Terimakasih Telah Menyebut Denpasar Kota Paling Islami


Denpasar Kota Paling Islami

Denpasar baru saja mendapat predikat Kota Paling Islami di Indonesia. Apa pendapat Admin?” tanya semeton pembaca popbali via inbox FB.

Pertama, popbali berterimakasih karena telah dimintai pendapat; ini artinya popbali cukup didengarkan oleh publik, paling tidak oleh sebagian semeton Bali.

Kedua, sebelum menyampaikan pendapat dan sikap sendiri, terlebih dahulu popbali ingin menyarankan agar semeton mendengarkan pendapat yang disampaikan oleh tokoh-tokoh publik di Bali, terutama yang kritis dan konsisten membela Bali dengan tulus ikhlas—seperti: I Gusti Putu Artha (mantan Ketua KPU Pusat,) Arya Wedakarna (anggota komisi III DPD RI), kru LSM Cakrawayu dan tokoh publik lainnya.

Ketiga, popbali mahami keresahan semeton Bali terkait predikat “Denpasar Kota Paling Islami” ini, dengan pertimbangan-pertimbangan sbb:

  • Denpasar Adalah Kota Seni Budaya – Bagaiamanapun juga, disamping sebagai Ibu Kota Provinsi Bali, selama ini Denpasar dikenal sebagai pusat aktivitas pelestarian seni-budaya dan adat Bali yang bernafaskan Hindu, thus pemberian predikat “kota paling islami” dapat mengubah bahkan merusak image tersebut.
  • Ada Wacana “Desa Wisata Syariah” – Baru beberapa bulan lalu masyarakat Bali didera oleh wacana pengembangan “Desa Wisata Syariah” oleh pihak tertentu. Terlepas apakah ada kesalahpahaman atau tidak dalam wacana tersebut, bagaimanapun juga predikat “Kota Paling Islami” ini langsung atau tak langsung telah mengingatkan masyarakat Bali kembali akan wacana tersebut.
  • Tujuan (Terselubung) Di Balik Penelitian “Indeks Kota Islami” – Bagaimanapun juga, menurut Viva News, penelitian ini dilakukan di 29 kota, jelas biayanya besar, dan sudah tentu ada tujuannya. Mengikutsertakan Denpasar yang selama ini dikenal publik sebagai Kota seni-Budaya dan adat bernafaskan Hindu, dalam kajian islami, sudah pasti juga dengan maksud tertentu. Dan, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Maarif Institue adalah lembaga strategis (think-thank) Islam yang didirikan oleh Ahmad Syafii Maarif (Mantan Ketua PP Muhammadyah), jelas juga memiliki tujuan yang sifatnya strategis, yakni: demi kebaikan (bisa dibaca: keuntungan) Islam itu sendiri. Bahwa seorang Buya Maarif (panggilan akrab Syafii Maarif)—dalam kapasitas pribadinya—adalah salahsatu tokoh pemersatu bangsa yang cinta Indonesia dengan segala keberagamannya, seperti halnya Gusdur, IYA. Tetapi, secara kelembagaan, tetap saja misinya adalah untuk keuntungan Islam itu sendiri. Ini jelas.

Sehingga, sekalilagi, bisa saya pahami jika masyarakat Bali merasa perlu menunjukkan sikap serius terhadap predikat “Denpasar Kota Paling Islami.”

Namun demikian, mohon diperhatikan, popbali memilih untuk berpikir dan bersikap positive saja terhadap pemberian predikat ini. Apalagi Buya Maarif adalah salahsatu tokoh lintas-agama yang saya pribadi kagumi. 

Bahkan, melalui tulisan ini, saya pribadi atas nama popbali ingin secara khusus mengucapkan terimakasih kepada Buya Maarif dan rekan-rekan peneliti di Maarif Institue.

Terlepas apapun tujuan sesungguhnya di balik penelitian ini (tentu hanya mereka sendiri yang tahu), ada beberapa point positive yang penting untuk kita pahami dan apresiasi. Setidaknya 2 hal berikut ini:

 

1. Pujian Bagi Denpasar (dan Bali): Lingkungan Hindu Lebih Bagus

Seperti disampaikan oleh Viva News, penelitian “Indeks Kota Islami” ini menggunakan 3 indikator utama, yaitu:

(1) Tingkat keamanan;
(2) Tingkat kesejahteraan; dan
(3) Tingkat kebahagian masyarakat.

Dan, Denpasar adalah salahsatu dari 3 kota yang memperoleh point tertinggi (80 point).

Ini adalah bentuk pengakuan terbuka bahwa: Denpasar yang dihuni oleh mayoritas pemeluk Hindu mampu menghadirkan rasa aman, mampu memberikan peluang hidup sejahtera, dan mampu melahirkan kebahagiaan, bagi semua umat beragama, dengan lebih baik dibandingkan kota-kota lainnya.

Ini sekaligus menjadi masukan bagi kota-kota lain di Indonesia agar mereka banyak belajar dari Denpasar, dari umat Hindu di Bali pada umumnya, tentang cara hidup yang baik (menjaga keamanan, membuka peluang-peluang kerja dan usaha yang dapat mensejahterakan, dan menciptakan pola hidup yang membahagiakan.)

Dalam wawasan kebangsaan, Bali dengan mayoritas pemeluk Hindu bisa dijadikan contoh bagi daerah lain dalam membina hubungan harmonis antar-umat beragama.

Ini sangat masuk akal sebab, adalah fakta bahwa Denpasar (dan Bali pada umumnya) minim konflik SARA karena umat Hindu di Bali sangat toleran terhadap umat lain termasuk Islam. Sebagai salahsatu contoh saja, jarang ada (bahkan mungkin tidak ada samasekali) konflik terkait pembangunan tempat ibadah non-Hindu di Bali. Ini sangat bertolakbelakang dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Konflik pembangungan Gereja di Bogor yg tak kunjung usai misalnya. Atau kasus pembakaran Gereja di Aceh sebagai contoh lainnya.

Dengan kata lain, jika kota lain (termasuk kota dimana umat Islam menjadi mayoritas) ingin menciptakan lingkungan yang aman, sejahtera dan membahagiakan, perlu meniru cara-cara umat Hindu di Bali dalam bertoleransi.

Saya tahu. Temuan fakta ini bisa saja disalahartikan oleh umat Islam di luar sana bahwa: Denpasar menjadi begitu aman, sejahtera, dan membahagiakan karena umat Islam di sini sangat toleran terhadap umat Hindu dan umat agama lainnya. Atau, bahkan, boleh jadi disalahmaksudkan oleh pihak peneliti sendiri bahwa: umat islam di Indonesia perlu meniru sikap toleran umat Islam yang ada di Denpasar (dan Bali pada umumnya) terhadap umat Hindu dan umat lain.

Akan tetapi, jikapun disalahartikan atau disalahmaksudkan, saya yakin semeton Bali (dan publik luas yang berpikiran waras) tahu persis bahwa pola pikir seperti demikian (=minoritas di Bali yang toleran hanya karena merasa mayoritas di Indonesia) samasekali tidak logis, kecuali merasa superior (dan arogansi) ego yang berlebihan. Pola pikir seperti ini tidak perlu ditiru. Biarlah mereka yang diluaran berpikir begitu. Kita di Bali tidak usah ikutan; tetap konsisten dengan pola toleransi dua arah yang sudah berjalan selama ini. Bagaimanapun juga, “toleransi” adalah termin 2-arah, bukan 1-arah.

 

2. Oto-Kritik ke Dalam: Konsep Syariah Tidak Jaminan

Disamping menemukan Denpasar, Yogyakarta dan Bandung, sebagai kota paling ‘aman-sejahtera-dan-membahagiakan’ thus membuat umat Islam di ketiga kota ini bisa menjalankan konsep islam secara benar, penelitian yang sama juga menemukan kota-kota lain sebagai Kota yang paling tidak Islami, seperti:

  • Kota Banda Aceh (Ibu kota Nangroe Aceh Darussalam), berada di urutan 19 dengan tingkat keamanan yang sangat rendah; atau
  • Kota Padang (Ibukota Sumatera Barat), berada di urutan ke-28 (dari 29), dengan tingkat keamanan rendah, tingkat kesejahteraan yang juga rendah dan nilai kebahagian yang tak kalah rendahnya.

Ironisnya, masih menurut penelitian yang sama, kota dengan tingkat ‘keamanan-kesejahteraan-kebahagiaan (=indeks islami) terendah itu justru merupakan daerah-daerah dimana Perda Syariah diterapkan dan mengklaim diri sebagai daerah yang paling Syariah.

“Ada perda yang bersifat syariah di Aceh, Padang, Mataram dan Tasikmalaya contohnya, namun justru mereka berada di kelompok kota yang paling tidak Islami,” terang Ahmad Imam Mujadid Rais, ketua koordinator penelitian indeks kota Islami (17/05), seperti dikutip oleh Viva News.

Apa artinya?

Mungkin ini kritik untuk kalangan Islam sendiri, bahwa: penerapan konsep Syariah samasekali bukan jaminan yang bisa memberikan tingkat keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, bagi masyarakat di suatu daerah, termasuk umat muslim itu sendiri. Jika ketiga indikator ini dipandang sebagai tolok ukur “hidup yang baik” maka bisa dikatakan bahwa: konsep Syariah tidak baik untuk diterapkan, setidaknya di Bumi Nusantara yang beragam ini.

Itu lah pesan yang bisa dibaca melalui simpulan penelitian “Indeks Kota Islami” dari Maarif Institute.

Apa artinya bagi kita di Bali?

  • Konsep hidup kita (umat Hindu) di Bali sudah baik. Praktek bertoleransi yang dipraktekkan oleh semua umat beragama di Bali (Hindu, Islam, Kristen, Katolik, Budha dan Kong Hu Chu) sudah baik.
  • Sehingga, menolak keras wacana pengembangan konsep pariwisata Syariah, sudah tepat. Hal ini, bahkan, dibuktikan oleh penelitian yang dilaksanakan oleh lembaga peneliti Islam sendiri.

Tentu saja, popbali merasa perlu berterimakasih kepada peneliti atas temuan ini. Ini sangat baik bagi Bali.

Apalagi kita tahu bahwa Muhhamadiyah (dan tentunya juga Maarif Institute) memiliki komitmen yang tinggi dalam menjaga keutuhan NKRI. Bagaimanapun juga keutuhan NKRI menjadi perioritas utama bagi mereka.

Saya pribadi semakin sumringah membaca statement Ahmad Imam Mujadid Rais berikut ini:

“Kami mengukur kota Islami dengan melihat sikap lemah lembut seseorang dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.”

Sikap “lemah lembut” adalah wajah Islam yang diharapkan tidak hanya oleh Umat Islam itu sendiri, melainkan juga oleh semua umat beragama di seluruh dunia, thus sangat universal sifatnya.

Popbali tidak (mau) melihat kemungkinan maksud lain (jika ada) di balik sikap “lemah lembut” yang dimaksud. Popbali memandang, mungkin paradigma sikap lemah-lembut inilah gambaran “Islam Modern” ala Indonesia yang hendak diwujudkan oleh Mumahhamadiyah dan Nahdatul Ulama.

Tentunya, popbali (saya yakin semeton Bali lainnya juga) sangat mendukung upaya mulia ini.

 

P.S.: PR Bagi Denpasar dan Bali

Setelah membaca simpulan penelitian ini, saya merasa perlu menyertakan Pekerjaan Rumah (PR) bagi umat Hindu dan Pemerintah di semua Kabupaten dan kota di Bali, termasuk popbali dan semua adminnya. PR-nya: Jika umat Islam di Denpasar (dan mungkin di Bali pada umumnya) merasa ‘aman-sejahtera-dan-bahagia,’ apakah umat Hindu sendiri merasakan hal yang sama?

(1) Jika IYA, bagus.

(2) Jika TIDAK, maka cari tahu:

  • Mengapa umat Islam yang minoritas di Bali merasa aman sementara Umat Hindu sebagai mayoritas merasakan sebaliknya? Apa yang terjadi sesungguhnya?
  • Mengapa umat Islam bisa sejahtera sementara Umat Hindu tidak? Apakah karena merasa terlalu nyaman di daerah sendiri sehingga menjadi kurang ulet dalam mengusahakan kesejahteraan? Atau hanya karena kurang bersukur saja? Atau ada faktor lain? Pelajari, introspeksi dan perbaiki.
  • Mengapa umat Islam sebagai minoritas merasa bahagia hidup di Bali sementara umat Hindu yang mayoritas justru merasa tidak bahagia? Cari tahu, gali, introspeksi dan perbaiki.

Sekalilagi, terimakasih kepada peneliti yang telah menyimpulkan “Denpasar Kota Yang Paling Islami.” Temuan ini sehat dan bisa menjadi bahan pemikiran bagi semua pihak untuk perbaikan-perbaikan ke depannya.

Your reaction?
omg omg
2
omg
haha haha
3
haha
grrr grrr
5
grrr
hiks hiks
1
hiks
wtf wtf
2
wtf
suka suka
2
suka
hmm hmm
0
hmm
ngeri ngeri
0
ngeri
huek huek
3
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Terimakasih Telah Menyebut Denpasar Kota Paling Islami

0

Comments 6

  1. Aceh kemana ni ,,,, kox kota” teratas notabena kota yg mayoritas hindu dan kota yg masih memiliki kepercaayaan kejawen ?? Sedangakan di indonesia ada serambi mekah aceh yang aturannya semua bersyaratkan islam.. waahhh.. dipertanyakan surveynya nih…

  2. Sudah pernah ada penelitian seperti ini, dilakukan seorang muslim terhadap kota2 besar di dunia, mana yg paling islami. Jawabannya pun demikian. Kota2 di jepang, new zealand, skandinavia ada di posisi teratas.. dan ibukota2 negara islam justru di bawah/tengah.

    Begitulah… itu otokritik kpd umat islam sendiri bahwa selama ini terlalu condong ke ritual saja, masalah baju, jenggot, dsb.. lupa pendidikan, keadilan, keterbukaan, kebersihan, dsb.

    Lagi pula, poin2 “islami” dlm survey itu kan universal… mgkn ada di semua agama. Itu sekaligus mendidik masyarakat (muslim) bahwa nilai islam tidak melulu sempit spt masalah jumlah masjid, jumlah penduduk, cara berpakaian, dsb. Dan itu sejalan dg misi lembaga spt Maarif Institute (untuk mendidik masyarakat).

    Klo dipikir, karakter2 sikap kasar, jorok, mengemis/mencuri, pelit, asalnya lebih dekat karena etnis/lingkungan/adat/tradisinya daripada disebabkan agamanya… coba saja diperiksa … 🙂 peace

  3. tidak ada yang paling islami di indonesia selain aceh.ke propinsi mn pun boleh di beri nilai pling islami.tp yg sudah saya datangi aceh paling islami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz