Warning: Jangan Menikahi Pria Bali Jika Ingin Kebebasan Dunia Akherat!


Jangan Menikahi Pria Bali

Begitulah, kurang-lebih, warning yang disampaikan oleh Kadek Sonia Piscayanti melalui sebuah tulisan blog berjudul “Kemerdekaan ala Perempuan Bali: Keterikatan Abadi”—mungkin dalam rangka ikut euphoria HUT Kemerdekaan RI ke-71 kemarin.

Sebuah opini yang cukup berani. Sayangnya tidak disertai oleh argument-argument yang kuat, sehingga lebih nampak sebagai curhat ketimbang opini persuasive.

Saya tidak bermaksud membahas curhat, apalagi dari ibu-ibu yang sedang stress misalnya. Bagaimanapun juga yang namanya opini, ya, sah-sah saja. Namun karena menyangkut eksistensi adat budaya Bali dan nilai-nilai adi luhung yang terkandung di dalamnya (konsep Purusa misalnya,) maka saya merasa perlu membahasnya di sini.

Tujuan saya, agar semeton Bali—khususnya generasi muda—tidak mudah ‘dicuci-otak’ oleh ide-ide yang kontra-produktif. Jangan sampai generasi muda Bali terjebak dalam pemikiran-pemikiran yang nampak baru namun sesungguhnya mengandung cacat logika yang fatal. Terutama agitasi-agitasi yang mendemoralisasi mentalitas dan karakter generasi muda Bali.

Melalui tulisan ini saya akan kupas dimana letak cacat logika yang saya maksud. Saya mulai dengan ringkasan opini tersebut, sbb:

1. Perempuan Kehilangan Kebebasan Bila Menikahi Pria Bali – Entah didasari oleh pengalaman pribadi atau sekedar mencari sensasi belaka, wanita yang mengaku sebagai pengajar fakultas sastra PTN di Bali ini berkeyakinan bahwa perempuan yang menikahi pria Bali pasti kehilangan kebebasan atau terikat untuk selama-lamanya, dunia dan akherat (saya baru tahu orang Bali ternyata mengenal istilah akherat, red). Ini vonis final yang tidak main-main.

2. Menikahi Pria Bali Adalah Kemalangan – Karena keyakinan di atas penulis opini tersebut memandang, keputusan menikahi pria Bali adalah sebuah kemalangan bagi perempuan. Kemalangan itu, katanya, dimulai sejak keputusan menikahi pria Bali diambil sampai meninggal, bahkan sampai akherat dan lahir kembali.

3. Berumahtangga Dengan Pria Bali Adalah Momok Mengerikan – Dalam pandangannya, hidup berumahtangga dengan pria Bali adalah momok yang mengerikan; mulai dari harus meninggalkan keluarga masa lajang, memasuki keluarga baru pihak suami, melaksanakan kewajiban-kewajiban di dalam keluarga yang dimasuki, keharusan-keharusan dan larangan-larangan. Bahkan intrik dan politik dalam keluarga, gunjingan orang-orang sekitar, ejekan verbal/non-verbal, dan hal-hal horror lainnya. Pokoknya menikah dengan pria Bali tidak ada bagus-bagusnya. Dalam keluarga suami Bali, menurutnya, seorang perempuan harus mandiri secara finansial. Jika tidak maka akan hidup melarat sambil merenungi nasib.

4. Perempuan Yang Menikahi Pria Bali Itu Bodoh – Bagi pembuat opini tersebut, kehidupan rumah tangga pasutri Orang Bali tak lebih dari petualangan-petualangan ‘absurd.’ Hari-hari mereka dipenuhi oleh absurditas. Namun, perempuan Bali tidak pernah menyadarinya—justru menganggap semua hal mengerikan dan absurd itu sebagai sebuah kemerdekaan. Dalam hal ini, secara tak langsung, ia menilai perempuan Bali yang menikahi pria Bali itu bodoh-bodoh, sehingga tak pernah menyadari keterikatan dan ke-absurd-an yang dialaminya sehari-hari.

5. Aktivitas Upacara Adat dan Menyamabraya Membunuh Misi Suci Perempuan – Puncak dari semua momok mengerikan itu adalah aktivitas adat dan upacara-upacara yang dilaksanakan oleh keluarga Bali. Si pembuat opini mengestimasi sekitar 1500 kali setahun (entah bagaimana hitung-hitungannya, red.) Belum lagi harus ‘menyamabraya’ (bersosialisasi.) Jumlah aktivitas adat yang super padat itu, menurutnya, perlahan namun pasti akan membunuh (kills.) Paling tidak akan membuat perempuan Bali kehilangan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, mengejar impian dan cita-cita, serta menjalankan “visi-misi suci seperti menyelamatkan dunia.” Ya, menyelamatkan dunia (luar biasa ya cita-citanya, red.)

6. Budaya dan Adat Bali Yang Paternalistik Adalah Biangkeroknya – Semua momok pembunuh visi misi suci perempuan itu, menurutnya, bersumber dari adat dan budaya Bali yang sepengetahuannya tidak memiliki standar prosedur operasi alias tidak ada dasarnya secara tertulis (yang saya ketahui ada lontar dan tattwa sebagai pedoman). Dia menyalahkan sistim patrelinial (purusa) yang dianut dalam adat dan budaya Bali. Hal paling mendasar yang disoroti oleh pembuat opini adalah putusnya hubungan perempuan Bali dengan leluhurnya begitu menikah ke luar sanggah (merajan). Ia mempertanyakan, bagaimana nasib roh perempuan Bali yang tidak diterima mati di dalam keluarga besar suaminya. Maksudnya, mungkin, bila hubungan si perempuan tidak baik lagi dengan keluarga besar suaminya setelah menjanda thus tidak diijinkan’ malinggih’ di merajan keluarga besar suaminya. Pertanyaannya si pembuat opini: Bagimana nasib roh perempuan itu? Luntang-lantung dong?

7. Jangan Menikahi Pria Bali Jika Mau Bebas Dunia dan Akherat – Atas pertimbangan hal-hal di atas, di akhir opini pembuat opini tersebut mengingatkan perempuan Bali khususnya (dan perempuan lain pada umumnya) agar tidak menikahi pria Bali jika tidak ingin terikat dunia dan akherat.

Secara keseluruhan, ada 2 hal mendasar yang dipersoalkan oleh penulis tersebut, yakni:

  • Kesibukan Odalan dan Menyamabraya
  • Dominasi Pria dalam Adat dan Budaya Bali

Mari kita bandingkan satu-per-satu sehingga kita bisa sampai pada kesimpulan yang lebih faktual dan lebih logis.

 

Kesibukan Odalan dan Menyama Braya

Odalan dan yadnya lainnya tergolong aktivitas keagamaan. Sedangkan menyamabraya adalah aktivitas sosial—membina hubungan antar manusia.

Si pembuat opini menyarankan kaum perempuan untuk—kalau bisa—tidak menikah dengan pria Bali. Salahsatu alasannya karena menikah dengan pria Bali akan membuat perempuan menjadi sangat sibuk dengan ritual keagamaan dan aktivitas sosial, ala Bali tentunya.

Pertanyaannya: Terus menikahi pria mana? Non-Bali kah? Jika iya, apakah keluarga Non-Bali tidak disibukkan oleh ritual keagamaan dan aktivitas sosial?

Saya cukup lama tinggal di luar Bali (Jawa Tengah dan sekitarnya, Tangerang, Jakarta) dimana hampir semua orang adalah non-Bali. Setelah pulang ke Bali, kebetulan saya tinggal di perumahan yang didominasi oleh non-Bali; sebagian muslim sebagiannya lagi Kristen/katolik.

Bagaimana ritual keagamaan dan aktivitas sosial mereka?

Untuk perumahan yang dihuni oleh sekitar 700 KK, aktivitas keagamaan dan sosialnya tergolong sangat padat. Hampir setiap hari ada. Jika tidak pengajian, ya zikir bersama, ya khitanan (sunatan), ya nikahan, ya tahlilan, entah apalagi. Pokoknya ada saja. Belum lagi yang dilaksanakan sehari-hari di rumah masing-masing. Ini di Bali loh ya. Bayangkan di luar Bali seperti apa padatnya?

Terus yang lainnya juga rajin ibadah. Tentu ala mereka. Ada beberapa macam kebaktian. Yang rutin dan pasti adalah kebaktian Minggu di Gereja, terjadi setiap hari Minggu dari pukul 08 hingga kira-kira pukul 10 dilanjutkan dengan kotbah, kumpul-kumpul, arisan-arisan, makan-makan, dlsb. Di luar kebaktian Minggu, ada juga kebaktian-kebaktian lain untuk event tertentu yang jumlahnya cukup banyak. Yang mungkin jarang diketahui oleh semeton Bali, mereka juga kadang kebaktian di rumah-rumah, terutama jemaat yang menempati rumah baru atau yang baru mengalami peristiwa besar (entah itu cobaan hidup atau keberhasilan.) Saya sering mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu rohani/pujian beramai-ramai semacam choir, karena bertetangga.

Saya tidak bilang ini jelek. Justru bagus. Rajin beribadah dan bersosialisasi adalah baik. Hanya orang tak waras yang bilang jelek.

Yang ingin saya sampaikan: Non-Bali pun juga banyak aktivitas keagamaan dan sosial. Sama seperti keluarga Bali yang rajin berupacara/yadnya/odalan dan menyamabraya.

Jadi, apakah menikahi pria Non-Bali akan membuat perempuan punya waktu lebih banyak untuk mengejar impian-impian pribadinya?

Jawaban saya: NOT REALLY and NOT NECESSARILY.

Bahwa tidak semua Non-Bali aktif mengikuti acara-acara itu, YA. Dan Orang Bali pun tak semuanya aktif berodalan dan menyamabraya. Bagi mereka beribadah dan bersosialisasi dalam komunitas mungkin bukan sesuatu yang penting. Dan itu keputusan pribadi. Silakan.

Di sisi lainnya, ada keluarga Bali yang begitu rajin berodalan dan aktif menyamabraya. Tak sedikit pula keluarga non-Bali yang taat beribadah dan aktif menjalankan aktivitas sosial. Mereka-mereka ini menempatkan ketaatan beribadah dan keaktifan bersosialisasi sebagai sesuatu yang terpenting dalam hidup.

Apa artinya? Soal rajin beribadah dan membina hubungan sosial itu pilihan pribadi dan tidak terkait dengan ras dan budaya. Bahwa di Bali lebih ketat karena adanya sanksi adat bila tidak melaksanakan (kesepekang misalnya), IYA, tetapi toh itu juga hasil kesepakatan bersama melalui paruman diantara sesama orang Balinya. Mereka punya alasan mengapa melakukan itu, yakni menjaga kelestarian budaya dan adat warisan leluhur. Sama persis seperti keluarga Non-Bali yang begitu taat beribadah dan rajin bersosialisasi—mereka juga ingin konsekwen terhadap komitmen yang dibuat oleh orang tua dan nenek moyang mereka dalam beragama dan bertradisi.

Jadi, sekarang, bagi perempuan Bali pilihannya tinggal tiga saja:

  • mau taat beragama Hindu, beribadah Hindu dan bersosialisasi ala Bali; atau
  • mau taat beragama Islam dan beribadah Islam  dan bersosialisasi ala Islam; atau
  • mau taat beragama Kristen/Katolik dan beribadah Kristen/Katolik dan bersosialisasi ala Krisaten/Katolik?

Tidak tahu perempuan Bali lain. Ibu Jero (istri saya) memilih untuk taat beragama Hindu dan ikut melestarikan tradisi leluhur Bali dengan cara ikut kegiatan-kegiatan adat, di lingkungan terkecil dan dalam kesederhanaan. Baginya, ini pilihan yang paling logis. Sebab ia lahir dan besar di tengah keluarga Orang Bali yang juga sederhana. Tentunya berbagi peran. Bu Jero majejahitan, saya ngelawar dan nyate. Bu Jero metanding banten, saya membersihkan tempat sembahyang. Dan lain sebagainya.

Jika Anda Non-Bali dan taat beribadah sesuai keyakinan Anda serta rajin bersosialisasi ala tradisi Anda, wajar, logis dan memang begitulah seharusnya.

Nah, jika semeton lahir dan besar di tengah keluarga Orang Bali penganut Hindu, semeton pilih yang mana?

 

Dominasi Pria Dalam Budaya Bali

Hal mendasar kedua yang disampaikan oleh pembuat opini tersebut adalah soal dominasi pria dalam budaya Bali. Menurutnya, dominasi ini membuat kaum perempuan—termasuk para istri—kehilangan kebebasannya. Disamping membuat perempuan kehilangan kebebasan, budaya Bali yang paternalistik juga memperkuat posisi laki-laki dan memperlemah posisi perempuan.

Oleh sebab itu ia mengatakan “sungguh malang nasib perempuan Bali yang menikah dengan pria Bali.” Dengan pertimbangan yang sama ia mengingatkan kaum perempuan agar berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menikah dengan pria Bali—kalau bisa, jangan.

Benarkah demikian?

Saya katakan, IYA, budaya Bali memang paternalistik. Dalam pengertian, garis keturunan terletak pada laki-laki.

Tetapi, pertanyaan saya: apakah Non-Bali menganut sistim maternalistik? Apakah kedudukan perempuan lebih utama, thus lebih kuat ketimbang laki-laki, dalam agama dan tradisi Non-Bali? Apakah sistim kepercayaan Non-Bali menjamin kaum perempuan akan mendapat kebebasan dunia dan akherat?

Saya tidak tahu ‘agama-dan-budaya’ apa yang menjadi pedoman hidup si pembuat opini. Dan, sejujurnya, saya tidak peduli; hidup-hidupnya sendiri ngapain saya yang repot.

Yang terpenting bagi saya, dalam hal ini, adalah membantu kaum perempuan Bali (setidaknya pembaca popbali) untuk terhindar dari agitasi yang boro-boro memperbaiki keadaan, justru menimbulkan keresahan dan stress yang tak perlu.

Dan melalui tulisan ini saya sampaikan bahwa, mayoritas penganut agama di dunia saat ini adalah kelompok ‘Abrahamic’—agama yang meyakini Adam sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan. Khsusu di Indonesia komposisinya lebih dari 95 persen, thus ketika bicara tentang Non-Hindu Bali sudah pasti bicara tentang mereka.

Yang paling mendasar dalam kepercayaan Abrahamic, Tuhan itu adalah “He” (laki-laki), bukan “She” (perempuan.) Hal mendasar lainnya, mereka meyakini: Setan dibuat dari api, Adam (laki-laki) dibuat dari tanah, dan Hawa (perempuan yang menjadi istri Adam) dibuat dari tulang rusuknya Adam. Dari sini, dengan jelas bisa kita lihat bahwa sistim kepercayaan dengan pengikut terbanyak di dunia dan Indonesia bersifat paternalistik.

Untuk lebih konkrit, berikut ini adalah gambaran lebih rinci mengenai kedudukan perempuan dalam sistim kepercayaan yang dianut—tentunya juga menjadi filsafat hidup—para pria non-Bali:

1. Pria Non-Bali Pertama – Tidak usah yang di awing-awang. Dari pakaian saja, seorang wanita sudah tidak boleh sembarangan. Tidak boleh pakai tanktop atau sleeveless, tidak boleh pakai celana atau rok yang tidak menutupi mata kaki. Ketika keluar rumah, kemanapun (kalau bisa) agar dibungkus rapat. Perempuan yang melanggar ketentuan ini tidak akan masuk surga. Jangankan hidup di sana, mencium bau surga pun tidak. Bahkan ada lembaga agama yang mengeluarkan larangan memasang foto di medsos bagi perempuan yg sudah bersuami. Suami berhak menampar istri bila ia menolak berhubungan badan. Kecuali pemerkosaan ditonton ramai-ramai (minimal 5 orang) pria dewasa, seorang perempuan korban pemerkosaan akan dihukum karena dianggap memfitnah dan berbuat zinah. Para pria sah hukumnya berpoligami, sedangkan para perempuan yang dimadu ini dipandang sebagai ladang tempat bercocok tanam—boleh dibajak dan ditanami kapan saja bila si pria menginginkannya. Tak peduli salah atau benar, istri dapat diceraikan secara sepihak dan otomatis berstatus janda hanya dengan ucapan tertentu sebanyak 3 kali dari suaminya. Dan bila bermaksud rujuk, meskipun masih sama-sama saling mencintai, si janda harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Sudah cukup WOW? Saya tambahkan lagi sedikit. Konon katanya, penghuni Neraka kebanyakan kaum perempuan. Jika melihat populasi manusia di dunia, ini artinya hanya sedikit perempuan yang akan masuk surga.

*Pertanyaan saya: Inikah model kebebasan dunia akherat yang coba ditawarkan? Bagaimana mau menjadi penyelamat dunia sementara hidup sendiripun begitu ribet? Diantara sedikit perempuan yang akan masuk surga, Andakah salahsatu perempuan beruntung itu? Well, good luck with that!

2. Pria Non Bali Kedua – Perempuan dimanapun harus menundukkan kepala dihadapan laki-laki, terlebih suaminya. Dengan kata lain, dalam segala hal seorang istri harus tunduk pada suaminya. Sebab, suami adalah kepalanya istri, sama seperti Tuhan yang merupakan kepalanya nabi. Perempuan (hawa) ada karena pria (Adam,) sementara pria ada bukan karena perempuan tetapi karena Tuhan. Dari sekian banyak nabi sejak awal sampai yang terakhir tak satupun perempuan, pemimpin rohani juga tidak ada yang perempuan, mengapa? Sebab, perempuan hanya boleh menerima pelajaran, tidak boleh mengajar kerohanian atau keagamaan. Seorang istri yang melahirkan anak laki-laki najis selama 7 hari. Dan bila melahirkan anak perempuan maka najis selama 14 hari (artinya melahirkan anak perempuan lebih kotor dibandingkan anak laki-laki.) Dan najis akibat melahirkan ini bisa menajisi pihak lain, untuk ini dia harus diasingkan atau diisolasi selama 60 hari. Jika anak perempuan gagal mempertahankan kehormatannya dengan menjadi “sundal” (maaf memang begini teks aslinya), maka rusak pula kekudusan ayahnya, oleh karenanya anak perempuan ini harus dibakar! (anak perempuan ini harus dibakar demi menjaga kekudusan ayahnya, bukan ibunya.) Sudah cukup WOW? Saya tambahi satu lagi. Seorang istri yang terpisah dari suaminya, entah kerena kemauan sendiri atau kemauan suami, najis hukumnya untuk menikah lagi, artinya ia berdosa besar ganjarannya pasti neraka. Bagaimana nasib perempuan yg terpaksa menjanda? Kalau tidak mau kesepian ya samenleven alias kumpul kebo atau pacaran tapi seperti suami istri? Entahlah. Saya rasa cukup segini.

*Pertanyaan saya: Yang seperti inikah yang direkomendasikan?

Well, kan tidak demikian dalam prakteknya,” mungkin ada yang berpikir demikian.

Manusia dimanapun di dunia ini ada yang ortodox alias kolot, ada pula yang moderat. Demikian juga dengan manusia Bali; ada suami yang begitu dominan dan cenderung menindas perempuan, ada pula yang sangat menghargai (bahkan takut) dengan istrinya. Tidak usah diriset lah, saya bisa pastikan ini.

Lagipula saya tidak bermaksud mengatakan pria Bali lebih baik ketimbang Non-Bali atau sebaliknya. Tapi, saya ingin kasih tahu bahwa, jika sistim patrelinial dan supremasi pria dijadikan bahan pertimbangan utama dalam menilai kelayaknikahan, maka 95 persen pria di dunia ini TIDAK LAYAK untuk dinikahi.

Jika begitu, para perempuan yang anti-patrelinial (garis keturunan purusa) mungkin lebih baik tidak usah menikah saja? Rasanya sulit mencari pria yang sistem kepercayaan dan tradisinya matrelinial. Lagipula, toh kebutuhan biologis tidak harus disalurkan melalui prosesi pernikahan ‘kan?

Tunggu! Sebelum sampai pada kesimpulan seperti itu saya ingin mengajak semeton pembaca untuk menyimak pandangan pasutri Bali mengenai kebahagiaan/penderitaan dalam rumah tangga berikut ini.

 

Kebebasan dan Kebahagiaan Dalam Rumahtangga Ala Pasutri Bali

Orang tua pada umumnya, termasuk orang tua saya dan Bu Jero (istri saya), sudah tentu menyarankan agar kami menikah dengan pria/wanita berlatarbelakang yang tidak jauh berbeda. Dalam hal usia misalnya, pendidikan, finansial, kultur, nilai-nilai dalam keluarga, dan agama. Maksudnya agar minim konflik thus penyesuaian lebih mudah dilakukan dan kebahagiaan lebih mudah diwujudkan—walaupun dalam prakteknya kesamaan dan perbedaan belum tentu menjadi faktor yang berpengaruh secara signifikan.

Di lingkungan Bali, latarbelakang Bu Jero dan saya agak berbeda. Semeton Bali pastinya tahu perbedaan yang saya maksud dengan melihat nama panggilan “Jero.” Tapi, nyatanya, kami jarang berkonflik, mungkin karena kami memiliki banyak kesamaan dalam pandangan hidup.

Dalam hal jodoh misalnya, saya dan Bu Jero sama-sama memandangnya sebagai bagian dari utang-piutang karma di kehidupan sebelumnya. Jika saya atau Bu Jero ditanya alasan mengapa kami menikah, terusterang kami tidak tahu alasannya. Yang jelas, ya, menikah saja.

Sedangkan soal bahagia/menderita dalam kehidupan berumah tangga, terlepas dari apapun suku dan agama pasangan, saya berani menjamin semua gunung nampak halus dari kejauhan dan tidak ada langit yang lebih rendah. Dalam artian, tidak ada cerita rumahtangga yang isinya bahagiaaaa melulu atau menderitaaaa terus-menerus.

Mengenai kebebasan, kebahagiaan dan penderitaan secara umum, termasuk dalam rumahtangga, Ibu Jero dan saya menganut prinsip yang sangat sederhana, yakni:

*Bebas itu Kesadaran – Anda, Bu Jero, saya, termasuk si pembuat opini, dan kita semua, mendambakan kebebasan, tentu dengan cara pandang berbeda-beda. Si pembuat opini mungkin memandang kebebasan sebagai bebas melakukan apa saja dan bebas menikmati apa saja yang ia inginkan. Sekalilagi, mungkin loh ya. Untuk itu ia merasa perlu untuk melawan dan mengalahkan apa saja dan siapa saja yang menghalangi jalannya. Baginya, mungkin kehidupan berumahtangga adalah ajang kompetisi dan suami adalah rival yang harus dikalahkan atau ditundukkan. Sedangkan Bu Jero melihat kebebasan sebagai terbebas dari lingkaran punarbawa (samsara) untuk menyatu dengan Brahman. Bagi bu Jero, hambatan utama dalam mencapai tujuannya itu adalah rasa takut, sementara rasa takut disebabkan oleh ketidaksadaran dan ketidaktahuan (awidya.) Untuk bebas dari ketakukan-ketakutan, hal utama yang dilakukan oleh Bu Jero adalah membangun kesadaran dan menghimpun pengetahuan. Sehingga, bagi Bu Jero, biduk rumahtangga adalah wahana proses belajar dan suami beserta anak-anak adalah partner sekaligus sumber inspirasi dalam membangun kesadaran dan menghimpun pengetahuan (BUKAN rival yang harus dikalahkan atau ditundukkan.)

*Bahagia itu pilihan – Orang kadang terlalu PEDE menakar kebahagiaan orang lain dengan menggunakan ukurannya sendiri. Padahal letak kebahagiaan orang berbeda-beda. Si pembuat opini di atas misalnya, mungkin baru merasa bahagia bila sudah menjadi penyelamat dunia (semoga sukses), dan untuk mengejar kebahagiaannya itu ia tak segan mengabaikan ibadan dan aktivitas sosial misalnya. Sementara Ibu Jero (istri saya) hanya merasa bahagia bila tak pernah absent dari upacara (yadnya) dan aktivitas menyamabraya, meskipun dalam ukuran yang paling sederhana. Baginya, bersosialisasi dengan kerabat dan tetangga (dalam bingkai adat dan non-adat) adalah kepuasan bathin tersendiri. Sedangkan menyelamatkan dunia, bisa dimulai dari lingkup terkecil (keluarga, kerabat, sudara dan tetangga.) Kekacauan dunia dimulai dari kekacauan keluarga. Kerusakan dunia dimulai dari kerusakan keluarga.

*Tidak Ada Penderitaan Yang Terjadi Tanpa Seijin Kita – Yang namanya KEPO, gossip, gunjingan, intrik, dan politik, bisa terjadi dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja, terlepas dari apapun suku-ras-agama-dan budayanya. Bahkan dunia karirpun tak steril dari hal seperti itu. Bagi si pembuat opini, mungkin judgement orang lain adalah penentu siapa dirinya, thus gunjingan saudara dan tetangga adalah momok pemicu penderitaannya. Ini mungkin loh ya (bisa jadi saya salah.) Sementara bagi Bu Jero, judgment orang lain mendefinisikan si pembuat judgement (bukan Bu Jero) thus samasekali tak terpengaruh. Andai ada orang yang menjudge dirinya bodoh atau malang misalnya, Bu Jero menganggap si penilai sedang menceritakan atau menunjukkan kebodohan dan kemalangannya sendiri (bukan kebodohan dan kemalangannya Bu Jero.) Lagipula, Bu Jero melihat gunjingan sebagai sebuah keniscayaan yang bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja, dalam keluarga Bali maupun Non-Bali, thus tidak perlu diambil pusing. Dia tidak mengijinkan hal remeh-temeh seperti itu menjadi sumber penderitaan dalam hidupnya.

Sekarang saya ingin bertanya kepada semeton pembaca:

  • Mana yang lebih absurd, memandang hidup sebagai pertempuran dan rumahtangga sebagai ajang kompetisi dimana suami dipandang sebagai rival –ATAU- memangdang hidup sebagai pembelajaran dan rumahtangga sebagai wahana belajar dimana suami dipandang sebagai partner sekaligus sumber inspirasi?
  • Mana yang lebih logis, mengejar impian retoris untuk menjadi penyelamat dunia (sementara acuh tak acuh terhadap kerabat) -ATAU- secara nyata membina hubungan sosial yang baik dalam lingkup yang lebih kecil?
  • Mana yang lebih malang thus patut dikasihani, orang yang derita dan bahagianya bergantung pada gossip dan gunjingan tetangga –atau- orang yang bahagia dan deritanya bergantung pada dirinya sendiri?

Silakan semeton pembaca nilai sendiri. Selamat berakhir pekan.

Your reaction?
omg omg
5
omg
haha haha
6
haha
grrr grrr
5
grrr
hiks hiks
4
hiks
wtf wtf
7
wtf
suka suka
10
suka
hmm hmm
5
hmm
ngeri ngeri
2
ngeri
huek huek
2
huek

Meski lama tinggal di luar, kecintaannya terhadap Bali tak pernah pupus. Perhatiannya diwujudkan dengan hal-hal sederhana. Menulis tentang Bali misalnya.

Warning: Jangan Menikahi Pria Bali Jika Ingin Kebebasan Dunia Akherat!

0

Comments 96

  1. Saya sebagai penulis sangat keberatan atas apa yang anda paparkan. Pertama, anda sangat tendensius memojokkan saya sebagai penulis. Kedua, anda tidak memiliki penghargaan terhadap daya kritis penulis. Ketiga anda memberikan sanggahan yang timpang dengan begitu intens menyebut nama saya. Perlu anda belajar membedakan mana penulis dan mana tulisan. Saya sesugguhnya tidak yakin anda ini penulis yang paham jurnalistik atau tidak. Tolong bedakan mana opini dan mana fiksi. Saya menulis opini bukan fiksi. Bukan juga menulis karya penelitian ilmiah atau artikel ilmiah. Namun data yang saya peroleh adalah hasil pengamatan, observasi dan penuturan perempuan Bali di sekitar saya. Saya merangkumnya dalam bentuk opini. Satu hal yang patut saya ingatkan adalah etika. Anda bukan menyerang tulisan saya, tapi personal saya. Andapun sangat tendensius menyebutkan nama saya. Ulasan inilah yang sangat perlu diluruskan. Marilah kita berpikir dengan baik tanpa perlu menyerang personal penulisnya. Saya sarankan anda menelusuri siapa saya, karya saya, komitmen saya pada dunia pendidikan dan seni budaya. Saya memang bukan siapa siapa. Tapi saya berkarya nyata.

    1. Saya sudah baca tulisan asli anda di tatkala-co. Tulisan anda memang tidak bilang JANGAN MENIKAHI PRIA BALI KALAU MAU BEBAS DUNIA AKHERAT. Tapi klo dibaca palan-pelan paragraf2nya artinya memang begitu. Paragraf pertama anda bilang perempuan bali yg menikah dengan pria bali adalah perempuan paling tidak merdeka, malah terikat dunia dan akherat. Terus di paragraf terakhir anda bilang agar perempuan bali pikir-pikir sebelum menikah dengan pria bali mumpung masih ada kesempatan. Kesimpulannya mbak mau bilang: kalau mau bebas dunia akherat perempuan jangan menikah dengan pria bali. Artinya kan begitu?

      Benar juga yg ditulis bli gusti pop bali, dalam tulisan anda membuat gambaran seakan-akan rumah tangga orang bali itu penuh penderitaan. Yang paling menyakitkan anda bilang kami absurd. Sebagai perempuan bali saya tersinggung mbak buat seakan-akan kami begitu bodoh menikah dengan suami bali. Memang mbaknya sepinter apa sih? Karena mbaknya dosen terus merasa lebih pintar dibandingkan ibu-ibu bali? Jangan sok deh mbak. Di atas langit masih ada langit. Camkan itu.

      Lebih baik Mbaknya introspeksi diri. Lain kali jangan menulis yang tidak-tidak, apalagi ngejek budaya bali. Kami ngayahin adat itu karena kami memang cinta adat. Kalau mbaknya anti adat bali, silahkan aja. Tapi jangan jadi propokator ngajak-ngajak orang lain ikut anti adat. Ingat mbaknya menulis di internet akan dibaca oleh banyak orang. Kalau mbaknya orang bali juga, ingat karma mbak….

      1. Jangan menikahi pria bali,…? Kualitas anda seorang dosen menunjukan seorang berpendidikan tinggi,…!!! namun akan muncul pertanyaan apakah anda mempunyai kualitas pengetahuan pengalaman hidup yang cukup,..serta pikiran yang tercerahkan,..sangat miris gagal faham menjalani makna hidup

    2. maaf saya cuma mau mengomentari ini

      “Kedua, anda tidak memiliki penghargaan terhadap daya kritis penulis.”

      daya kritis? kritis apanya? tulisan anda itu ngejek dan menejelek-jelekkan orang bali.

      sok cerdas tapi ternyata….. ?

      ada aq*a?

    3. saya setuju dengan komentarnya ibuk @suciari. sebaiknya mbak introspeksi diri daripada beralasan ini itu. saya memang tidak secerdas mbaknya tapi saya bisa baca komentar-komentar yg ada tulisan blog mbaknya. sebagian besar komentar disana tidak mendukung opini mbaknya. opini mbak mengejek dan melecehkan. masih lebih bagus tulisannya popbali ada pembanding dan solusi, tidak seperti tulisan mbak yang hanya mengejek dan menjelek-jelekan tanpa solusi.

    4. “Tolong bedakan mana opini dan mana fiksi”

      Tolong bedakan mana kritik dan mana pelecehan

      Tolong bedakan bagaimana beropini dan bagaimana nyepsep karbit….

      wkwkwkwk… kakekokakekok

    5. Ha ha ha…..harusnya yg baca tulisan ibu sonya gak usah marah. Bu sonya menulis apa yg dilihat dan dirasakan. Kalau mau jujur ya begitu deh…. Masalah ini saya hadapi berpuluh tahun lalu. Apalagi saya menikah dg berbeda kasta. Kami bahkan sempat berkonsultasi ke kementerian agama. Beruntung masalah ini dapat kami selesaikan dlm klg kecil kami. Suami yg dg cinta dan pengertian luar biasa mendampingi saya dalam kegundahan. Sekarang saya didampingi oleh anak2 yg berfikir moderat dan luar biasa. Mereka laki2 bali dan perempuan bali yang modern. Betapa bahagianya didampingi suami dan anak2 yg sangat melindungi dan mengerti kegundahan saya. Ternyata saya salah satu org yg punya rasa spt ibu sonya tulis. Sebaiknya ini tdk dipertentangkan. Tetapi mari kita jujur pd diri sendiri dan mencari solusinya. Saya yakin bukan maksud bu sonya utk mengatakan jangan menikah dg pria bali. Tetapi lbh banyak kpd situasi yg dihadapi secara pribadi oleh wanita bali umumnya. Semoga banyak perempuan bali yg memperoleh suami bali spt saya. Ibu sonya tks sdh mengungkapkan kegundahan ini kepermukaan agar menjadi PR kita bersama. Salam

    6. Dear Bu Kadek Sonia

      Saya adalah wanita yang menikah dengan Laki-laki Bali.
      Dengan membaca tulisan Anda ini, saya merasa malu karena tulisan Anda sudah mengatasnamakan ”Perempuan Bali”. Anda adalah salah satu wanita yang menikah dengan dengan Laki-laki Bali juga. Apakah Anda juga salah satu dari wanita bodoh yang Anda ceritakan di atas karena Anda sudah menikah dengan Laki-laki Bali? Perempuan di manapun, Ia akan menjadi Istri ,Mantu ,Tante ,Nenek setelah menikah, itu tidak berlangsung di Bali saja. Semua Perempuan yang sudah menikah memang langsung berhadapan dengan keharusan-keharusan (kewajiban). Harus pandai bersosialisasi (bukankah wanita juga makhluk sosial?), harus pandai membuat banten (masih bisa di pelajari, atau dengan membeli (dagang banten masih banyak yang hidup di Bali)), harus pandai menjaga gerak-gerik dan sikap (wanita manapun pasti harus menjaga sikap dan gerak-geriknya karena membawa nama baik keluarga dan itu pun berlaku pada wanita yang belum menikah), harus menjaga persatuan dan kesatuan, seimbang, merakyat, adil dan bijaksana (kalau yang Anda maksud ini dalam keluarga, jelas! Perempuan mana yang mau rumah tangga nya hancur? ini bukan lagi tentang keadilan, hal ini pun biasanya di lakukan Laki-laki Bali pada umumnya).
      Saya lahir, besar dan menikah dengan Adat Bali, sampai saat ini belum pernah saya mendengar atau bahkan orang harus mengusahakan saya melahirkan bayi laki – laki. Tidak, pada umumnya pada zaman globalisasi saat ini, orang – orang lebih mengutamakan agar bayi yang dilahirkan sehat. Lalu bagaimana kalau melahirkan bayi laki – laki yang tidak sehat? Apakah tidak menjadi pergunjingan juga?
      Kebanyakan orang lain melihat kekurangan kita di nilai oleh orang lain, mengapa tidak? Anda tidak bisa menilai diri salah atau tidak, cantik atau tidak, pintar atau tidak, kalau bukan orang lain yang menilainya. Sah – sah saja.
      Mungkin, kalau saja Anda atau Perempuan – perempuan yang Anda opinikan atas nama Anda itu bertindak tidak baik/tidak senonoh di dalam berkeluarga (bersuami istri). Kalau memang tidak ada masalah yang sangat keterlaluan, Tidak Mungkin keluarga sampai tidak mau menerima Mati nya perempuan di tempat Suami.
      Saya sangat berharap Anda bisa meralat artikel ini. Tidak semua Perempuan Bali mengalami yang Anda jabarkan. Dan kalau memang Anda men’survei nya sebelum membuat ini, sebaiknya Anda melampirkan hasil dari survei berapa Wanita? Dan apa tujuan dari penulisan ini, serta lampirkan juga acuan yang Anda gunakan dalam membuat artikel ini.

      Terimakasih,

    7. “Saya sarankan anda menelusuri siapa saya, karya saya, komitmen saya pada dunia pendidikan dan seni budaya. Saya memang bukan siapa siapa. Tapi saya berkarya nyata.”

      Nyata betul anda memang tipe orang angkuh. Bukannya menyampaikan bantahan isi opini malah pamer prestasi. Banyak perempuan Bali jadi orang terkenal. Banyak dosen Universitas Udayana yang perempuan. Tapi belum ada yang seangkuh anda sampai mengatakan perempuan bali yg menikah dengan pria bali itu malang, kasihan, bodoh, absurd, dan lainlain. Apalagi sampai menyarankan agar perempuan bali pikir-pikir sebelum menikah dengan pria Bali. Anda sombong dan angkuh.

    8. Tp anda memojokan orng bali, sbnrnya menikah dgn pria mnpun n apapun agamanya ttp saja hrs mlksnakan kwajiban sbgai istri, menantu, ibu rumah tngga , bersosialisasi bkn cm orng bali.sblm mnulis pikir dl emnk klo nikah luar bali ato hindu ato bs hidup sesuka anda.

    9. ok pendek aja ” kalau anda tidak suka dihina,dicacimaki,disindir inlah itulah, yang suruh buat apa yang anda bilang tadi tu OPINI GITU , yang suruh buat itu syapa, yang punya ide itu syapa yang merangkum itu syapa, ANDA SENDRI KAN, sekarang kalau saya yang gituin anda seperti KARYA OPINI ANDA ITU, apa anda yakin atas nama tuhan anda tidak akan tersinggung dan marah???

    10. Ya betul pak Putra menanggapi opini anda sudah tepat, yg sudah tentu dg membongkar apa sebenarnya yg ada pada isi kepala anda dan ini anda rasakan sebagai “serangan” pribadi. Bukankah pikiran anda mencerminkan siapa anda.
      Pengamatan yg anda lakukan tidaklah valid, karena anda mungkin hanya mendengar keluhan dari perempuan bali yg bermasalah, mereka yg berbahagia dan tidak bermasalah tentu luput dari pengamatan anda karena mereka tidak mengeluh pada anda, sayangnya kemungkinan besar mereka yg berbahagia sangat banyak.

  2. Selamat malam pembaca semuanya. Perkenalkan sayalah penulis artikel yang dihakimi habis habisan secara tidak berimbang di ulasan ini. Jika ingin mengetahui saya, bacalah karya saya. Saya menulis kumpulan cerpen, buku ajar, penelitian dan karya teater. Namun di rumah, saya adalah perempuan biasa, ibu bagi anak anak saya. Suami saya laki laki Bali yang sangat baik, tidak melakukan hal buruk pada saya. Dia tidak mengekang saya. Perlu anda tahu, tulisan saya adalah tentang kehidupan perempuan Bali di luar saya dan saya menjadi pendengar mereka bertahun-tahun karena saya suka mendengar. Di dalam hati saya ingin menolong mereka, namun saya bukan pahlawan. Saya hanya menulis dengan pikiran kritis saya. Saya ingin perempuan Bali berbicara! Punya suara! Terbuka. Saya bukanlah provokator seperti yang disangka kebanyakan pemberi komentar disini, saya juga tidak ngawur. Perlu anda ketahui, saya sudah enam tahun memendam kegelisahan perempuan Bali di sekitar saya. Bahwa saya akan dicap buruk karena kejujuran ini, resiko saya. Saya hanya kecewa pada ulasan artikel ini yang terlalu memojokkan saya, bukan karena saya membela diri, tapi saya punya perspektif berbeda. Saya menulis dengan sudut pandang perempuan, yang menyaksikan sendiri dan mengetahui akar persoalan sesungguhnya. Semua adalah fakta.

    1. Tuajuan ibu mungkin baik. Tapi yang saya sayangkan ibu sudah berani menulis artikel karena baru mendengar curhatan dari beberapa orang yang ada disekitar ibu. Tanpa melakukan survey lebih banyak dan lebih luas kepada wanita wanita yg menikah dgn org Bali. Samplenya ibu baru sedikit tp ibu sdh menjudge seperti ini bu. Apa yg kita dapat sekarang atau nanti semua berdasarkan atas karma kita. Suksma, rahajeng ibu

    2. Selamat Pagi para pembaca saya sebagai pria Bali sangat tersinggung dengan tulisan Ibu tanpa harus mencari tahu siapa diri Ibu justru dengan tahu siapa diri Ibu qkan lebih miris lg karena seharusnya seorang penulis yg baik tulisan yg dibuat tak menyinggung perasaan sseorang, klmpk, gol, atau etnis tertentu. Mungkin maksud Ibu baik ingin mengangkat permsaalahan yg dirasakan “sebagian kecil ” wanita Bali tp analisis dn opini Ibu tdk seimbang dan kata yg digunakan provokatif. Perlu Ibu ketahui dari perspektif saya yg disertai fakta riil pria Bali itu umumnya lugu, pengasih, sayang keluarga dan dinamis dlm menyikapi perubahan Salah satu contohnya memberikan kesempatan wanita tampil baik di panggung politik, birokrasi, sosial, dll. tdk kah Ibu tahu di Singaraja Ketua Fraksi PDIP Buleleng, Ketua DPC Demokrat Buleleng, calon DPR Dapil Bali juga ada seorang wsnita, dan banyajk instansi pemerintah dipimpin oleh wanita Bali. Memang Ibu menyebut ini sebuah opini tp opini yg menyebut identitas kelompok dn menurut mrka tdk sesuai kenyataan akan menimbulkan ketersinggungan. pada kesempatan ini saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak IGusti Putra (maaf jika slh penulisan nama) atas argumen yg lengkap dn sangat menginspirasi

    3. Saudari seorang penulis mestinya sadar apa yang saudari tulis aan mendapat beragam komentar baik tau buruk. Secara sekilas kalau orang membaca judul yang saudara tulis akan banyak orang keberatan. Apakah tulisan saudari sudah melaukan penelitian akan hal tersebut berap sample yang di ambil dan berapa persen hasilnya seperti itu ? Berapa jumlah penduduk bali laki2 yang ada ? dan berapa jumlah perempuan yang menikahi orang bali yang megalami nasib seperti itu ? Saudari sendiri malah mengalami hal yang sebaliknya ? mestinya saudari lebih mengedapan kenapa hal seperti itu terjadi ? saudari tidak mengalami sedangkan orang lain mengalami berarti ada hal yang berbeda yang menjadi penyebab terjadinya hal tersebut. Ingat masing masing manusia punya karmanya dalam menjalani kehidupan di dunia entah hasil karma kegidupan sebelumnya atau saat ini meungkin lebih baik mohon maaf atas artikel tersebut karena itu sudah mengeneralisasi orang bali khususnya laki laki bali, suksme

    4. Saya sekolah dan lahir di luar Bali dan menikahi orang Bali sengaja datang ke Bali untuk menikah dengan orang Bali. Ibu saya tidak bekerja tapi hidupnya baik-baik saja bahkan berkecukupan, saya tidak bekerja juga tidak melarat karena kalau saya bekerja siapa yang mengurus anak saya. Saya diberi kebebasan bisa ketemu temen kalo lagi kangen atau shoping-shoping bareng keluarga hehehe. Suami saya orang Bali Asli tapi ga pernah neko-neko. Kalo saya pulang kampung (karena ada upacara/saya belajar dan buat banten sendiri dengan bahan bahan seseaui kemampuan kami ga mahal-mahal asal ga ngutang/sesuai kemampuan keluarga saya) Kalaupun ngayah namanya juga berkorban suci apa adanya diri saya. Jadi No problem menikah dengan pria Bali Bahaga itu milik saya dan keluarga saya. Dan bahagia itu adalah pilihan saya. No problem Menikah dengan Pria Bali.

    5. Komentar baik buruk kan biasa ibu sonia… sebagai penilaian tulisan anda…qta pnya perspektif berbeda…. Tentunya anda jg pnya argument donk untuk meluruskan tulisan anda biar dtrima dimasyarakat yg judulnya emng terkesan memvonis sich……apa emng sudah bnar sesuai fakta di lapangan??… Ato sekedar survey bebrapa orang yg mngkin belum tntu menunjang utk dijadikan sebuah tulisan??…apa semua perempuan bali merasa terkekang ya??..mmm….mungkin yg disurvey pas dpetnya yg agak malas…hehehe….well… Masalh sosial emng ruwet… Jika mengangkat ke media massa perlu pertimbangan dan fakta yg spesifik utk mndukungnya….kembali ke qta d.. Mnyingkapi tulisan ini…dn sedikit fakta nie buat ibu penulis… dri perempuan yg menikahi saya(pria bali) .. Istri saya orang surabya…dia lg tesis S2 di its…di saat ada upacara dan odalan dia ke bali menemani saya sebagai kewajibanya mnjadi istri orang bali…dia ga mrasa terkekang.. Dia bebas mnentukan karier dn pndidikannya…. Dan dia nikah dgan orang bali lho asli tabanan yg biase meceki yan megebagan….. Hehehe

    6. Semangat bu Sonya….. Jangan pernah berhenti menulis. Setelah 30 tahun penantian akhirnya ada yg menulis kegelisahan saya. Salam

    7. Yth. Kadek Sonia Piscayanti

      Saya sudah baca artikel anda di TATKALA.CO dan berusaha komentar di sana, tapi gagal terus. Saya juga sudah baca semua komentar anda di popbali ini.

      Saya mencoba utk netral, saya baca tulisan anda pelan-pelan supaya tidak salah paham. Sayangnya tak satu katapun yg menyemangati perempuan Bali. Anda hanya mengejek, mengolok-olok, mengompor-ngompori supaya orang yang lugu menjadi antipati terhadap kehidupan sosial dan budaya Bali.

      Anda berdalih menyuarakan kegelisahan perempuan Bali, tapi yang anda sampaikan koq justru menjelak-jelekan perempuan Bali, membuat gambaran-gambaran seolah kehidupan perempuan Bali yg sudah menikah itu sangat buruk. Malah mengajak mereka agar pikir-pikir sebelum menikah dengan pria Bali.

      Yg anda sampaikan itu negativitas. Betul yang disampaikan oleh Gusti Putra di popbali ini, anda sedang mendemoralisasi perempuan sekaligus pria Bali. Itu juga yang saya rasakan ketika membaca tulisan anda. Opini anda itu sangat berbahaya.

      Sebagai seorang pengajar universitas (dosen) mestinya anda mengedukasi, misalnya kasi tips atau kiat bagaimana caranya menjadi perempuan yang maju dan cerdas tanpa meninggalkan adat tradisi dan budaya Bali.

      Jika anda penganut Hindu mestinya anda ikut mengedukasi umat sedharma untuk bisa beryadnya dengan tulus. Odalan, ngayah, menyamabraya, bagian dari yadnya dan upaya melestarikan ajaran leluhur. Jika semua kalangan terdidik di Bali seperti anda, saya khawatir sebutan “Bali Pulau Seribu Pura” akan berubah menjadi seribu gereja atau masjid.

      Tapi jika anda bukan orang Hindu Bali, mungkin kepunahan Hindu Bali memang yang anda harapkan.

      Tolong komentar saya ini direnungkan baik-baik .

    8. Saya tidak yakin anda orang baik dan pintar buktinya anda mau juga nikah dengan Pria Bali, tokh…jangan ngawurlah dan jangan jadi provokator, men sing demen jadi bagian nak Bali mulihang ibanne Luh…

    9. Kadek Sonia.
      tapi anda memojokkan Bali secara umum, kenken ne…
      kritis ama emosi itu beda, apalagi emosi ke dlm bentuk tulisan yg disebar ke umum ini berbahaya. seperti jangan menikah dg laki2 Bali, artinya anda menyarankan menikah dg orang luar Bali, ini luar biasa emosinya, belum pernah saya melihat / mendengar hal seperti ini.

    10. Kadek Sonia.
      tapi anda memojokkan Bali secara umum, kenken ne…
      kritis ama emosi itu beda, apalagi emosi ke dlm bentuk tulisan yg disebar ke umum ini berbahaya. seperti jangan menikah dg laki2 Bali, artinya anda menyarankan menikah dg orang luar Bali, ini luar biasa emosinya, belum pernah saya melihat / mendengar hal seperti ini.

  3. Saya salah satu wanita bali yg menikah dng pria bali dan menyandang gelar sebagai jero juga. Dan semuanya baik2 saja. Derita atau bahagia sebenarnya kita sendiri yg membuat. Saya sangat yakin, ketika hati kita baik, pasti kita akan dapat yg baik. Masalah adat dan agama, itu adalah hak setiap orang untuk mengikuti atau tidak. Dmn pun berada, yg penting bs bawa diri, saya yakin pasti semua akn baik2 saja.

  4. Sebelumnya sangat berterima kasih sama ibu sonia atas apa yang ditulis dalam bentuk opini. Saya yakin ibu sonia bermaksud baik karena menampung apa yang umumnya didengar dan bukanlah bermaksud menjelekan siapapun.
    Banyak hal bervariasi yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga di Bali. Banyak faktor yang dapat menimbulkan permasalahan baik dari faktor pribadi masing masing, faktor lingkungan juga economi. Kita bisa saja berpendapat namun kenyataannya tidak semua orang mengalami hal yang sama dalam menjalani kehidupannya.
    Ada yang merasa terbebani ada pula yang sangat bahagia. Dan dari cara, saya yakin tidak semua orang bisa sama dalam menyikapi karena semuanya tergantung dari faktor faktor tadi.
    Mari kita menelaah sendiri kita yang mana dan apa yang harus kita lakukan untuk menyikapinya.

    Opini, pendapat dalam bentuk apapun jangan sampai menimbulkan ketidak rukunan apalagi saling serang.

    Dalam menilai opini atau pendapat pun kita sudah bisa memilih sikap apa yang kita ambil. Memilih melihat dari sudut pandang yang mana. Semua kita yang menyikapi. Semoga bisa disikapi dengan damai dan bijaksana yang penting kerukunan tetap terjaga.

    Mohon maaf jika apa yang saya sampaikan mungkin tidak berkenan. Suksma

  5. Kala gitu kamu jangan menikah dgn orang Bali Sonia, nikah aja dgn orang non Bali, tapi kenyataannya kamu juga nikah sama orang Bali, preeeet

  6. “Tolong bedakan mana opini dan mana fiksi. Saya menulis opini bukan fiksi. Bukan juga menulis karya penelitian ilmiah atau artikel ilmiah. Namun data yang saya peroleh adalah hasil pengamatan, observasi dan penuturan perempuan Bali di sekitar saya.”

    Maaf mbak dari komentar mbak di atas saya petik kata2 diatas, saya bukan seorang terpelajar,jurnalis atupun penulis seperti mbak. Damam pengertian saya opini adalah pendapat seseorang terhadap suatu fenomana, namun kalau sudah menyangkut data dari pengamatan yang mbak lakukan di sekitar mbak bukankah itu sebuah penelitian namanya. Maaf jika saya salah, tolong dicerahkan

  7. Sebenarnya apa yang diributkan?.baik buruk itu relatif, sorga neraka juga relatif, susah senang juga relatif ,tergantung yang memahami.

    Sama sama memahami yang tidak tau , mau memperebutkan yang tidak tau juga

    Siapa yang tau isi surga atau neraka? Mati dulu kali .
    Terus kabarkan lagi ke bumi

    Lakukan yang terbaik untuk diri sendiri. Itu bagi aku lho , orang lain menilai apa ya terserah dan sah saja

  8. Hahahhaa penulisnya mungkin kurang minum dan perlu aqua, menulis sesuatu yg dapat menyinggung perasaan golongan tertentu, agama kami Hindu tidak pernah memaksakan kehendak untuk begini dan begitu kalau ibu tidak setuju dan merasa tidak sejalan ya cukup dipakai untuk ibu sendiri jangan bikin opini du publik

  9. ah omonganya perempuan feminist kan emang gitu. pokoknya pria itu selalu salah, apalagi pria bali, yang terlihat seperti mendominasi. maunya equality tapi gak mau ambil perkejaan berat (salah satu contoh). anda beropini tentu akan ada sanggahan. kita tidak mengenal namanya “opini anonim”, seseorang harus bertanggung jawab atas apa yang dia sampaikan. jika memang harus berdebat ya lakukan. jangan malah mewek! cengeng banget! katanya mau menyelamatkan dunia? LOL

  10. Saya sebagai generasi muda bali merasa tersinggung dengar opini anda diatas
    Anda sudah ngaca apa belum
    Mending cuci muka dulu biar tidak melecehkan laki laki bali

  11. Sudah digariskan dimana kita sebagai penerus umat hindu generasi bali,makin sulitnya ekonomi memaksa mereka berkata,berpikir berbuat ngawwur,KARMA itulah yang hatus kita ingat , mau kita jalani atau tidak, IDA DANG HYANG WIDHI tak pernah memaksa,alangkah baiknya kita melestarikan,generasi muda kita sekarang sudah mulai GAUL SUDAH TERKONTAMINASI PERADABAN DAN TIDAK SALAH,mau ikut silakan mau tidak silakan, AGAMA kita UNIVERSAL, wanita bisa keluar masuk hindu namun seorang lakilaki tidak bisa masuk hindu karena dia berasal dari leluhur mana? Akan tetapi bisa memepelajari dan mengamalkan ajaran sederhana HINDU, hindari kemunafikan karena kemiskinan hindari kemunafikan kebodohan, bukan tradisi kita salah namun UMAT yang tak mau belajar . HILANG GENERASI JEGEG HITAM MANIS PENARI BALI yang ada bersolek canyik seksi dan gaul,HILANG GENERASI JEGEG HITAM MANIS PANDAI MEJEJAHITAN yang ada jati sibuk dengan gadget bersosmed, HILANG GENERASI BAGUS HITAM MANIS MEBANJARAN yang ada kumpul gaul geng motor dan ormas, HILANG GENERASI BAGUS HITAM MANIS MELUKIS DAN MEMAHAT adanya melukis dengan darah demi pahatan hidup, HILANG GENERASI BAGUS MENGEBATAN adanya ngebat musuh dijalanan walau dia manusia, jangan begitu muanfik kita malu kita karena bebanten dengan jenis nista karena ketulusan yang perlu, bebanten madya atau berikutnya jika kita sudah berkecukupan, adanya manusia sekarang adalah malu terlihat mebanten sederhana mau apang buah luar negeri dan jajanan mahal, hilang dulu kesederhanaan hilang kebersamaan hilang ketentraman karena semua umat manusia diracuni dengan PERADABAN HARTA KEKUASAAN KEPUASAN KESERALAHAN TERKNOLOGI DLL. PIKIRKAN SEBELUM BERTINDAK BERBUAT SAAT TEKNOLOGI MEMEJAMKAN MATA KITA
    KARMA STILL EXIST BEGITU STIKER STIKER PENYADARAN
    KARMA TAK AKAN HILANG JIKA ROHMU MENINGGGALKAN RAGAMU BEGITU LAGU MENGINGATKAN DLL MASIH BANYAK HAL UNTUK MENGINGATKAN HAL SEDERHANA YANG PERLU KITA PERTAHANKAN SESUAI AJARAN HINDU YAITU

    KARMA DAN DHARMA

    SALAM UNTUK SONIA JANGAN SALAHKAN ORANG TERLAHIR DIHINDU YANG TAK DAPAT BERBUAT SEDIKIT ATAU SEDERHANA UNTUK AGAMANYA.

  12. Sudah digariskan dimana kita sebagai penerus umat hindu generasi bali,makin sulitnya ekonomi memaksa mereka berkata,berpikir berbuat ngawwur,KARMA itulah yang hatus kita ingat , mau kita jalani atau tidak, IDA SANG HYANG WIDHI WASA tak pernah memaksa,alangkah baiknya kita melestarikan,generasi muda kita sekarang sudah mulai GAUL SUDAH TERKONTAMINASI PERADABAN DAN TIDAK SALAH,mau ikut silakan mau tidak silakan, AGAMA kita UNIVERSAL, wanita bisa keluar masuk hindu namun seorang lakilaki tidak bisa masuk hindu karena dia berasal dari leluhur mana? Akan tetapi bisa memepelajari dan mengamalkan ajaran sederhana HINDU, hindari kemunafikan karena kemiskinan hindari kemunafikan kebodohan, bukan tradisi kita salah namun UMAT yang tak mau belajar . HILANG GENERASI JEGEG HITAM MANIS PENARI BALI yang ada bersolek canyik seksi dan gaul,HILANG GENERASI JEGEG HITAM MANIS PANDAI MEJEJAHITAN yang ada jati sibuk dengan gadget bersosmed, HILANG GENERASI BAGUS HITAM MANIS MEBANJARAN yang ada kumpul gaul geng motor dan ormas, HILANG GENERASI BAGUS HITAM MANIS MELUKIS DAN MEMAHAT adanya melukis dengan darah demi pahatan hidup, HILANG GENERASI BAGUS MENGEBATAN adanya ngebat musuh dijalanan walau dia manusia, jangan begitu muanfik kita malu kita karena bebanten dengan jenis nista karena ketulusan yang perlu, bebanten madya atau berikutnya jika kita sudah berkecukupan, adanya manusia sekarang adalah malu terlihat mebanten sederhana mau apang buah luar negeri dan jajanan mahal, hilang dulu kesederhanaan hilang kebersamaan hilang ketentraman karena semua umat manusia diracuni dengan PERADABAN HARTA KEKUASAAN KEPUASAN KESERALAHAN TERKNOLOGI DLL. PIKIRKAN SEBELUM BERTINDAK BERBUAT SAAT TEKNOLOGI MEMEJAMKAN MATA KITA
    KARMA STILL EXIST BEGITU STIKER STIKER PENYADARAN
    KARMA TAK AKAN HILANG JIKA ROHMU MENINGGGALKAN RAGAMU BEGITU LAGU MENGINGATKAN DLL MASIH BANYAK HAL UNTUK MENGINGATKAN HAL SEDERHANA YANG PERLU KITA PERTAHANKAN SESUAI AJARAN HINDU YAITU

    KARMA DAN DHARMA

    SALAM UNTUK SONIA JANGAN SALAHKAN ORANG TERLAHIR DIHINDU YANG TAK DAPAT BERBUAT SEDIKIT ATAU SEDERHANA UNTUK AGAMANYA.

  13. icang suba maca tulisan asline kadek sonia dugas ne.
    sebagai nak bulldog icang lek maca…. setelah tawang ne nak dosen di buleleng kone… wuuuuukaaaaaaannnn

    memang je cara janine nak madan putu made nyoman konden karoan nak bali asli, bisa-bisa antek misionaris… mungkin pang onya anake suud meadat terus pindah agama….

  14. Haha,,,ibu sonia mungkin lelah,apa ibu sakit,,,,?
    Baru mendengar curhatan beberapa orang saja sudah berani menulis opini seperti itu,bedikin naar gambir buk pang sing lengeh buah,,,,,,

  15. Mungkin orang ini tidak Punya keturunan Purusa Atau sakit hati Karena ulah nya sendiri maka membuat opini spt itu. Kalau Kamu orang Bali, apakah Bapak dan Ibumu merasa keberatan menjadi orang Bali? Kalau membuat opini buatlah disekitar diri anda dan jangan sampai membuat orang lain merasa tersakiti. Coba lihat disekeliling anda, berapa orang pria Bali nikah dengan orang luar?

  16. Maaf, ini koq malah jadi membanding-bandingkan dengan non-bali? maksudnya gimana? kalau mau bantah opini tentang pria bali, ya bahas pria bali aja dong. mohon pencerahannya…. terimakasih.

    1. saya bantu ya gan….
      ibu kadek sonia piscayanti dlm tulisan lain ngajakin perempuan bali agar pikir-pikir sebelum menikah dengan pria bali dengan alasan terikat, sibuk, acara adat, odalan banya, bla bla bla….
      pertanyaannya: terus nikah sama pria mana? kan pasti arahnya ke pria non-bali…
      lalu disini penyanggah menyajikan perbandingan bagaimana kalau menikah dengan pria non-bali… untuk menunjukkan apakah saran ibu kadek itu masuk akal atau tidak….
      dan menurut si penyanggah ternyata tidak lebih baik….
      tapi juga nggak bilang pria bali lebih baik dibandingkan non-bali…
      sama saja menurut penyanggah, tergantung person….
      gitu kira-kira gan….

      1. Oh okay. thank you gan. tapi kan bisa aja maksudnya disarankan utk tdk usah menikah dgn cowo manapun, atau mungkin nikah sesama jenis (lesbi)? bisa aja kan? hahahaha…

        Memang betul semua agama paternalistik sih… di agama ane juga laki-laki memang kepala rumahtangga. istilahnya imam. harus dihormati sesui kapasitasnya (kapasitas.. apa sih? hehe).

        klo menurut ane sih sesuai masing-masing aja. cewe bali nikahnya ma cowo bali, non-bali nikah sama non-bali. oh ya soal tradisi ya sesuai yg diyakini aja, org bali ya lestarikan adat bali…. yg non-bali ya jalankan non-bali.

        dibikin simple aja… hidup dah ribet nggak usah dibikin tambah ribet gan.

    2. maaf ini kok malah bertanya, ‘maksudnya gimana?’ anda baca dan pahami tak tulisan yang sedang dibahas itu?

      1. ngga juga sih gan. yg lebih SARA dari ini banyak di luar sana. gpp lah. menurut ane ini persoalan gender…. tapi karena budaya bali yg dipersoalkan ya jadinya ke persoalan etnik (pria bali.) soal budaya arab atau timur tengah ane emang kurang setuju… ane islam nusantara…. wkwkwkwk… biarin yg fundamentalist aja yg berbudaya timur tengah… tapi soal ibadah ane tetap sesuai islam.

  17. Ibu sebelum menulis mohon buat judul yg agak bagus dikit ,jangan sampai memojokan agama,suku,dan adat budaya,kita kan bangsa indonesia,mungkin ibu melihat dari beberapa orang klo lelaki bali tu buruk,memangnya ibu udah menyurvai dalam keluarga ibu sendiri,tanyakan apa kah benar lelali bali itu semuanya buruk? Mohon maaf klo ada kata kata saya yg salah,di bali berlaku sebab akibat,renkarnasi leluhur kembali pada karma

  18. Menarik sekali diskusinya..terlepas dari masih ada pilihan kata yang mungkin mesti dicari yang lebih enak , bisa membuat kita menyimak dengan perenungan, bukan kata yg memancing naiknya emosi. Tapi saya coba berfikir positif bahwa cara berpusarnya sebuah discourse seringkali oleh hal hal yg mirip seperti zat adictiv. Kalau ditulis datar datar saja mungkin akan tidak menarik perhatian. Kebetulan saya kenal dengan Dek Sonia..suaminya bali, keluarga yg melahirkannya juga bali, menjalankan kesehariannya sebagai nak bali. Celotehan yg semacam mengolok olok diri sendiri sebagai orang bali saya kira sering kita dengar saat kita sedang kumpul ngayah misalnya. Ssya tidak sebutkan yah..silahkan diingat ingat.. kita. Sering melontarkan joke joke otokritik terhadap tatacara kita melakoni hidup sebagai manusia bali dalam berbagai hal… maaf ni saya coba simpulkan bahwa apa yg ditulis oleh dek sonia mirip seperti joke joke yg saya maksud. Mungkin karena dek sonia adalah seorang penyair , dramawan tulisannya sangat ekspresif, seakan letupan emosionalnya pribadi. ( mungkin di sini masalahnya dek soniaa!!!) Baiklah.. saya tidak ingin berpanjang lebar…saya percaya yg nulis dan menimpali dengan opini semuanya bermaksud baik. Saya berharap disini saya juga bisa membaca refleksi refleksi yg bisa membawa kita lebih bijak menyikapi perihal hubungan s ehari hari dengan pasangan sebagai keluarga Bali. Ga usah bombastis ..tar bisa emosi lagi….. terkait dengan apa yg jadi pokok soal polemik ini saya ingin memulai dengan sebuah pengakuan saya saja. Bahwa saya seringkali merasa ga enak hati, malu juga kasihan dengan istri saya pada saat hari hari dimana para perempuan di setiap rumah tangga nak bali meningkat kesibukannya..terutama jelang hari raya, odalan dll. Karena di rumah saya sanggahe gedean kidik. Pekarangane linggahan kidik..lumayan kenjel istri istri ngemargiang sarana upakara. Selain itu pekerjaannya mencari pengupajiwa juga ten dados off..karen itu tyang berusaha menempatkan, menghormati dan memahami bila sesekali dia bicara kurang pantas ke saya… nggih amnukia kemanten…ampura karena sepintas seperti menyimpang dari pokok soal utama…karena tyang selalu mendambakan damai di hati…matur suksma

    1. Nah ini dia misonaris aslinya datang. Hahahahah
      Lebih baik begini terang-terangan menjalankan misi menyebarkan agama daripada berkedok menyurakan kegelisahan perempuan Bali. Yang tertarik silakan hahahaha

  19. Seorang wanita yg menikah dg pria bali..mendapat kehidupan yg katanya baik2 saja..tapi menulis opini seperti diatas ..apakah pantas?? Anda bisa saja mengelak dg beragument bahwa ini hanya opini berdasarkan kenyataan.bila anda benar2 seorang penulis ,pasti paham etika mjd seorang penulis..tidak asal tulis.ini lebih pada memprovokasi agar wanita didunia ini menjauhi pria bali.lalu kenapa anda msh setia pada pria bali???

  20. jikalah saya melempar kotoran anjing ke pekarangan orang, saya bungkus kotoran itu dengan kain bersih, apa pendapat anda???

  21. well… sama saja, penulis artikel sanggahan ini juga kurang menggali informasi soal agama lain.

    1. ‘Dalam Kristen/Katolik, ada beberapa macam kebaktian. Yang rutin dan pasti adalah kebaktian Minggu di Gereja, terjadi setiap hari Minggu dari pukul 08 hingga kira-kira pukul 10 dilanjutkan dengan kotbah, kumpul-kumpul, arisan-arisan, makan-makan, dlsb. Di luar kebaktian Minggu, ada juga kebaktian-kebaktian lain untuk event tertentu yang jumlahnya cukup banyak. Yang mungkin jarang diketahui oleh semeton Bali, orang Kristen juga kebaktian di rumah-rumah, terutama jemaat yang menempati rumah baru atau yang baru mengalami peristiwa besar (entah itu cobaan hidup atau keberhasilan.)’
    => kalo tidak tahu soal agama lain tidak usah menulis agama lain sebagai perbandingan. beberapa fakta di atas ada yang benar tapi juga ada yang salah. jadi jangan asal menulis.

    2. ‘Jadi, sekarang, bagi perempuan Bali pilihannya tinggal tiga saja:

    mau taat beragama Hindu dan melestarikan ajaran dan tradisi leluhur Bali; atau
    mau taat beragama Islam dan melestarikan ajaran dan tradisi leluhur Timur Tengah; atau
    mau taat beragama Kristen/Katolik dan melestarikan tradisi leluhur Yahudi/Eropa?’
    =>agama Hindu bukan agama asli Bali tapi dari India. tulisan anda di atas terkesan tendensius sekali menyebut islam/kristen/katolik dari luar tapi tidak dengan hindu.

    Hati-hatilah dalam menulis!

  22. Kalau ingin mendapatkan KEBEBASAN dunia akherat yaa seharusnya mbok Kadek Sonia Piscayanti MAMPU membebaskan PIKIRAN dari DUALITAS…..tapi kenyataannya TIDAK SEMUA MANUSIA “MAMPU” untuk hal itu…..jadi jangan membuat OPINI tentang KEBEBASAN dunia akherat bila dirimu sendiri belum mampu membebaskan pikiran dari DUALITAS…..karena bila kamu sudah mampu mencapai KEBEBASAN PIKIRAN maka segala bentuk OPINI tidak lagi mengikatmu……alias MOKSA……salam rahayu satu jiwa.

  23. Ada beberapa penyebab orang2 yg tidak setuju dg tulisan bu sonia.
    1. Kalo yg kontra adalah pria dan wanita, maka bisa dipastikan mereka belum menikah.
    2. Jika yg protes adalah pria, ya jelas lah… yang ngambil kerjaan merainan, ngae banten, dan ngayah di pura paling tuyuh kan perempuan. Mereka mana ngerti. Galungan yg paling sibuk sampe siang siapa? Ya perempuan. Laki2 pas galungan nak meceki. Manjus gen sing. Sekarang giliran perempuan pengen plesiran jalan2 ke PKB misalnya pas bulan Juni kemarin. Udah pake baju, baru liat kalender ye… bin mani purnama tonden ngelah canang. Beh buung be melali neh. Nyait malu. Kalo laki2 mana ngurusin rainan….
    3. Jika yg protes perempuan bali yg sudah menikah, maka dia pasti punya pembantu, atau istri dari pria bali kaya. Oleh karena itu dy ga usah berkarier dan konsen di rumah ngurus anak dan ngurus ayah2an banjar serta rahinan.
    4. Jika tidak protes thd tulisan bu sonia, maka dia adalah perempuan bali yg berkarier, hidup di desa kental adat dan mebraya, dikelilingi ibu2 bigos (biang gosip), dan uangnya sedikit. Sehingga kewajiban domestik (cuci baju dan bersih2 serta masak) plus merainan dan menyama braya dia sendiri yg melakoni. Maka tulisan bu sonia adalah curhatannya yg terpendam selama ini

  24. wahahaha lucu yaa
    orang2 masih menggunakan pemikiran konfensional
    saya org bali asli dan yang akan menikah dengan gadis bali,
    dengan membaca artikel bu sonia saya merasa jengah untuk membuat keluarga yg harmonis
    itu adalah sisi gelap dr perumahtanggaan bali yg ada. Jangan menutup mata, itu nyata.
    Hanya kurangnya penulisanya saja yg terkesan agak provokatif,
    namun jika kita telaah lebih dalam dan tanya kepada org tua kita drumah pasti pernah merasakanya, atau mungkin mereka pernah dalam situasi itu namun mereka menerimanya dengan lapang dada sehingga tidak terasa, namun tidak semua org bisa seperti itu

    seharusnya dengan adanya artikel kita kaum lelaki bali menjadi lebih bisa menjaga istri kita kelak agar tidak merasakan hal yg demikian.
    Nice artikel buk sonia untuk orang2 berpikiran terbuka nan optimis,
    dan akan menjadi beban mereka untuk yg berpikiran sempit dan pesimis

  25. Si kadek sonia ini ktnya jg menikah dgn laki2 bali n baik2 saja trus knp jg tidak dituangkan dl tulisannya dan sy kira masih banyak wanita yg menikah dgn laki2 bali jg baik2 saja spt si kadek sonia shg sample bbrp orang yg ktnya cm dsekitarnya jd acuan kurang bijak untuk diangkat menjadi sebuah fiksi atau apalah namanya. Dan kalo mau fair lg mestinya si sonia jg mendengar curahan hati para perempuan yg menikah dgn laki2 non bali apakah semua jg baik2 ,, nah klo prosentasenya jauh lbh besar br bs disimpulkan dlm bentuk tulisan yg layak disajikan,itupun mesti dgn survey yg lbh luas jgn kemudian kt baru dpt curhatan dr bbrp orang lalu sdh menganggap kondisinya sama di bali scr umum,,, sekian suksma

  26. dari segi anda bicara anda merupakan orang yang sakit hati dan sengaja membuat tulisan ini untuk meluapkan rasa sakit hati anda, tp anda harus tau kami orang bali terikat tp bisa dinyatakan bebas dalam melakukan apapun

  27. Opini saya, dia sudah pernah ke akherat dan melihat perempuan yang menikahi laki-laki Bali tidak bebas dan menderita…pikiran yang sangat sempit untuk seorang yg berpendidikan tinggi, kalau memang merasa tidak bebas dunia dan akherat. Jangan dijalani. Jangan menyalahakan…

  28. Ibuk sonia lengeh bang*** mula jelek ne gen not nagih aluh gen nyi idup dadi tuan putri raja gen nyi mu alyang be dayang liunan apa be mecuci otak nyi ne saru” nyi gen ngae artikel kene lamun be nyak mauyutan demen benyi nyi mula ****sat sonia kayak ne nyi jeleme bali kw

  29. Selamat Rahayu kepada para pembaca, para penulis, para komentator, para kritikus, dan para pengunjung dunia maya.
    Janganlah mempersalahkan opini atau pendapat seseorang, karena opini atau pendapat keluar dari mereka yg punya opini tersebut, mereka mengeluarkan pendapat yg menurut mereka benar, “menurut” bukan “berdasarkan”. Jadi semua benar pada hakekatnya, ada penulis dan pasti juga ada kritikus. Jika ada tulisan yg dirasa tidak benar, kritikus pasti selalu ada untuk mengkritisi. Tapi janganlah sampai kalian terlalu memperdebatkannya, mungkin bagi penulis ini benar adanya dari observasi dan apa yg dia dengar di sekitar yg hanya beberapa. Dan yg berkomentar jg benar memiliki pandangan yg bermacam-macam akan sebuah tulisan, kadang suka, kadang benci, kadang ada yg merasa terwakili melalui tulisan, kadang ada yg merasa tersinggung, dan semacamnya. Tapi saya berpesan semoga ini hanya terjadi disini bukan di luar, di situasi nyata. Kebebasan dunia maya dan media masa kadang tak terukur. Jadi kembali kepada diri kita yg mempercayai adanya demokrasi, mempercayai kebebasan mengemukakan pendapat, maukah pendapat yg penulis tuangkan melalu tulisan itu salah atau benar, biarlah penulis berkreasi, kita hanya sebagai pembaca dan kritikus, kita lihat bahwa itu adalah pendapat yg dimana itu agak mirip sama apa yg penulis alami, karena kita beranjak melalui pengalaman. Biarkan penulis berkreasi, kritikus mengkritisi asalkan tidak ada diskriminasi antara dua koalisi yg saling berkontradiksi. Salam Demokrasi

  30. Biarkan penulis berkreasi, kritikus mengkritisi asal jangan ada diskriminasi di antara dua koalisi yg berkontradiksi atas asumsi-asumsi. Salam demokrasi

  31. Jika bijak MINTA MAAF LAH kpd msyrkt atas tulisan ibu baik ibu merasa benar at salah, dan BERTERIMA KASIH atas segala saran sebagai bahan referensi utk kry ilmiah slnjtnya.

    Over dosis kedudukan at make up sampai lupa mengenali diri.

  32. Yth. Kadek Sonia Piscayanti

    Saya sudah baca artikel anda di TATKALA.CO dan berusaha komentar di sana, tapi gagal terus. Saya juga sudah baca semua komentar anda di popbali ini.

    Saya mencoba utk netral, saya baca tulisan anda pelan-pelan supaya tidak salah paham. Sayangnya tak satu katapun yg menyemangati perempuan Bali. Anda hanya mengejek, mengolok-olok, mengompor-ngompori supaya orang yang lugu menjadi antipati terhadap kehidupan sosial dan budaya Bali.

    Anda berdalih menyuarakan kegelisahan perempuan Bali, tapi yang anda sampaikan koq justru menjelak-jelekan perempuan Bali, membuat gambaran-gambaran seolah kehidupan perempuan Bali yg sudah menikah itu sangat buruk. Malah mengajak mereka agar pikir-pikir sebelum menikah dengan pria Bali.

    Yg anda sampaikan itu negativitas. Betul yang disampaikan oleh Gusti Putra di popbali ini, anda sedang mendemoralisasi perempuan sekaligus pria Bali. Itu juga yang saya rasakan ketika membaca tulisan anda. Opini anda itu sangat berbahaya.

    Sebagai seorang pengajar universitas (dosen) mestinya anda mengedukasi, misalnya kasi tips atau kiat bagaimana caranya menjadi perempuan yang maju dan cerdas tanpa meninggalkan adat tradisi dan budaya Bali.

    Jika anda penganut Hindu mestinya anda ikut mengedukasi umat sedharma untuk bisa beryadnya dengan tulus. Odalan, ngayah, menyamabraya, bagian dari yadnya dan upaya melestarikan ajaran leluhur. Jika semua kalangan terdidik di Bali seperti anda, saya khawatir sebutan “Bali Pulau Seribu Pura” akan berubah menjadi seribu gereja atau masjid.

    Tapi jika anda bukan orang Hindu Bali, mungkin kepunahan Hindu Bali memang yang anda harapkan.

    Tolong komentar saya ini direnungkan baik-baik .

  33. Kenapa si penulis setiap memberikan tanggapan atas kritik yanga ada selalu mengatakan “silakan cari tahu saya, karya” saya dan blablabla”
    Untuk apa si penulis menyuruh orang lain mencari tahu siapa dirinya ?
    Apa ingin menunjukan bahwa dirinya seorang terpelajar ? Ilmiah ? Akademis ? Pintar ?
    Saya rasa orang lain tidak perlu tahu siapa dia, orang lain hanya perlu menanggapi opini dlm tulisannya saja. Sejak membaca judulnya, pemilihan kata-katanya dan cara penulisannya diblog pertama kali, saya pribadi malah mengira si penulis itu hanya seorang perempuan biasa yang hanya curhat akibat tekanan dalam kehidupannya pribadi.
    Ternyata dia seorang dosen, hehehe
    Siapapun yang membaca pasti punya penilaian bahwa tulisannya tersebut adalah sebuah bentuk provokasi. Provokasi kepada para perempuan-perempuan Bali maupun Non-Bali supaya jangan menikah dengan pria Bali jika tidak dianggap sebagai perempuan bodoh.
    Bahkan pemilihan kalimat “tidak merdeka sampai akherat”, sungguh sebuah pengambilan kalimat yang sungguh berani tetapi “sangat bodoh”. Apa artinya akherat ? Apa sudah ada penelitian tentang adanya akherat ? Dimana akherat itu berada ? Kapan orang pergi ke akherat ? Siapa saja yang pernah ke akherat ? Berapa lama orang berada di akherat ? Apakah ada kostum (seragam) tertentu kalau kita ingin berkunjung ke akherat ? Apakah perlu kita mengurus passport atau visa sebelum berangkat ke akherat ? Apa alat transportasi menuju akherat ? Berapa ongkosnya menuju kesana PP (pergi pulang) ? Atau cukup hanya one-way tidak perlu kembali lagi ? Siapa presiden atau penguasa di akherat ? Apa kegiatan mahluk-mahluk yang ada di akherat ? Berapa jam waktu beraktifitas disana, dan berapa jam waktu tidur orang di akherat ? Apakah orang” di akherat itu bekerja atau hanya jalan” disana ?
    Karena si penulis telah memakai kata “AKHERAT”, maka jika benar si penulis ini (Kadek Sonia) betul” seorang berpendidikan dan paham teori ilmiah, tolong dengan sangat berikan saya jawaban atas pertanyaan” saya tersebut. Saya menunggu jawaban ilmiah anda di forum ini. Salam hormat.

  34. Btw setau saya he / she digunakan ny bebas yg mana aja kalo gatau jenis kelamin ny, tp emang dominan pke he *cmiiw
    klo yg nama ny cinta mah, org bali org sunda org jawa org papua ga ngaruh, semua suku punya adat msing”, ga cm org bali, ad bener ny jg tulisan diatas . Ga semua laki” mengekang istri ny, ada jg yg takut sma istri ny, klo anda dpt suami yg suka ngekang dan nganggap kyk pembantu sih ya itu arti ny anda kurang beruntung, ad jg laki” yg mw bantu kewajiban istri ny kyk mebanten atw menyamabraya , lagian menyamabraya itu buat apa sih? Itu buat diri sendiri jg, ntar mati yg bantu nguburin/atw ngabenin siapa klo buka nyame” dan tetangga” skalian? Klo lg susah kepepet duit pinjem jg sma nyame, anak” dititipin jg sma nyame klo ortu lg sibuk, so gaada salah ny sih yg nama nya menyamebraya. krna kita ikut suami jelas kita yg hrus blajar menyamebraya dsana, msak iya suami udh kenal dsruh ajang akrab”an lg? Ntahlah, mw prihatin sma tulisan yg mana, pd dehidrasi nih, kurang air mineral hahahaaha

  35. Kebahagiaan itu subyektif,artikel dan tanggapan artikel sama2 berhasil menarik semua orang tertarik membacanya.apakah kedua tulisan itu benar?bergantung dari sisi mana kita melihatnya.karena kebenaran itu juga subyektif.tidak perlu menghujat kalau kedua tulisan itu dijadikan otokritik dalam kehidupan kita.sebenarnya letak kebahagian dalam keluarga itu bukan ditentukan oleh faktor bali ataupun non bali, tapi terletak bagaimana seorang suami memposisikan istrinya.juga tidak terletak pada hindu ataupun non hindu tapi lebih bagaimana pembagian peran antara suami dan istri itu berjalan seimbang.semoga kita bisa menjadi orang indonesia yang berbeda agama,,bukan orang yang berbeda agama yang tinggal di indonesia,sehingga nasioanlisme kita gampang luntur,rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air gampang tergerus oleh perbedaan keyakinan.biarlah perbedaan keyakinan kita terjadi tanpa melupakan bahwa kita satu berbangsa dan bertanah air satu,,,indonesia.

  36. Jadi orang mbok jangan gitu mbak sonia. Masing” punya cara ataupun adat, biarkan mereka hidup dengan cara mereka, demikian juga saya dengan cara saya.
    Yang penting sebagai mahluk ciptaanNya kita saling menghormati satu dengan yang lain, jangan memaksakan kehendak sendiri.
    Di dalam ajaran agama yang saya anut, saya tidak diijinkan menghakimi karena penghakiman itu milik Tuhan.
    GBU.

  37. Judul
    “Warning:Jangan Menikahi Pria Bali Jika Inging Kebebasan Dunia Akherat!”
    itu judul yg ditulis Pak Gusti Putra kan…bukan Ibu Sonia?

    judul
    “Kemerdekaan ala perempuan Bali:Keterikatan Abadi”…
    itu judul tulisan yg ditulis Bu Sonia, sesuai paragraf pertama yg ditulis P Gusti di atas.

    Sy infokan tsb,sbb sepertinya byk yg mengira judul “warning…” adalah judul yg digunakan B Sonia..supaya ga salah aja sih hehe…ga ada maksud lain…reply ya kalau saya salah… 🙂

    Yuk semuanya berpikirlah jernih dalam menanggapinya,supaya jadinya tidak seperti lagi bermusuhan..damai selalu

    1. Jangan membuat seolah-olah pembaca lain bodo ah…. sebab sama aja artinya merasa paling pinter. Begitu buka artikel ini juga orang langsung bisa lihat di paragraf pertama tertulis:

      “Begitulah, kurang-lebih, warning yang disampaikan oleh Kadek Sonia Piscayanti melalui sebuah tulisan blog berjudul “Kemerdekaan ala Perempuan Bali: Keterikatan Abadi”—mungkin dalam rangka ikut euphoria HUT Kemerdekaan RI ke-71 kemarin.”

      Barangkali Mbak Ida dan pembaca lain nggak tahu, ‘warning’ artinya peringataan. Seperti tercantum dalam paragraf terakhir artikelnya Mbak Sonia (lihat yg huruf kapital):

      “Jika sudah bisa menjawab, sudah bisa berpikir adil, bijaksana dan strategis, berarti anda sudah siap menjadi perempuan Bali. Jika belum, mungkin masih ada waktu untuk mempertimbangkan, apakah mau masuk ke keterikatan abadi ini, atau melepasnya, atau tidak memilihnya sama sekali. Bagi yang sudah terlanjur memilih, PADAHAL SUDAH SAYA PERINGATKAN, atau sudah tahu konsekuensinya, anggap saja keterikatan ini adalah kemerdekaan. Anggap saja. Silakan. “

      1. terima kasih sudah reply Mbak Dewi, maaf, kalau jadi salah sangka dan anda mengatakan saya seperti paling pinter 🙁 .. (sedih banget bacanya)
        cuman di beberapa komentar, saya pribadi berpikir kalau ada yang menyoalkan judul yang dipakai Bapak Gusti, seakan itu judul yang dipakai Bu Sonia, itu saja sih, karena ada yang komentar judulnya terlalu menyudutkan pria Bali, padahal di judulnya Bu Sonia tidak ada kata pria Bali, walaupun kata-kata “peringatan” memang muncul di paragraf akhir blog Bu Sonia. btw, makasih banget atas opini anda dan semoga ga salah paham.

  38. Salam sejahtera semua…

    Penulis atau Pengarang sebuah Buku/Artikel/Majalah dll, semuanya berdasarkan suatu referensi untuk mendukung dan menguatkan hasil pemikirannya yang kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan yang tujuannya adalah agar dibaca oleh banyak orang sehingga pesannya itu tersampaikan. Begitupun dengan tulisan yang ditulis oleh Ibu Sonia, dia menulis berdasarkan referensi dari curhatan/cerita orang lain yang kemudian dia tuangkan dalam bentuk tulisan. Untuk menilai tulisan Ibu Sonia ini, sebaiknya membaca artikel yang ditulis langsung oleh penulis sehingga secara bijak dan objective menilai apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Penulis. Karena dengan membaca tulisan aslinya itu berarti kita juga membaca langsung pikiran penulis tersebut. Disini saya melihat terjadi pro dan kotra pemahaman dari hasil rangkuman tulisan dari Gusti Patra ( sesuai dengan judul diatas ” Opini ditulis oleh:”) yang juga adalah pembaca artikel dari Ibu Sonia. Jadi yang dibahas adalah hasil pemikiran/opini dari penulis blog ini atas apa yang dia baca. Semoga dapat dimengerti…Terima Kasih.

  39. Cukup lama bertahan untuk tidak turut berkomentar. Tapi hari ini saya memutuskan berkomentar dari sudut pandang lelaki bali yang netral. Bahwa budaya patriarki memang benar adanya.

    Sebuah gambaran yang dekat saja, istri saya harus bangun pagi. Jam 6 pagi bahkan lebih pagi. Mengurus anak, memandikan anak, menyuapi anak, menidurkan anak. Belum lagi mengurus banten untuk rumah setiap hari. Belum bersih rumah, makan, dll. Sementara saya, tidak serepot itu. Bangun jam 8 pagi, seringkali jam 10 pagi. Baru bangun sudah sarapan, lantas minum kopi, siap kerja. Beres. Belum lagi kalau ada odalan di rumah, dadia, sanggah, sudah pasti lebih sibuk. Seringkali saya sedih lihat kondisi istri. Maka saya memutuskan berusaha menyenangkannya. Caranya, tidak membuat dia sedih, minimal membuat dia tersenyum.

    Cerita lainnya, yang benar terjadi dan nyata saya temukan. Seorang kawan perempuan, dua bersaudara, semuanya perempuan, saat ini begitu terbebani. Ibunya meninggal, sehingga otomatis dia harus menggantikan peran ibu di keluarga juga di banjar. Ngayah banjar terutama. Suatu ketika dia menangis, karena jadi bahan pergunjingan di banjar, karena tidak andal ngayah, terutama buat banten. Jengah, dia belajar membuat banten. Bisa buat banten, masalah belum selesai. Kembali digunjingkan, alasannya tidak bisa masak. Jengah, dia belajar masak. Belum selesai, kembali dia digunjingkan soal keluarganya. Karena dia dan saudaranya perempuan, dia dituntut cari purusha. Nyentana istilahnya. Namun sampai kini, dia belum dapat sentana. Kalau pun sudah dapat sentana, anak lelaki pasti jadi dambaan, biar bisa melanjutkan trah. Pergunjingan itu yang membuat sangat berat, dan sakit hati menahun. Terjadi sampai kini.

    Demikian fakta yang terjadi di mata saya. Tidak terjadi di semua keluarga, tapi kejadian itu memang ada dan nyata. Saya hanya berusaha memandangnya secara netral.

  40. Sebenarnya gak ada yang salah dengan artikel Kadek Sonia Piscayanti..apa pasal?! Karena bagi saya dengan lingkungan sosial bermasyarakat yang kental dan sudah mengalami “masa orientasi absurd” itu sangat ada benarnya. Dalam hal ini bukan karena pria Balinya..tapi karena ada sebagian lingkungan yang punya iklim begitu..jadi kalo kita ngomong “wanita itu tulang rusuk lelaki” yes we are! But we’re also backbone for our family..atau dalam bahasa koreanya..kami juga tulang punggung cinnn..Bukan karena emansipasi tapi lebih akan kesadaran rasa memiliki tanggung jawab bersama! Kalo bisa dua kenapa harus 1?! Menyesal?! Tidak juga! Karena tergantung kita menyikapi..kalo yang rada lebay mungkin ini momok ya nikah sama pria Bali.tapi yang woles ya hajar blehh..cos Divas don’t do drama, we do business!

    Realita itu memang pahit..Tapi memang begitu adanya..dan memang nyata adanya..sebenernya isi dari tulisan Mbk Sonia itu biasa-biasa kok..tapi ditanggapi dengan begitu luar biasa..

    Suksma

  41. Bli Gusti… hahahahahaha…… ups… maaf ketawa dulu….
    Artikel yg bli bahas ini sudah saya baca minggu lalu.. dishare oleh temen di FB. Selese baca waktu itu langsung saya berpikir: Terus bagusnya aku nikah sama pria mana? Langsung kebayang OB di kantor yang kebetulan satu-satunya cowo non-Bali yang masih lajang. Ada sih cowo non-bali yg staf tapi sudah berkeluarga… masa saya dipoligami.. hahahaha…. Duuhhh langsung geli ngebayanginnya.. Makanya aku langsug ketawa tadi.

    Pengen komentar di artikel itu tapi ah males ah…. soalnya saya nangkep ada energy negatif… menjelek2an pasangan bali banget… risih aja sih… lagian nggak masuk akal juga. Makanya males deh. Selama ini kan popbali paling rajin ya ngebela kalau ada yg mendiskreditkan bali, hindu dan budaya bali. dalam hati saya ngarep semoga bli gusti tulis tandingannya…. dan bener… hehe…

    makasih bli…. pikiranku sudah terwakili semua. semangat terus ya bli. tetap counter kampanye negative ttg bali…. astungkara ISWW bersama bli dan pop bali.

  42. maksud penulis mungkin baik. tapi jangan membuat artikel dengan judul seolah olah apa yang di tulis itu sudah kebenaran itu sangat mutlak, ( secara umum) Bali itu memang kecil di bandingkan dengan pulau lain di Indonesia.tapi itu kan tidak semuanya seperti itu. dan penulis sudah memastikan kalau menikah dengan pria orang bali itu akan menjadi tertekan atau terbebani. pada prinsipnya dengan siapa aja kalau sudah berumah tangga pasti ada masalah atau problem . Dan kurang elok juga si penulis sudah menyombongkan dirinya dengan ilmu atau profesi yang di pegang saat ini. bagi saya, apa pun ilmu anda S1 atau S16 pun saya tidak heran, tapi kalau sudah kurang baik di pandang secara umum ya beginilah jadinya di tanggapin secara beragam oleh publik.
    bahkan anda (penulis) secara tidak langsung menyarankan perempuan bali mencari pria non Bali atau non Hindu, karena orang bali asli kebanyakan Hindu. seperti nya bagi saya judulnya kurang elok.

  43. Hemm,, bisa mnta blog/link tsb,, saya penasaran,, entah penulis yg sok atau netizen yang salah, dri ulasan diatas klo emng bgtu kata” nya, itu namanya bu sonia sok tempe,, bilang tata cara jurnalistik,, tp apa tulisan anda itu sudah jurnalistik,,

  44. YG PUNYA Opini INI KEMUNGKINan Dalam.keadaan sakit….GILA..GOBLOK…. .saran Saya opinimu is just good for your self .not really good to others.sesengkak nak BALI . sikut pada Aba. Sikut awake sing cocok anggone sik sikut saya ne …Bu Sonia nikah nya sama orang non Bali ya ?

  45. Judul nya ngeri banget

    Yg ada dlm benak saya sekilas aja baca judul nya terbayang betapa ngeri nya.

    Padahal yg namanya rumah tangga, baik buruknya ya kita sendiri yg bikin, mau bahagia atau sengsara ya balik lagi ke yg menjalani nya.

    Saran saya ; kalau belum siap menikah, jangan lah buru buru menikah, mau dengan laki laki bali ataupun non bali. Krn pernikahan itu sakral, bukan main main.

    Kalau masih ingin kebebasan ya melajang aja sampai Bener Bener siap utk menjalani kehidupan rumah tangga. Jangan nanti setelah menikah timbul penyesalan, banyak mengeluh (tidak bebas lah, tidak bisa begini lah, begitu lah dll).

    Karena hidup berumah tangga itu tidak sebebas waktu kita masih lajang. Semua ada aturan nya, apalagi udah jadi istri dan ibu, semua yg kita lakukan harus seijin suami. (dalam islam).

  46. Untuk sebuah artikel yg dibuat oleh seorang berpendidikan ini terlihat lebih dari sekedar minus. Penulis yg baik bukan hanya mengungkapkan kegundahan yg dialami tapi juga memberi solusi dan menyemangati. Kebahagiaan dunia akhirat seorang istri dalam pernikahan tidak sekedar dipengaruhi dr ras apa suaminya. Jika tulisan ibu memang valid maka seharusnya perceraian di bali akan menjadi paling tinggi dari daerah lain. Tapi pada kenyataannya kan tidak begitu. Keinginan untuk mencapai cita2? Setelah menikah itu masih menjadi hal yg mungkin kok. Keterikatan adat? Adat dibali tidak sekaku itu kok. Jika ibu hanya sekedar ingin mencari POPULARITAS, ini bukan cara yg tepat. Sebagai seorang akademisi, carilah popularitas dengan cara yg lbh keren. Artikel ini hanya membuat ibu terlihat seperti penulis kacangan yg hasil tulisannya ga lebih baik dr pembungkus kacang. Murahan. Atau, jika ibu ingin curhat tentang ketidak bahagiaan ibu dalam pernikaha, akui saja dengan gamblang bahwa itu adalah keluhan ibu bukan fakta yang ditemui di masyarakat. Terimakasih

  47. Comment apa ya, kyaknya dh diatas level rata2 smua comment nya, bahkan WOWW,,,meski ada yg emosi kyak kebakaran jenggot, judulnya juga sie, ora diplintir gtu, saya jg kaget liat pertama kalinya…tp apapun itu, terlepas dari pro dan kontra, saya kira mmg tak elok memukul rata semuanya karena pengalaman pribadi beberapa glintir org….apalagi ada bumbu wanti2 segala….smua kembali pd masalah pilihan, ttg mmilih apapun, pasti ada resikonya….baik atau buruk, ya jalani, tk kuat, ya tinggalkan….dimana bumi dipijak disanalah langit dijunjung, dan kalau percaya karma, smua crita hidup sudah ada sblum qta lahir…nasib baik ataupun buruk tak jatuh begitu saja dari langit, ada riwayatnya, tk mesti menikahi pria bali bakal sengsara pun tk ada jaminan nikmat gemah ripah lohjinawi dgn menikahi pria dari etnis lain…

  48. Beehh…pasti gak pernah dapat jatah biologis nih..Kadek Sonia Piscayanti,makanya uring”an,stres,,
    Intinya ini orang gak demen tuyuh..
    Untuk menutupi kekeliruannya,ya ini-itu di jadikan penyebabnya..
    Meju dumun,di tukade sambilang mem basange bu,Kadek Sonia Piscayanti,pang tis basange ken polo ne…!!

  49. Salam hangat saudaraku semua

    Om Swastyastu
    menurut saya sebaiknya kita menghormati setiap perbedaan
    orang bali mempunyai adat budaya yang harus kita pahami secara mendalam(bukan dari sibuknya saja)
    di desa kami masalah ayah ayahan kalau memang ada warga yang bertugas jauh atau tinggal di kota mereka dapat membeli(mayah) ayahan kita sebut nyame pengampel
    jadi dasar kita bergotong royong dan ayah ayahan di pura adalah kembali berdasarkan keikhlasan
    kalaupun ada beberapa wanita bali yang merasa “terkungkung dengan tradisi” itu kembali kepada management keluarga. Mungkin keluarga di tempat si wanita ini menikah belum mampu memanegement waktu dengan baik..
    Upacara tidak menuntut harus besar besaran(Beliau Maha Sempurna). disesuaikan dengan kemampuan.
    Baik si suami maupun si istri harus saling bahu membahu menyelesaikan tugas di keluarga setiap harinya.Saling menghargai. Nah kalaupun ada beberapa wanita mengalami masalah di keluarga saran saya adalah: adanya sharing comunity yang simultan(contoh kegiatan PKK yang diselipi wejangan narasumber yang mampu memberikan solusi efektif).
    intinya NO PROBLEM ONLY SOLUTIONS.Tidak ada keluarga yang sempurna. Semua mempunyai masalah, agama apapun, malah yang tak bergama juga.
    Happy wife happy life..
    Di kitab suci kita disebutkan”Dimana wanita dihormati maka disanalah Para Dewa akan menganugrahkan berkahnya”..
    Om Santih Santih Santih Om

  50. Artikel di atas sepertinya ditulis oleh orang yang putus asa, sehingga tidak perlu mendapat perhatian kecuali bagi mereka yang suka ngerumpi, saya mengamati dari memposisikan perempuan Bali tidak baik menikah dengan pria Bali itu ITU PERNYATAAN YANG MENGANDUNG MISIONARIS dimana adat dan pria Bali dianggap tidak baik, saya setuju jika ada kritik tentang perempuan Bali harus menjadi bagian sekunder dalam keluarga dan itu seharusnya tidak terjati. Paternalisme dan maternalism seharusnya sejalan di tempat yang satu dan tempat lainnya di Bali, tetapi Bali cendrung mengikuti sistim paternalism atau purusa daripada predana, namun jika kita sering membaca kitab suci perempuan itu dilindungi oleh kaum laki laki, bikan untuk di nomor duakan. Saya melihat artikel di atas justru yang paling masalah buat saya adalah ketika artikel di atas mengilustrasikan Pri non Bali konotasi konsepnya berada dalam menyalahkan pria dan adat Bali. Jadi saya curiga pada penulis jangan jangan penulis adalah misionaris salah satu agama

  51. jgn diambil psing..sang pnlis mngkin sdah cpek dan lelah…klo anda sdh taq lg brumhtangga dgn pria bali…
    simple aj nlai anda sang pnulis..mngkin anda wnita ssah brsosial alias MALAS…dan mslah upcra/keagaaman..smua ynk bragama psti sbk mlkukan prsembahyangn..dan prtnyaan saya..apkah anda tidak beragama?? klo iya..brrti sngt pntas anda beragumin2 sprti itu..( mau bebas)

  52. saya tertarik jg mengomentari tulisan bu sonia yang cukup saya kenal samgat aktif sdh ssejak sekolah sampai sekarang. sejujurnya saya jg tidak sependapat dgn mbak sonia jika opininya terlalu sepihak menyatakan seolah-olah menikah dengan pria bali hindu adalah sebuah penderitaan karena gara-gara tuntutan kewajiban melaksanakan adat dan agama menyebabkan wanita bali terpasung kebebasannya. mungkin lebih bijak kalau mbak sonia membuat opini yang lebih memotivasi wanita bali dalam melaksanakan kewajibannya sebagai wanita bali hindu, bukannya memprovokasi wanita bali hindu utk menjauhi pria bali hindu. maaf mbak sedikit tanggapan saya terhadap tulisan nya.

  53. Pertama saya membaca tulisan anda seperti memprovokasi perempuan Bali dan non Bali, kaloupun anda menulis karena hasil survei atau wawancara dg beberapa perempuan yang kebetulan menghadapi masalah seperti tulisan anda tentu anda sudah terlalu berlebihan memberikan judul tulisan anda,Warning: Jangan Menikahi Pria Bali Jika Ingin Kebebasan Dunia Akherat!
    Judul ini terkesan anda mau merusak tatanan adat dan budaya bali,anda inggin tenar dengan mengorbankan Pria yang justru anda nikahi adalah Pria Bali,??? Saya inggin bertanya Kebebasan yang seperti apa yg dimaksud dalam tulisan anda Kebebasan dunia akherat,??? Saya commend prihal tulisan anda bukan saya benci dengan pribadi anda tpi ; justru faktanya anda menikahi Pri Bali bertolak belakang dengan tulisan anda,,,jangan mencari sesuap nasi dengan menjual martabatMu dan mengorbankan jasa para tetua dan leluhurMu, Bukankah IbuMu menikahi Pria Bali..?Anda seharusnya bangga menjadi bagian dari perempuan Bali yang menikahi Pria Bali mengapa ?? Karena hanya di Bali perempuan dan Pria Bali ketika sdh kembali ke tempat asal dengan rangkaian upacara adat,ngaben ,meligia dll ditempatkan dalam pelinggih pemujaan yang dipuja oleh generasinya turun temurun,..tanpa memandang asal usulnya dri non Bali atau perempuan Bali..inilah kebahagian Akherat !!!
    Pada kesempatan ini saya minta anda meminta maaf atas tulisan anda jika tidak saya akan melakukan upaya hukum,..

    1. Jeg juk be ne kene2, pencemaran nama baik, merendahkan etnis tertentu, pasti be sonia maan bimbingan bibib risik care angel ledga ajak aroma irame, makane pesuk tulisan dueg dueg tp belog.

  54. Sonia ga jelas, dibandingkan wanita bali wanita luar itu lebih basah. Gimana mau disayang suami, di kasur pegang hp, curhat2an di kantin anda upload ke world wide web, ga mikir ga olah pikir, banyak wanita yang menderita begitu jg banyak yang bahagia, semua proses alam semesta standar dan biasa aja koq, ga usah lebay, sy punya 5 mantan non bali, sebagian besar bilang cowo bali itu lembut dan mengayomi, dan tentunya hhmmmm….. cewe bali mah kalah, tp sy tetep pilih nak bali luh sonia.. ci ajum cg ajum masih, tanah cg liu, kost cang liu, umur 29 cg be dadi ketua d kantor, cg sing nombok dadi pns, krane cg mule dueg, cg maan di kedokteran brawijaya, tp cg masuk ikatan dinas, kaden nyi gen bise ajum, harusne aget nyi maan nak bali, ngelah tanah, maan umah api di desa, dbanding ajak dauh tukad, kanti joh2 ke bali ngalih gae. Ckckckckckck.. twg cg nyi dosen tombokan, aget be matua/bapan nyi dadi pejabat dtu, makane bise jeleme belog ajum care nyai dadi dosen.. mekuah nyi ngorin pembaca mace karya nyi? Yen mule luung nyi ngae karya, be nyi maan nobel jani, bedude mase garude.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



OR



Note: Your password will be generated automatically and sent to your email address.

Forgot Your Password?

Enter your email address and we'll send you a link you can use to pick a new password.

log in

Become a part of our community!
Don't have an account?
sign up

reset password

Back to
log in

sign up

Join PopBali Community
or

Back to
log in

Choose post type

List Poll Quiz