Siapa Bilang Perempuan Bali Lemah dan Tak Berdaya

Saya tidak bisa terima jika ada orang, di ruang publik, begitu yakin dan ngotot menyamaratakan semua perempuan Bali sebagai kaum LEMAH yang CENGENG dan TAK BERDAYA dalam menghadapi persoalan rumahtangga. Apalagi yang dibumbui dengan penjelasan mengenai betapa tidak ramahnya tatanan sosial budaya Bali terhadap perempuan. Bes ngae-ngae kalau menurut saya, entah karena punya agenda tersembunyi atau terlalu gegabah membuat generalisasi.

Selain skeptik (atau meboya istilah Bulelengnya,) hal utama yang saya rasakan adalah tersinggung. Sebuah ketersinggungan yang, bisa dibilang, sangat personal sifatnya. Saya merasa, penyamarataan itu adalah kotoran yang dilemparkan ke wajah seorang perempuan Bali yang saya hormati dan banggakan. Dan, melempar kotoran ke wajahnya sama saja dengan melempar kotoran ke wajah saya. Sepersonal itu.

Mungkin terdengar berlebihan. Tapi ini tentang perempuan Bali yang melahirkan dan membesarkan saya bersama 3 orang kakak hingga dewasa. Seorang perempuan Bali yang menjalani hidup tanpa kecengangan dan keluh kesah. Seorang perempuan Bali yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja ketimbang berderama. Seorang perempuan Bali yang merasa terhina bila dirinya dipandang lemah dan dikasihani.

Untuk tidak mengesampingkan peran laki-laki, ijinkan saya bercerita sedikit tentang ayah terlebih dahulu.

 

Ayah

Jika ada yang menyamaratakan semua pria Bali pemalas dan penindas perempuan, maka ayah saya adalah bukti nyata atas kekeliruan penyamarataan itu.

Tidak hanya bermodal penis dan kumis, ayah saya adalah seorang pria sejati. Bahwa sesekali dia mabuk sehabis minum tuak, YA. Bahwa sesekali dia berjudi (metajen,) YA juga. Tetapi, ia tak pernah melakukan kekerasan fisik, verbal dan non-verbal, terhadap ibu apalagi kami anak-anaknya.

Selama 15 tahun mengenal dia, tak sekalipun saya mendengar kata-kata kasar macam (maaf) “cicing, bangsat, teraskeleng” darinya. Walau saat dia sedang mabuk. Meskipun saat dia murka. Perselisihan suami-istri tentu ada. Tetapi tidak mesti ada kekerasan dan caci-maki. Ayah saya memang lucu. Atau aneh mungkin. Saat mabuk misalnya, dia langsung tertidur lelap (tidak mengoceh seperti orang mabuk pada umumnya.) Dan saat marah, habis berselisih dengan ibu misalnya, justru makin giat bekerja, bisa seharian di ladang atau di sawah. Sementara ibu? Cuek, “sing maan ngerambang” istilah Balinya.

Yang lebih penting lagi, tak sekalipun ayah melalaikan tanggungjawabnya sebagai seorang suami dan orang tua.

Ayah saya pria yang mandiri. Begitu menikah langsung keluar dari rumah ayahnya (kakek kami) dan tinggal di sebuah gubuk di atas tanah cakapan (garapan) milik orang lain. Bukan karena perselisihan, melainkan karena ayah adalah anak laki-laki tertua, sementara rumah kakek tergolong kecil dan ada 2 orang adik laki-laki yang juga tinggal di rumah yang sama.

Disamping mandiri ayah juga pekerja keras dan cerdas. Dari hasil kerja keras dan kerja cerdasnya, di usia 30an dia sudah mampu memiliki tanah tegalan seluas 1,6 hektar, sawah seluas 25 are, dan 7 ekor sapi, dari hasil keringatnya sendiri (bukan warisan.) Pagi hingga sore mengurus sawah. Sore hingga petang mengurus kebun. Malamnya masih sempat membaca lontar atau menyalin lontar-lontar yang mulai lapuk ke dalam buku tulis. Sepertinya ayah memang punya ketertarikan khusus pada lontar-lontar.

Di tengah kesibukannya ayah masih sempat menjadi kelian beberapa sekeha; sekeha citakan, sekeha ngabut bulih, sekeha kesenian kecak, dan sekeha dadia. Bukan itu saja. Ayah juga masih bisa mengikuti kegiatan adat, ngayah, meodalan, meyadnya, dan menyamabraya.

Apakah itu semua dilakoni ayah seorang diri?

Tentu saja tidak. Ibu adalah istri sekaligus partner kerja. Mereka selalu berbagi tugas. Untuk kebutuhan hidup misalnya, ibu membereskan biaya dapur sehari-hari selain beras. Sedangkan ayah membereskan kebutuhan besar seperti pembelian bibit, pupuk, pestisida, upah buruh, biaya sekolah, biaya upacara besar, biaya odalan, galungan, iuran, dlsb, sisanya dijadikan aset entah itu disimpan atau dibelikan hewan ternak.

Bagaimana dengan anak-anaknya?

 

Anak

Tiga orang kakak dan saya beternak sapi, masing-masing satu akit (sepasang). Bangun pagi sebelum berangkat sekolah mengeluarkan sapi dari kandangnya. Pulang sekolah bawa sapi ke sungai untuk minum dan mandi. Sore hari cari pakannya. Petang, memasukkan sapi ke kandang. Disamping untuk membajak, sapi-sapi ini semacam tabungan atau investasi ala di desa. Malam hari, usai makan, baru belajar.

Disamping sapi, kami masing-masing juga pelihara ayam. Tetapi tanpa kandang; hanya dibuatkan bengbengan untuk tempat bertelor. Hasil beternak ayam, telurnya untuk keperluan numpek yang rutin setiap bulan, ayamnya sebagian kecil untuk keperluan banten saat rerainan dan odalan, sisanya dijual untuk jajan atau beli apapun yang kami mau (untuk pelesir dokar saat Galungan misalnya.)

Khusus saat musim padi berbuah kami mengusir burung secara bergiliran. Konsekwensinya, tiap hari ada saja diantara kami yang tidak masuk sekolah. Untungnya, masa tanam padi hanya 2 kali dalam setahun dan pekerjaan mengusir burung berlangsung sekitar 1 bulan untuk setiap masanya.

Terimakasih jika ada diantara semeton yang merasa kasihan melihat kami menjadi pekerja di bawah umur. Tapi itu samasekali tak masalah. Sebagian besar anak -anak di desa melakukan hal yang sama. Hanya saja tak semua bisa melanjutkan sekolah seperti kami. Kami senang bisa sekolah sambil bekerja sekaligus bermain. Kami hidup berbahagia. Bahagia dalam kesederhanaan. Ala di desa. Kami menikmatinya! 😀

Sayangnya, hidup tak selalu mulus. Begitu saya lulus SMP, ayah jatuh sakit (tumor paru-paru.) Sempat dirawat inap 1 bulan di RSUD Buleleng dan 2 bulan di RSU Wangaya Denpasar. Akhirnya meninggal pada bulan pertama saya sekolah SMA (September 1987.) Tak hanya kehilangan tulang punggung, sawah dan sapi pun habis terjual untuk biaya berobat dan upacara ayah.

 

Ibu

Ayah meninggal, sawah dan sapi habis terjual, apakah itu akhir dunia?

Tidak. Kami masih punya ibu. Seorang perempuan Bali yang, di mata aktivis perempuan zaman sekarang, mungkin terlihat bodoh, malang dan menyedihkan. Jangankan konsep kesetaraan gender, kata merdeka pun ibu tak kenal.

Tetapi dia tahu apa itu harga diri dan kehormatan. Dia juga tahu bahwa harga diri dan kehormatan hanya bisa diperoleh (earned,) BUKAN diminta (asked) atau dituntut (demanded.)

Andai masa itu sudah ada aktivis perempuan dan datang menawarkan bantuan, mungkin ibu saya memilih diberi pekerjaan ketimbang penyuluhan tentang kesetaraan gender dan kebebasan berkarir.

Perempuan Bali yang perkasa seperti ibu saya lebih suka bekerja ketimbang beretorika. Yang dia tahu hidup hanya bisa dipertahankan dengan cara mencari makan. Dan makanan hanya bisa diperoleh dengan cara bekerja, bukan dengan cara mendramatisir keadaan.

Meskipun dalam kondisi yang sangat sulit, setelah kehilangan tulang pungung dan sumber penghasilan, ibu tidak menyerah. Begitu selesai prosesi upacara ayah, ibu lebih memilih bekerja ketimbang meratapi kemalangan hidupnya atau mencari lelaki baru untuk mengambilalih tugas ayah.

Melihat sulitnya keadaan, kami anak-anak siap untuk berhenti sekolah dan membantu ibu sepenuhnya. Tetapi ibu adalah perempuan bermental baja. Dia melarang kami berhenti sekolah. “Tidak ada yang boleh berhenti sekolah!” perintahnya waktu itu tanpa menjelaskan darimana sumber dananya.

Sebetulnya masih ada tanah tegalan seluas 1,6 hektar. Setelah kakek meninggal beberapa tahun kemudian, ayah juga dapat tanah warisan sekitar 10 are. Tapi tak sedikitpun ibu mengutak-utik. Sampai hari ini kedua tanah itu masih utuh.

Konsekwensinya, tak hanya ibu, kami anak-anaknya pun harus ikut bekerja keras. Tidak cukup hanya dengan beternak seperti ketika ayah masih hidup. Sambil bersekolah kami harus menghasilkan uang untuk bekal sekolah sehari-hari, bayar SPP, beli buku dan diktat, beli seragam, dll.

Kakak terlanjur sekolah di Kota Singaraja dan ngekost di sana, maka dia harus menghasilkan uang untuk bayar kost setiap bulan selain makan dan biaya sekolah. Dia pun bekerja antar jemput anak tetangga kost dan membuat permen setiap hari.

Sedangkan saya yang sekolah SMA di kampung mengambil pekerjaan paruh waktu apa saja, ala di kampung, yang bisa menghasilkan uang; meburuh numbeg, meburuh nigtig padi, meburuh muspus kacang, meburuh melut asem, meburuh mebulung, ngangkut batu, pasir, kayu, apa saja yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang.

Ibu? Bekerja untuk makan sehari-hari, mererainan, meodalan di pura-pura, megalungan, numpek, pagerwesi, ngerasakin, ngatag, bayar peturunan, nyenukin, nelokin, dan lain sebagainya.

Hebatnya, ibu tak minta pengecualian atau keringanan sedikitpun untuk setiap kewajiban adat, dadia dan pura panti, yang pernah menjadi tanggungan ayah. Meskipun sudah ditawari berkali-kali, ibu tidak pernah mau. Bagi ibu, menunaikan kewajiban itu sepenuhnya adalah cara untuk menjaga harga diri keluarga dan kehormatan mendiang ayah. Sebaliknya, tidak menjalankan atau minta keringanan adalah mempermalukan diri sendiri dan merusak kehormatan ayah. Dan ini adalah cara untuk dapat berjalan tegak tanpa harus menundukkan kepala atau membungkukan badan di hadapan orang lain. (baca: merdeka)

Bahkan, setelah kami (anak-anaknya) dewasa dan mampu hidup mandiri, ibu masih sempat dan mampu membuatkan kami upacara menek-kelih dan metatah (potong gigi) dengan uangnya sendiri. “Ini tugas dan kewajiban ibu sebagai orang tua” katanya waktu itu, dan membuat semua orang yang hadir (termasuk paman, bibi, sepupu dan kerabat) menangis sesenggukan saking terharunya.

Tentu saja ibu menjadi sosok perempuan hebat yang disegani dan dihormati oleh ipar, keponakan, kerabat dan tetangga.

Apakah ibu Anda melakukan itu dengan senang hati atau terpaksa? Apakah ibu Anda merasa bahagia dengan hidupnya?

Mungkin ada yang berpikir begitu.

Saya tidak punya cara paling akurat untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh individu lain, meskipun itu ibu saya.

Yang saya tahu pasti, ibu orang yang tak suka basa-basi. Rasa ‘suka-dan-tak suka’-nya ditunjukkan tanpa tedeng aling-aling. Apa yang nampak di permukaan itulah yang di dalam. Dia bukan type orang yang mau melakukan sesuatu untuk sekedar menyenangkan orang lain, apalagi untuk mendapat sanjungan. Ibu juga type orang yang tak suka dibantah. She knows what she is doing.

Thus jika ada orang yang mengira ibu saya terpaksa menjalani kehidupan keras dan susah karena KEBODOHANNYA atau karena KETIDAKBERDAYAANNYA menghadapi belenggu adat, maka bisa saya pastikan orang ini tipikal orang yang:

  • tidak tahu apa arti kehormatan, harga diri, dan kemerdekaan, dalam kehidupan nyata;
  • mengira ‘harga diri-kehormatan-dan-kemerdekaan’ bisa diperoleh dengan cara meminta atau menuntut;
  • tak malu memperoleh dan menikmati sesuatu tanpa melakukan apa-apa;
  • mungkin cerdas secara intelektual tetapi naif secara emosional dan spiritual;
  • lebih banyak menghabiskan masa hidupnya untuk menyalahkan orang lain ketimbang introspeksi diri;
  • lebih banyak berderama ketimbang mengupayakan perbaikan-perbaikan.

Dan ini bukan kualitas Orang Bali yang patut dicontoh.

Ahh… kalau bisa hidup gampang, kenapa dibuat susah? Kalau bisa hangout di Starbucks (sambil selfie-selfie), kenapa harus duduk di Bale Banjar dengan secangkir kopi pahit?

Mungkin ada yang berpikir demikian.

YA! Saya setuju. Ibu Jero (istri saya) pastinya juga setuju. Kalau bisa hidup gampang kenapa dibuat sulit.

 

Perempuan Bali Modern

Tantangan hidup berbeda dari waktu-ke-waktu. Perbedaan tantangan hidup ini kemudian membuat cara kita menghadapinya (baca: pola pikir dan gaya hidup), juga berbeda. Perbedaan-perbedaan ini pada akhirnya menghasilkan kualitas individu yang juga berbeda, entah itu membaik atau memburuk atau kedua-duanya. Tergantung.

Saya, mungkin, termasuk contoh kualitas pria Bali yang memburuk. Jauh jika dibandingkan dengan ayah, dalam banyak hal, misalnya:

  • Kemandirian dan Etos Kerja – Dalam hal kemandirian mungkin agak dekat (ini juga berkat didikan beliau sejak kecil.) Tetapi dalam hal etos kerja dan output, saya kalah jauh. Ayah sudah mampu membangun rumah sendiri di usia 20-an, punya tegal 1,6 hektar dan sawah 25 are di usia 30-an. Sementara saya bisa membangun rumah sendiri di usia 25 tahun tetapi kemudian terjual karena pailit (ouch!), dan baru kitip-kitip bangun rumah lagi di usia 40-an (mudah-mudah tak terjual lagi) -pun tanahnya hanya 2 are!
  • Manajemen Waktu – Ini yang paling parah. Ditengah kesibukan mengurus sawah dan ladang, ayah masih bisa aktif ber-adat, menyamabraya, ngurus sekeha-sekeha, bahkan membaca dan menyalin lontar. Sedangkan saya, cuma menggeluti satu pekerjaan (swasta) saja sudah sangat kurang dalam menjalankan fungsi adat dan menyamabraya, istilah Balinya “langah-langah” alias “lepas-kena.”

Apa penyebab penurunan kualitas ini?

Trade-off atau kompromi. Demi prinsip kalau bisa hidup mudah kenapa harus dipersulit” ditambah lemahnya manajemen waktu, maka banyak hal yang dilakukan oleh ayah dahulu terpaksa saya abaikan.

Bahkan, belakangan, karena ingin lebih banyak melayani keluarga (anak-istri) saya memutuskan untuk menukar pekerjaan ‘9-to-5’ saya dengan bekerja di rumah saja, saking tidakmampunya mengelola waktu ditambah ingin hidup lebih santai dan sudah mulai tidak suka diperintah-perintah.

Cukup. Ini sudah agak melenceng dari topik utama. Nah, bagaimana dengan Bu Jero yang juga perempuan Bali?

Mungkin ini salahsatu alasan saya menikah dengannya atau, entahlah. Yang jelas Ibu Jero, setidaknya di mata saya, termasuk contoh kualitas perempuan Bali yang masih terjaga dengan sangat baik sampai hari ini. Bisa dibilang, mirip dengan ibu saya, tentunya dalam kondisi dan lingkungan yang sangat berbeda.

Sebagai  seorang Manager Opersional perusahaan swasta, Ibu Jero tergolong perempuan sibuk dan pastinya banyak beban pikiran. Yang saya kagumi adalah kemampuannya menentukan titik trade-off yang paling optimal sehingga di satu sisi bisa menjalankan profesi dengan baik dan di sisi lainnya masih bisa menjalankan fungsi sebagai ibu rumahtangga sekaligus ‘Perempuan Bali’ tanpa cacat yang berarti.

How?” mungkin ada yang bertanya begitu.

Ada beberapa prinsip dasar (dan sederhana) yang dianut dan diterapkan oleh Bu Jero, diantaranya:

* Wake Up Earlier, Business Earlier – Ibu Jero bangun pukul 5 pagi. Cara ini membuat ia bisa melakukan banyak hal di pagi hari; memblender bubur untuk si bontot yang saat ini berusia 8 bulan (Bu Jero tidak suka kasih anaknya bubur instant), menyiapkan lunchbox dan termos air untuk anak yang masih SD, dan menyiapkan sarapan untuk yang lainnya. Setelah semua anak berangkat (saya antar), lanjut menyiapkan canang dan saiban untuk sembahyang pagi. Kemudian baru sarapan bersama sambil buka agenda kerja hari ini dan buka medsos pastinya. Pukul 9 pagi berangkat ke kantor.

* Get the Jobs Done, Forget Perfection – Mengejar kesempurnaan sama seperti mengejar batas cakrawala; takkan pernah sampai. Dalam menjalankan pekerjaan, baik profesi di kantor maupun pekerjaan rumah tangga (termasuk aktivitas beryadnya dan menyamabraya), Bu Jero mengutamakan keterselesaian ketimbang kesempurnaan. Ambil dan kerjakan sebanyak yang bisa dikerjakan. Bahwa ada kesalahan atau kekurangan, urusan belakang.

* Invest On and Use the Right Tools – Untuk mempermudah atau mempercepat pekerjaan, Bu Jero tak segan membeli alat yang paling baik. Mulai dari piranti kerja kantor (PC, Laptop, Printer) sampai peralatan rumah tangga (kulkas, mesin cuci, oven, pemanggang, teflon, kompor, container-container, boxes, bag, cabinet, etc) dan peralatan sembahyang (sokasi2, besek2, nampan2, dll.) Tak kalah pentingnya adalah skill menggunakan semua peralatan itu. Makin sering digunakan makin skillful.

* Be Proactive and Communicate – Banyak masalah (di kantor dan rumah tangga) yang awalnya kecil menjadi besar akibat kurangnya komunikasi. Bu Jero meminimalkan itu dengan cara bersikap proaktif dan terus berkomunikasi. Jangan merasa sudah tahu. Jangan terlalu yakin orang sudah tahu. Simak informasi yang masuk dengan seksama. Sampaikan informasi kepada pihak yang perlu tahu. Jika ada informasi tentang sudara atau tetangga beryadnya misalnya, Bu Jero tak segan menelpon untuk memastikan tanggal dan jam, lalu mengatur kalendernya. “Supaya nggak salah paham” istilah kekiniannya.

* Avoid Gossip, Keep ChitChat and Jokes At Minumum – Gossip, dimanapun, selalu tidak sehat, Bu Jero hindari altogether. Ngobrol, basa-basi dan berkelakar, kadang perlu, tetapi Bu Jero minimalkan. Sebab dia tahu kebanyakan pekerjaan dan urusan tidak bisa diselesaikan dengan chitchat, basa-basi dan kelakar. Yang ada hanya mengambat, atau malah menimbulkan persoalan baru.

* Focus on Bigger Stuffs, Don’t Sweat Small Ones – Pekerjaan dan tasks beragam jenis, volume dan urgensinya. Tanpa teori manajemen skala-perioritas yang seram-seram, Bu Jero fokus pada pekerjaan-pekerjaan yang besar saja (dengan dibantu oleh kalender dan alarm.) Sedangkan urusan-urusan kecil dan remeh-temeh akan mencari posisi dan timing yang tepat dengan sendirinya. Tentunya, ada kemungkinan hal-hal kecil ini tidak tertangani, tetapi Bu Jero tidak terlalu mempersoalkannya.

* Learn to Let Things Go and Move On – Kita hidup di dunia yang serba tidak ideal. Tidak semua hal bisa terjadi atau berjalan seperti yang kita inginkan, tidak semua orang mau memenuhi harapan kita, dan tidak semua keinginan terturuti. Ada yang bisa kendalikan, sebagian besarnya tidak. Untuk menyikapi ini Bu Jero belajar mengikhlaskan sesuatu terjadi sebagaimana adanya, entah itu sesuatu yang buruk apalagi yang awsome, tanpa perlu menyesalinya atau menjadikannya beban pikiran. Let them go and move on the next stuffs.

* There is No Way to Control How People Behave Toward You, But You Can Decide the Response – Bu Jero sadar betul bahwa ia tak punya kemampuan untuk memaksa orang agar selalu bersikap baik terhadap dirinya. Tetapi dia bisa menentukan responsenya sendiri terhadap perlakuan itu. Bagi Bu Jero, sikap orang lain terhadap dirinya (baik atau buruk) adalah tanggungjawab (karma) mereka sendiri, sedangkan Bu Jero hanya bertanggungjawab terhadap response yang ia putuskan sendiri.

Begitulah cara Bu Jero, seorang perempuan Bali modern,  menata pekerjaan dan hidupnya. Simple, tak pakai ruet.

Saya yakin ibu-ibu Bali lainnya punya tips and tricks sendiri untuk menyiasati aktivitas pekerjaan kantor sekaligus rumahtangga agar sempat nyahain adat dan menyamabraya (mohon dishare via ruang komentar di ujung halaman ini jika berkenan.)

Apakah keluarga Anda mewakili kondisi semua keluarga di Bali? Apa iya semua perempuan Bali mampu memberdayakan dirinya sendiri? Come on! Apakah Anda buta dan tuli, sehingga tak bisa menemukan perempuan Bali yang begitu lemah dan tak berdaya menghadapi belenggu adat?

Mungkin ada yang ngotot seperti ini.

Disamping sebagai bentuk terimakasih dan penghargaan kepada ayah, ibu dan istri, saya menuturkan ini untuk maksud memberi gambaran yang konkret tentang bagaimana cara sosok perempuan Bali memberdayakan dirinya sendiri. Tentunya dengan harapan (mudah-mudahan) dapat menginspirasi generasi muda, khususnya prempuan Bali. Bukan untuk merendahkan atau meruntuhkan semangat mereka.

Sebagai manusia biasa Ibu saya sudah pasti punya banyak kekurangan dan kelemahan. Terlebih Bu Jero istri saya yang masih terbilang muda. Lagipula, saya yakin masih banyak perempuan Bali dan Non-Bali lain yang jauh lebih perkasa dibandingkan ibu saya. Masih banyak pula perempuan Bali dan non Bali yang lebih cerdas (intellectually, emotionally and spriritually) dibandingkan Bu Jero.

Hal penting yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini, selain cerita tentang ayah dan ibu di atas, adalah:

  • berdaya-atau-tidak berdaya;
  • merdeka-atau-terbelenggu;
  • terhormat-atau terhina;
  • punya dignity-atau-tidak;
  • dihargai-atau-dilecehkan; dan
  • disegani-atau-dispelekan;

lebih banyak ditentukan oleh kualitas diri kita masing-masing sebagai individu. Bukan ditentukan oleh etnik atau tempat lahir kita (Bali atau Non-Bali.)

Lagipula, apa pentingnya sih mengkapamnyekan “perempuan Bali lemah dan tak berdaya dalam belenggu adat”? Apa pentingnya coba?

Supaya kaum perempuan berani bersuara? OK. Lalu, menyuarakan apa? Menyatakan ketidaksetujuannya terhadap sesuatu (termasuk tradisi dan kebiasaan turun temurun dan kaidah-kaidah agama)? Berani menyampaikan keberatan-keberatan-keberatan?

OK. OK. Bukannya saya tak mensupport perjuangan kaum feminist yang mewabah dari dunia barat lalu menimbulkan efek ‘latah’ hingga ke pelosok-pelosok Bali. Saya dengar itu. Saya peduli. Saya tidak tuli. Tetapi, pertanyaannya selanjutnya: Apakah orang serta merta akan berlaku baik atau mau berubah seperti yang diharapkan, hanya karena Anda bersuara? Memangnya suara anda sabda Tuhan?! “Pegigisin empuk” kalau kata Orang Buleleng.

Menurut saya, semua orang (laki/perempuan/Bali/Non-Bali) perlu belajar berani mengekspresikan pendapat. Ini benar. Tetapi jauh lebih penting dari ini adalah memperbaiki kualitas diri; belajar memantaskan diri. Jika kita memang pantas menerima, apapun itu, akan kita dapatkan tanpa perlu meminta apalagi menuntut (kecuali yang tak tahu malu.) Jika manusia berlaku tak adil, Tuhan adil (kecuali yang tak percaya Tuhan.) Apalagi Orang Bali yang percaya Karma. 

Barang siapa berani meminta dan menuntut sesuatu tanpa memastikan kepantasan diri terlebih dahulu, barang siapa berani berkeinginan untuk mengambil tanpa memberi terlebih dahulu, bersiap-siaplah untuk kecewa atau bahkan mungkin dipermalukan. Dan, ini berlaku bagi siapa saja di lingkungan mana saja, terlepas laki-laki atau perempuan, Bali atau Non-Bali.  

Jika memang peduli dan ingin memberdayakan perempuan Bali, ajari dan bimbing mereka agar mampu meningkatkan kualitas diri. Ajari mereka manajemen waktu. Ajari mereka berkompromsi dalam keterbatasan sambil terus meningkatkan kualitas diri. Jika keterbatasan ekonomi membuat mereka tak berkesempatan belajar, berilah mereka pekerjaan agar lebih berdaya dalam hal ekonomi. Yang rill dan produktif saja. Tidak usah yang retoris.  Tanpa ini, kampanye semacam ini hanya akan membuat perempuan Bali makin depresi, jangan-jangan mereka jadi putus-asa karena merasa tak berdaya, atau malah mengira pindah kepercayaan sebagai solusi. Jika ini yang diharapkan, ya lain lagi ceritanya.

Nah, bagaimana dengan Ibu dan Ayah semeton pembaca? Bagaimana dengan semeton sendiri? Bagaimana dengan istri/suami semeton? Bagaimana cara semeton mengelola waktu dan menyiasati pekerjaan (kantor dan rumahtangga)? Sekarang giliran semeton, silakan disampaikan lewat komentar (facebook atau website) di ujung laman ini. Mari kita berbagi hal-hal yang produktif.

Your reaction?
omg omg
2
omg
haha haha
0
haha
grrr grrr
2
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
2
wtf
suka suka
5
suka
hmm hmm
2
hmm
ngeri ngeri
0
ngeri
huek huek
2
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Siapa Bilang Perempuan Bali Lemah dan Tak Berdaya? Bohong Besar!

0

Comments 6

  1. Saya perempuan bali . Dan merasakan betul bagaimana perempuan bali yang sudah menikah harus mengatur dirinya. Kalau ada yang mengatakan perempuan bali lemah. Saya sangat tidak setuju. Sebaliknya perempuan bali adalah perempuan yang tangguh. Sangat tangguh malah. Saya melihat mungkin 99 persen (melalui pengamatan) perempuan bali bekerja menghasilkan uang dan sangat sangat jarang yang hanya mengurus rumah dan mengasuh anak saja. Setidaknya mereka membuka usaha di rumah. Selain itu mereka juga mengatur kegiatan2 adat nya.
    Memang berat, menjadi perempuan ( maaf ini semata2 perasaan saya) apalagi jika ditambah memiliki suami yang kurang peduli terhadap istri. Maka habislah sudah. Tapi itu saya kira tergantung orangnya, artinya bukan masalah bali atau non bali.
    Sekarang dengan keadaan spt itu, kembali kepada perempuan itu sendiri. Apakah dia iklas menerima atau tidak. Ini semata2 soal penerimaan. Kalau dia iklas dengan sendirinya dia melakukan segala kegiatan yang segudang seabrek banyaknya tanpa mengeluh. Alias biasa biasa saja. Tapi kalau tidak iklas, maka mulai muncul masalah. Protes , merasa tdk bebas dll. Jadi pokok masalahnya, saya kira hanya soal penerimaan si perempuan.

  2. Saya rasa Ibu Jero itu mirip dengan alm. ibu saya. Tulisannya bagus Bli Gusti, teruslah berkarya.

    tirta.web.id

  3. Saya merinding baca tulisanya pak gusti. Sy perempuan bali yg lahir dan besar di rantau. Dan sy bangga terlahir sebagai perempuan bali.

  4. Salam kenal teman2 semuanya. Sepanjang hidup kita akan selalu berhadapan dengan ” seseorang/sesuatu” diluar tubuh kita yang tidak sama dengan diri kita. Kita menginjakkan dan menghirup udara yang sama di tanah air tercinta kita indonesia, oleh karena itu marilah kita saling menghormati dan menghargai. Apabila kita tiba2 dengan sengaja ataupun tidak disengaja melakukan, melihat dan mendengar sebuah hal baik itu dari surat kabar, radio, televisi, media sosial, bibir dari manusia yg diluar tubuh kita ( apalagi yg sifatnya negatif) , sepatutnya kita menyadari dan memahami diri kita, menilik kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini, karena apapun keputusan kita pasti memiliki konsekuensi, dan terkadang kita harus memahami bahwa keputusan yg kita ambil dapat berdampak sekali kepada hidup orang lain, baik itu dalam skala kecil maupun skala besar. Apabila salah satu tujuan dari hidup anda adalah Cinta kasih, maka pengabdian, komitmen dan kesetiaan adalah perwujudan dari cinta yang selama ini anda cari. Dan sayangnya menghormati, ikhlas, toleransi juga adalah cinta. Maka dari itu jangan pernah malu ataupun merasa rendah diri siapapun hai teman2 semua khususnya pembahasan mengenai wanita bali dan pria bali. Bali telah menyentuh banyak hati manusia dengan cara yang terdalam. Kebudayaan dan masyarakatnya. Marilah kita menjadi orang yang hebat dengan memiliki hati mulia yang penuh pengabdian dengan mengenali siapa diri kita dan tujuan hidup kita. Semuanya selalu dimulai dengan langkah kecil dan didalam kedamaian sejati yaitu keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz