Wajar Jika Gembong Narkoba Freddy Budiman Dijadikan Pahlawan


Freddy Budiman Gembong Narkoba

Ketika Gembong Teroris Santoso memperoleh banyak simpati, mendapat julukan pahlawan dari kelompok orang tertentu, bahkan mendapat pembelaan sengit dari oknum anggota DPR RI, semeton Bali mungkin bisa langsung memahami logika di baliknya. Namun, ketika Gembong Narkoba Freddy Budiman memperoleh simpati yang sama derasnya, publik mulai kehabisan logika. Maka timbul lah pertanyaan-pertanyaan seperti berikut:

“Gembong Narkoba koq dipuja-puji?”

“Gembong Narkoba koq calon penghuni surga?”

Entah bagi orang lain. Bagi saya, wajar jika Gembong Narkoba Freddy Budiman menuai simpati. Bahkan sangat wajar jika ia juga dipandang sebagai figur pahlawan, oleh orang yang sama dengan pemuja Santoso, dengan menimbang alasan berikut ini:

 

Alasan-1: Pindah Agama

Seperti sudah banyak diberitakan, belakangan, Freddy Budiman memang pindah agama. Dan, seperti biasanya, setiap peristiwa perpindahan agama memperoleh sambutan meriah dari khalayak terlepas dari apapun latarbelakang orangnya. Menjadi gegap-gempita oleh heboh pemberitaan bahwa gembong narkoba ini, konon katanya, sudah selesai membaca kitab suci agama yang baru ia anut, bahkan hingga dua kali.

Sudah pasti, perpindahan agama—ditambah embel-embel selesai baca kitab suci—ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa pendiri pabrik narkoba di dalam penjara ini menuai simpati yang begitu besar, bahkan ada yang sampai mengatakan “wajahnya sungguh bercahaya” thus diperkirakan akan menjadi “calon penghuni surga.”

“Seseorang menyadari dosa-dosanya lalu berubah menjadi penganut agama yang taat, wajar jika ia juga mendapat kesempatan menjadi penghuni surga. Bukankah kita semua juga pernah melakukan kesalahan di masa lalu?” mungkin ada yang berpikir demikian. Dan inilah argument yang banyak diungkapkan di media sosial.

Terlepas percaya konsep ‘surga-dan-neraka’ atau tidak, saya IYA-kan argument ini. Cukup logis. Sudah banyak fakta, di masa silam, seorang penjahat besar insyaf lalu berubah menjadi orang yang sangat baik, bahkan lebih baik dari mereka yang tak pernah menghuni penjara, seperti:

  • Mengajak orang lain untuk selalu taat hukum;
  • Mengajak para pelaku kejahatan lainnya untuk kembali ke jalan yang benar;
  • Aktif membantu orang susah dan membela kepentingan masyarakat bawah;
  • Ikut membina generasi muda agar tidak terjebak pada perilaku jahat seperti yang pernah ia perbuat di masa lalu.

Untuk penjahat seperti demikian, rasanya, sangat wajar jika mereka menuai banyak simpati. Bahkan, jika surga-dan-neraka memang ada, mungkin mereka juga pantas menjadi penghuni surga.

Apakah Freddy Budiman memenuhi kriteria seperti demikian, selain hafal kitab suci?

Saya tidak tahu. Tetapi, pada 17 Juni 2016 lalu Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengatakan, Freddy Budiman masih aktif mengendalikan bisnis haramnya dari balik jeruji besi Nusa Kambangan.

Hal itu diungkapkan oleh Budi Waseso setelah pihaknya membongkar penyelundupan sembilan pipa besi yang berisi 50 kg sabu-sabu kristal di kawasan Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, 3 hari sebelunya. Dari penangkapan itu, BNN menangkap lima orang pelaku, dan salah satunya berinisial HE‎.

HE, menurut Budi Waseso, diperintah oleh anak buah Freddy Budiman bernama Akiong yang saat itu sedang menjalani masa penahanan di Lapas Cipinang.

“Salah satunya di LP Cipinang (Akiong) dan itu ada rangkaiannya dengan jaringan yang dipimpin Freddy Budiman. (Freddy) yang jelas aktif. Jaringan itu masih berhubungan kontak,” ungkap Budi Waseso, seperti lansir oleh Liputan6.

Peristiwa ini terjadi Juni lalu. Sementara ia diberitakan tamat baca kitab suci dua kali jauh sebelumnya. Dari sini bisa dilihat bahwa sampai bulan lalu pun ia belum insyaf. Ia masih terus menjalankan bisnis narkobanya, meskipun sudah selesai baca kitab suci. Dari sini bisa dilihat bahwa selesai kitab suci bukan ukuran untuk menakar kebaikan pribadi seseorang, dan nilai-nilai agama tidak selalu tercermin dalam perbuatan.

Nyatanya, Gembong Narkoba yang satu ini sudah divonis hukuman mati hingga dua kali untuk dua kasus berbeda (namun masih terkait bisnis narkoba)—persis dengan kemampuannya menyelesaikan bacaan kitab suci yang juga dua kali. Tapi toh masih melakukan kejahatan yang sama. Sebelum dan setelah pindah agama, ia tetap seorang gembong narkoba.

Jika kasus terakhir yang ditemukan oleh Budi Waseso diajukan ke pengadilan lagi maka Freddy Budiman akan divonis tiga kali hukuman mati. Artinya, kemampuannya menyelesaikan bacaan kitab suci hingga dua kali masih kalah banyak dibandingkan kejahatan yang ia lakukan (divonis hukuman mati 3 kali.)

Namun, Budi Waseso merasa tidak perlu menyeret gembong narkoba ini untuk yang ketigakalinya. Mungkin  Budi Waseso tak melihat adanya kemungkinan perubahan perilaku pada pria yang belakangan tampil agamais ini meskipun selesai membaca kitab suci hingga tiga, empat atau lima kali. Entahlah. Yang jelas, sebagai gantinya ia mendesak kejaksaan agar segera mengeksekusi vonis hukuman mati yang telah dijatuhkan dua kali.

Rupanya, pindah agama dan menyelesaikan bacaan kitab suci hanya kedok untuk mendapat simpati publik belaka. Mungkin ia berharap bisa bebas dari jeratan vonis hukuman mati dengan cara demikian.

Nah, apakah publik di Indonesia tidak ‘ngeh’? Entahlah. Yang jelas ia masih menuai simpati publik dengan berbagai ekspresi; yang wajahnya bersinar lah; yang mayatnya bau wangi lah; yang calon penghuni surga lah.

Tapi itu di tataran masyarakat awam. Di kalangan mereka yang tidak punya kemampuan mendedah informasi secara komprehensif. Diantara mereka yang mudah ‘keracunan’ doktrin dan agitasi tertentu. Mereka-mereka yang percaya ‘auto-surga’ hanya dengan menjempoli dan membagikan artikel/berita tertentu.

Sehingga sangat wajar, setidaknya menurut mereka.

Bagaimana mereka yang ada di tataran elite—mereka yang justru ikut aktif meracuni publik dengan agitasi?

Berita menarik lainnya terkait Freddy Budiman adalah keterlibatannya dalam mendanai aktivitas simpatisan ISIS di Indonesia.

 

Alasan-2: Narkoterorisme (Narcoterrorism)?

Jauh lebih dalam dari sekedar euphoria Freddy Budiman pindah agama dan hafal kitab suci adalah, mungkin, apa yang disebut sebagai ‘narkoterorisme (narcoterrorism)’ oleh para penegak hukum di seluruh dunia.

Apa itu narkoterorisme?

Istilah ‘narkoterorisme’ untuk pertamakalinya digunakan oleh Presiden Peru Fernando Belaúnde Terry, pada 1983 silam, untuk mendeskripsikan serangan yang dilakukan oleh gembong-gembong narkotika di negaranya dengan cara menyebarkan rasa takut (terror) di kalangan masyarakat. Serangan rasa takut atau terror itu dilakukan dengan cara menculik dan mengintimidasi masyarakat agar negara mengalami kesulitan dalam menangkap mereka.

Namun sejak 2000-an, penggunaan istilah narkoterorisme mulai berkembang menjadi aktivitas terorisme yang didanai dari hasil penjualan narkotika atau sindikat narkotika yang menjadi penyandang dana gerakan terorisme.

Disamping dari sumbangan simpatisan, pencurian, perampokan, dan kejahatan lainnya, gerakan terorisme juga menggunakan perdagangan narkotika sebagai sumber pendaanaan.

Jika semeton mengira negara-negara di Amerika Latin—seperti Peru, Meksiko, Ekuador, dll—sebagai penghasil kokain terbesar di dunia, semeton tidak salah. Tetapi, negara penghasil opium terbesar di dunia adalah Afghanistan!

Menurut ‘The World Factbook’-nya CIA, pada tahun 2014 luas ladang opium Afghanistan meningkat 7 persen atau menjadi 211,000 hektar dari 198,000 hektar di tahun 2013. Ladang-ladang ini sebagian besarnya dikuasai oleh kelompok pemberontak Taliban dan Hamas. Disamping digunakan sendiri, opium yang dihasilkan sebagian besarnya dijual dan uangnya digunakan untuk mendanai aktivitas mereka.

“Lalu apa hubungannya dengan terorisme?” mungkin ada yang berpikir demikian.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Drug Enforcement Administration Amerika Serikat (atau semacam BNN nya Amerika Serikat) di tahun 2010 menemukan fakta mengejutkan dimana 29 persen dari sindikat narkotika yang dijadikan target operasi ternyata memiliki afiliasi khusus dengan organisasi terorisme global. Dan penelitian di tahun 2013 menemukan, kurang lebih 39% dari kelompok teroris di seluruh dunia terlibat dengan perdagangan narkotika.

Bagaimana dengan aksi terorisme di Indonesia?

Sebuah laporan berjudul “Top 3: ISIS Indonesia Didanai Gembong Narkoba Freddy Budiman?” menyebutkan:

“Transaksi menggunakan narkoba untuk aksi terorisme banyak terjadi di Indonensia. Salah satu contohnya seperti yang dilakukan gembong narkoba Freddy Budiman yang mendanai kelompok terorisme ISIS Indonesia. Cara ini disebut juga dengan Narkoterorisme, yang bertujuan menghancurkan suatu negara seperti Indonesia.”

Nah, jika lansiran di atas benar, sementara Gembong Teroris Santoso dijadikan Pahlawan, maka sangat wajar dan mudah dipahami jika Freddy Budiman selaku penyandang dana juga menuai simpati. Bahkan wajar pula jika ia dipandang sebagai pahlawan. Pahlawan bagi mereka yang memandang kejahatan kemanusiaan paling besar pun sah untuk dilakukan asal untuk membela suatu keyakinan.

Your reaction?
omg omg
1
omg
haha haha
0
haha
grrr grrr
0
grrr
hiks hiks
0
hiks
wtf wtf
1
wtf
suka suka
1
suka
hmm hmm
1
hmm
ngeri ngeri
2
ngeri
huek huek
1
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Wajar Jika Gembong Narkoba Freddy Budiman Dijadikan Pahlawan

0

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz